Kami bertemu di Kafe Sudut Kampus setelah presentasi final. Tidak ada laptop, map laporan, atau anggota kelompok. Elang sudah tidak lagi menjadi mentor proyekku.
Untuk pertama kalinya, kami hanya dua orang dewasa yang memilih duduk di meja yang sama.
“Aku takut kedekatan kita cuma lahir karena krisis,” kataku.
Elang mengangguk. “Aku juga.”
“Kalau tidak ada folder, mungkin kita tidak akan bicara.”
“Mungkin. Tapi yang menentukan bukan bagaimana percakapan dimulai. Yang menentukan adalah apa yang kita pilih setelah tahu satu sama lain.”
Aku memutar gelas. “Saya masih malu kalau mengingat tiga puluh tujuh foto.”
“Boleh aku jujur?”
“Boleh.”
“Jumlahnya memang membuatku sedikit terkejut.”
Aku menutup wajah dengan satu tangan. Elang tertawa pelan, bukan mengejek.
“Tapi aku tidak menganggapmu buruk,” lanjutnya. “Aku justru ingin tahu kenapa foto-foto itu membuatmu merasa aman.”
Aku menjelaskan bahwa Elang dalam foto selalu tenang, selalu tampak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika aku cemas, melihatnya membuat dunia terasa lebih teratur. Aku tidak menceritakan det**l fantasi. Ia tidak meminta.
“Masalahnya,” kataku, “saya mungkin menjadikan Kak Elang simbol, bukan manusia.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya tahu Kak Elang takut lulus terlambat, suka kopi pahit, dan terlalu banyak berpikir sebelum menawarkan payung.”
Ia tersenyum. “Kemajuan.”
Elang bercerita bahwa ia menyukaiku sejak melihatku di podium, tetapi menjaga jarak karena takut posisinya sebagai senior terasa menekan. Ia mengaku kadang menggunakan kehati-hatian untuk menghindari risiko ditolak.
“Jadi Kak Elang juga bersembunyi,” kataku.
“Dengan cara yang lebih terhormat di permukaan, tetapi tetap bersembunyi.”
Kejujuran itu membuat dadaku hangat.
Kami membicarakan batas. Aku tidak ingin hubungan kami menjadi materi kampus. Elang setuju tidak mengunggah foto atau status tanpa persetujuan. Ia tidak ingin aku merasa harus menjelaskan dunia batinku. Aku setuju akan bicara ketika tidak nyaman, bukan menghilang tanpa pesan.
Ketika kafe hampir tutup, Elang bertanya, “Boleh aku duduk lebih dekat?”
Aku menatap kursi kosong di antara kami. Pertanyaan itu sederhana, tetapi seluruh perjalanan kami seolah berada di dalamnya.
“Boleh.”
Ia memindahkan kursi, menyisakan jarak kecil. Bahu kami belum bersentuhan.
“Begini?” tanyanya.
“Sedikit lagi.”
Elang bergerak sampai lengan kami menyentuh ringan. Tidak ada ledakan dramatis. Hanya kehangatan yang nyata, pilihan yang dapat kuhentikan kapan saja.
Aku tidak menghentikannya.
Saat keluar kafe, ia menawarkan tangan tetapi tidak langsung mengambil tanganku. Telapak tangannya terbuka di antara kami.
Aku menatapnya beberapa detik, lalu meletakkan tanganku di sana.
Untuk pertama kalinya, kedekatan tidak tinggal di folder, layar, atau fantasi.
Ia berada di tanganku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!