Folder Rahasia Bernama Tugas Kuliah

Bab 2: Bab 2: Tiga Puluh Tujuh Foto

Pengaturan Membaca

Dalam enam hari, tujuh foto berubah menjadi tiga puluh tujuh.

Aku tidak mengambil satu pun secara diam-diam. Semuanya berasal dari unggahan kegiatan, album resmi kampus, atau dokumentasi kelompok. Aku bahkan memeriksa sumbernya dua kali sebelum menyimpan. Namun fakta bahwa semuanya legal tidak membuat folder itu terasa kurang memalukan.

Sasa hampir memergokiku pada pagi ketujuh.

“Kenapa layar langsung ditutup waktu aku ma**k?” tanyanya sambil meletakkan dua gelas kopi instan di meja.

“Ada tugas.”

“Semua orang punya tugas. Hanya kamu yang memperlakukan tugas seperti dokumen rahasia negara.”

Aku memindahkan laptop ke pangkuan. “Belum rapi.”

Sasa duduk di ranjang dan menatapku dengan senyum yang terlalu mengetahui. Ia tahu aku menyukai Elang. Yang tidak ia tahu adalah tiga catatan pendek dan satu draf pengakuan yang tersimpan di antara foto-foto itu.

Catatan pertama berisi hal-hal kecil yang kusukai: caranya merapikan jam tangan sebelum berbicara, kebiasaannya memindahkan kursi agar lorong tidak terhalang, dan suara rendah yang berubah lebih lembut ketika seseorang panik.

Catatan kedua adalah daftar alasan mengapa aku tidak boleh berharap. Ia senior. Aku mahasiswa semester dua. Ia sebentar lagi lulus. Aku bahkan sering menghapus pesan sebelum mengirim.

Catatan ketiga hanya satu kalimat: Mungkin aku tidak menyukai Elang yang sebenarnya. Mungkin aku hanya menyukai versi dirinya yang kubangun dari kejauhan.

Draf pengakuan belum pernah selesai.

Siang itu, kelompok kami latihan di perpustakaan. Elang datang terlambat dengan rambut sedikit basah karena hujan. Ia meletakkan kopi di samping laptopku.

“Tanpa gula,” katanya.

Aku menatap gelas itu. “Kok tahu?”

“Kamu selalu meninggalkan sachet gula utuh di meja rapat.”

Jawaban sederhana itu membuatku lupa membalas. Ia memperhatikan hal sekecil itu.

Bagas membuka presentasi dan mulai membagi tugas. Ketika Elang berdiri di belakang kursiku untuk melihat susunan slide, aku merasakan kehadirannya terlalu jelas. Bukan sentuhan. Hanya aroma sabun, suara napas, dan bayangan tangannya di meja.

Sepulang latihan, aku membuka folder TUGAS_KULIAH_SEM2 lagi. Aku menambah foto Elang saat membungkuk di atas meja kami. Foto itu diambil Hana untuk laporan kelompok, jadi tetap foto publik.

Aku tahu kebiasaan ini mulai menjadi tempat pelarian. Ketika lelah, aku melihat folder. Ketika cemas, aku membaca catatan. Rasanya menenangkan sekaligus membuatku bersalah.

Pukul 00.21, pesan pribadi ma**k.

Elang: Bagian pembuka yang kamu buat bagus. Jangan terlalu banyak mengubahnya hanya karena Bagas bicara paling keras.

Aku mengetik terima kasih, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Sebelum kukirim, pesan kedua muncul.

Elang: Kamu selalu menghapus jawaban sebelum mengirim?

Jari-jariku berhenti di atas keyboard. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan terlalu banyak.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca