Aku datang ke kafe membawa ponsel, tetapi tidak langsung mengeluarkannya.
Keira duduk di meja dekat jendela. Ia terlihat lebih lelah daripada ketika kami pertama kali berbicara di tempat ini, tetapi juga lebih tegak.
“Aku ingin jujur sebelum proses selesai,” kataku. “Bukan untuk membenarkan apa pun.”
Keira mengangguk.
Aku membuka foto dirinya di podium dan meletakkan ponsel di meja, c**up dekat untuk dilihat tanpa harus diambil.
“Ini satu-satunya foto kamu yang kusimpan pribadi.”
Keira memandangnya lama. “Kenapa belum dihapus setelah semua ini?”
“Karena aku menyukainya. Tapi aku akan hapus kalau kamu meminta.”
Ia mengusap ujung meja. “Saya marah pada diri sendiri karena menghapus semua foto.”
“Kamu melakukannya saat tertekan.”
“Saya merasa kalau folder hilang, rasa malu juga hilang.”
“Berhasil?”
“Tidak.”
Aku menahan keinginan meraih tangannya. “Rasa malu itu bukan bukti kamu salah.”
Keira menatapku. “Kak Elang tidak merasa terganggu bahwa saya menyimpan tiga puluh tujuh foto?”
“Aku akan terganggu kalau foto itu diambil di ruang pribadi, dipakai untuk mengawasi, atau disebarkan. Tapi kamu mengatakan semuanya berasal dari kegiatan publik. Jumlahnya mungkin mengejutkan, tapi bukan kejahatan.”
Ia tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak rumor muncul. “Mengejutkan?”
“Sedikit.”
“Terima kasih sudah jujur.”
Aku menggeser ponsel lebih dekat. “Kamu ingin aku hapus foto ini?”
Keira menatap gambar dirinya sendiri lagi. Lalu ia menggeleng. “Jangan hapus. Tapi lain kali, bilang.”
“Aku janji.”
Aku hampir mengatakan aku merindukannya, tetapi kalimat itu bisa menjadi tekanan. Sebaliknya aku berkata, “Aku masih ingin mengenalmu. Setelah proses selesai. Tanpa proyek mentor.”
“Kalau saya bilang belum siap?”
“Aku menunggu atau menerima tidak. Itu pilihanmu.”
Keira mengangguk. “Saya belum siap kembali seperti sebelumnya.”
“Aku juga tidak ingin kembali seperti sebelumnya. Terlalu banyak yang disembunyikan.”
Kami duduk dalam diam yang tidak lagi canggung. Keira bercerita bahwa ia menghapus folder, tetapi menyimpan laporan dan bukti dengan nama file yang jujur. Aku bercerita tentang tuduhan lama yang membuatku menjaga jarak dari junior.
Ketika kami keluar, aku bertanya apakah ia ingin ditemani sampai halte. Ia menjawab ya.
Aku tidak memegang tangannya. Kami berjalan berdampingan dengan jarak kecil yang ia pilih sendiri.
Malamnya, pesannya ma**k tepat pukul 00.21.
Keira: Foto saya masih ada?
Elang: Masih. Dengan izin.
Keira: Baik.
Elang: Kenapa bertanya?
Keira: Karena kali ini rasanya berbeda ketika tahu seseorang menyimpan foto saya dan saya diberi pilihan.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!