Sidang etik terakhir berlangsung pukul satu siang.
Aku membawa laporan cetak, log unduhan, bukti waktu unggahan, dan surat dari admin cloud. Aku tidak membawa isi folder karena Bu Maya sudah menegaskan tidak relevan.
Bagas datang bersama perwakilan kelompok. Ia tampak lebih tenang, tetapi masih mencoba menggeser pembicaraan.
“Kalau folder itu memang berisi foto Elang, publik berhak tahu apakah kekhawatiran mereka benar,” katanya.
Aku menatapnya. Dulu kalimat itu akan membuatku menunduk. Kali ini tidak.
“Publik tidak memiliki hak atas perangkat pribadi saya,” jawabku. “Foto yang saya simpan berasal dari kegiatan publik. Saya tidak mengikuti Elang, tidak mengambil foto ruang pribadi, tidak mengakses akunnya, dan tidak menyebarkan apa pun. Isi catatan saya bukan syarat untuk membuktikan bahwa rekaman disalin tanpa izin.”
Bagas menyela, tetapi Bu Maya menghentikan.
Aku melanjutkan dengan kronologi: laptop dipinjam untuk presentasi dengan izin terbatas; screen recording dibuat untuk evaluasi kelompok; rekaman mentah diunggah tanpa pengecekan; akun Bagas mengunduh pukul 21.47; aplikasi editor membuka file; potongan muncul di akun gosip kurang dari dua puluh menit kemudian.
Hana mengonfirmasi ia melihat Bagas memperbesar thumbnail. Admin cloud memastikan tidak ada unduhan lain sebelum unggahan gosip.
Elang hadir setelah aku mengizinkan. Ia berkata, “Keira tidak pernah mengikuti atau mengganggu saya. Saya melihat folder saat laptop dipinjam, tetapi tidak membukanya. Apa pun isi folder, penyebaran layar tanpa izin tetap salah.”
Ia tidak menyebut bahwa kami saling menyukai. Ia tidak mengubah sidang menjadi kisah romantis.
Bagas akhirnya mengakui mengirim potongan kepada akun gosip. Ia berdalih hanya ingin memancing perhatian untuk proyek kelompok dan tidak memperkirakan dampaknya.
Bu Maya menjelaskan konsekuensi: pencabutan akses komunitas, kewajiban permintaan maaf resmi, pelatihan privasi digital, dan proses disiplin kampus. Rekomendasi magangku dipulihkan.
Ketika keluar ruangan, ponselku penuh notifikasi. Akun gosip menghapus unggahan dan menerbitkan koreksi. Aku tidak merasa menang. Aku hanya merasa kembali memiliki nama sendiri.
Di tangga, Elang berdiri menunggu.
“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Kamu luar biasa di dalam tadi.”
“Aku hanya menjelaskan data.”
“Kamu juga menjelaskan batas.”
Aku menatapnya. “Aku bukan penguntitmu.”
“Aku tahu.”
“Dan saya tidak membutuhkan perasaan Kak Elang untuk membuat tindakan Bagas salah.”
“Aku tahu itu juga.”
Untuk pertama kalinya, aku memercayai bahwa ia benar-benar memahami.
Aku melangkah satu anak tangga lebih dekat. “Prosesnya selesai.”
“Elang masih mentor sampai presentasi final minggu depan,” katanya.
Aku tersenyum tipis. “Kak Elang selalu terlalu hati-hati.”
“Mungkin.”
“Tapi kali ini saya bersyukur.”
Kami berpisah tanpa sentuhan. Namun malam itu aku tidak membuka percakapan karena cemas. Aku membukanya karena ingin.
Keira: Setelah presentasi final, boleh kita bertemu tanpa membahas folder atau laporan?
Elang: Boleh. Aku sudah menunggu pertanyaan itu.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!