Sebelum melapor, aku menghapus folder TUGAS_KULIAH_SEM2.
Aku memilih semua foto, tiga catatan, dan draf pengakuan. Sistem bertanya apakah aku yakin. Aku menekan ya.
Selama beberapa detik aku merasa lega. Kemudian rasa kehilangan datang, tidak ma**k akal tetapi nyata. Aku tidak kehilangan Elang. Aku hanya kehilangan arsip tentang versi diriku yang selama berbulan-bulan bersembunyi.
Sasa duduk di sampingku. “Menghapus bukan berarti kamu mengaku salah.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu juga tidak harus menghapus karena orang lain mempermalukanmu.”
“Aku tidak tahu lagi apakah folder itu menenangkan atau membuatku terjebak.”
Aku meninggalkan grup presentasi hari itu. Bu Maya mengizinkan karena bagian tugasku sudah selesai, tetapi Bagas menulis bahwa tindakanku merugikan nilai kelompok. Aku tidak membalas.
Elang mengirim beberapa pesan, semuanya pendek dan tidak menuntut.
Elang: Aku sudah menerima izin hadir sebagai saksi.
Elang: Kalau kamu berubah pikiran, aku akan mundur.
Elang: Log unduhan ada di menu Aktivitas > Riwayat Perangkat.
Aku tidak menjawab. Bukan karena marah padanya, melainkan karena setiap pesan membuatku ingin bergantung lagi. Aku takut kedekatan kami hanya lahir dari rasa kasihan setelah rahasiaku terlihat.
Di kampus, aku melihat Elang dari kejauhan. Ia berhenti seolah ingin mendekat, lalu memilih tidak. Keputusan itu menyakitkan dan sekaligus membuktikan ia menghormati jarak yang kubuat.
Malamnya, aku membuka menu log yang ia kirim. Unduhan pukul 21.47 menggunakan akun Bagas, perangkat Windows yang terdaftar di ruang kelompok. Setelah itu, file dibuka melalui aplikasi editor video pada 21.52. Unggahan akun gosip muncul pukul 22.10.
Urutannya terlalu rapi untuk kebetulan.
Aku menyimpan screenshot log ke folder baru bernama BUKTI. Nama yang jujur, tidak disamarkan.
Sasa menatap layar. “Kamu tidak perlu membuka isi folder lama untuk membuktikan ini.”
“Benar.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat garis pemisah yang selama ini kabur: apa yang kurasakan terhadap Elang adalah urusanku. Bagaimana Bagas mengambil dan menyebarkan rekaman adalah tindakannya.
Keesokan paginya, aku mengirim laporan resmi kepada Bu Maya. Aku menyertakan kronologi dan log, tetapi tidak isi folder.
Kemudian aku membalas pesan Elang.
Keira: Terima kasih untuk lokasi log. Saya sudah mengirim laporan.
Elang: Baik.
Keira: Kenapa Kak Elang tidak datang kemarin?
Elang: Karena kamu tidak menjawab, dan diam bukan izin.
Aku menutup mata. Kalimat itu membuatku ingin menangis lebih daripada semua rumor.
Keira: Saya butuh waktu.
Elang: Ambil sebanyak yang kamu perlukan. Aku tidak akan pergi karena kamu tidak segera memaafkan dunia.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!