Bu Maya memanggilku ke ruang etik digital dua hari kemudian.
Ruang itu kecil, hanya meja oval dan monitor besar. Hana hadir sebagai saksi. Bagas duduk di ujung lain dengan wajah tegang. Elang belum ma**k karena aku meminta proses awal dilakukan tanpa dirinya.
Bagas mengakui mengunggah rekaman mentah, tetapi menyangkal mengirim potongan kepada akun gosip.
“Unduhan pukul 21.47 menggunakan akunmu,” kataku.
“Akun kelompok bisa dipakai siapa saja.”
“Perangkatnya terdaftar atas laptopmu.”
“Bisa saja otomatis.”
Aku membuka data berikutnya. “File dibuka di editor video lima menit setelah diunduh. Sinkronisasi otomatis tidak memotong empat detik lalu memberi teks.”
Bagas mulai menyalahkan tekanan nilai. Ia berkata ingin membuat teaser menarik untuk promosi presentasi kelompok. Menurutnya, nama folder terlihat lucu dan ia tidak menyangka akan berkembang.
“Lalu kenapa dikirim ke akun gosip?” tanya Bu Maya.
Bagas diam.
Hana akhirnya bicara. Ia melihat Bagas tertawa ketika memperbesar thumbnail dan mengatakan konten itu akan menaikkan perhatian pada presentasi mereka.
Aku merasakan kemarahan, tetapi tidak lagi malu. Bagas tidak mengetahui isi folder. Ia hanya melihat peluang untuk membuat cerita.
Bu Maya menawarkan proses etik tertutup penuh. “Keira tidak diwajibkan menunjukkan isi folder. Yang diperiksa adalah izin p****aman, akses file, dan penyebaran.”
Bagas keberatan. “Kalau ternyata isinya memang foto-foto Elang, berarti rumor ada dasarnya.”
Aku menatapnya. “Dasar untuk apa? Saya menyimpan foto publik di perangkat pribadi. Itu tidak memberi siapa pun hak menyebarkan layar saya.”
Suasana menjadi hening.
Setelah sesi awal, aku mengizinkan Elang ma**k sebagai saksi. Ia menjelaskan insiden laptop tanpa menambahkan det**l perasaan. Ia menegaskan tidak pernah membuka folder dan tidak merasa diikuti.
Bagas mencoba bertanya apakah kami memiliki hubungan. Bu Maya menghentikannya. “Tidak relevan dengan akses rekaman.”
Untuk pertama kalinya, institusi tidak memintaku menjelaskan diri agar dipercaya.
Di lorong, Elang berdiri beberapa langkah dariku. “Boleh aku mendekat?”
“Belum.”
Ia mengangguk. “Baik.”
Tidak ada kekecewaan yang dipaksakan menjadi rasa bersalah. Ia hanya berdiri di tempatnya.
Bu Maya memberi tahu rekomendasi magang dapat dipulihkan setelah keputusan sementara keluar. Bagas dinonaktifkan dari akses cloud dan diminta menyerahkan perangkat untuk audit.
Sebelum pulang, aku membuka ponsel. Aku tidak lagi memiliki folder rahasia untuk dituju. Anehnya, aku tidak merasa kosong.
Aku mengirim pesan kepada Elang.
Keira: Besok saya ingin bicara. Bukan tentang ka**s.
Elang: Di mana?
Keira: Kafe Sudut Kampus.
Elang: Aku akan datang. Tanpa laptop.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!