Tiga minggu setelah sidang etik, protokol privasi presentasi disahkan oleh komunitas. Rekomendasi magangku aktif kembali. Bagas menjalani sanksi dan mengirim permintaan maaf yang tidak menghapus semuanya, tetapi setidaknya mengakui tindakannya.
Aku juga membuat folder baru.
Bukan TUGAS_KULIAH_SEM2. Bukan nama samaran. Folder itu masih kosong ketika aku bertemu Elang di tangga gedung komunikasi setelah acara penutupan semester.
Ia datang tanpa lanyard mentor, hanya mengenakan kemeja gelap dan membawa kamera kecil.
“Kamu membawa kamera,” kataku.
“Dengan izin untuk tidak digunakan kalau kamu berubah pikiran.”
Aku tersenyum. “Aku yang ingin mengambil foto.”
Kami memasang ponsel di atas tripod kecil dan mengatur timer. Elang berdiri di sampingku, tetapi tidak menyentuh sebelum bertanya.
“Boleh merangkul bahumu?”
“Boleh.”
Lengannya berada di belakang bahuku dengan ringan. Aku bisa mundur kapan saja. Aku justru bergerak sedikit lebih dekat.
Timer berbunyi. Foto pertama terlalu kaku. Foto kedua menangkapku sedang tertawa karena Elang salah melihat kamera. Foto ketiga sederhana: kami berdiri berdampingan dan saling menatap, bukan lensa.
Aku memilih foto ketiga.
“Di mana disimpan?” tanya Elang.
Aku membuka folder baru dan menunjukkan namanya: KITA.
“Kali ini tidak disamarkan,” kataku.
Elang menatap layar, lalu kepadaku. “Kamu yakin?”
“Yakin. Foldernya pribadi. Tidak otomatis tersinkron. Dan isinya dipilih bersama.”
Ia tertawa kecil. “Protokol lengkap.”
“Aku belajar dari pengalaman.”
Kami duduk di tangga, bahu bersentuhan. Kampus masih ramai, tetapi tidak ada yang memperhatikan kami. Bahkan kalau ada, aku tidak lagi merasa setiap tatapan berhak menentukan cerita.
Elang mengeluarkan ponsel dan membuka foto podiumku. “Aku masih menyimpan ini.”
“Dengan izin.”
“Dengan izin.”
Aku melihat versi diriku yang dulu: takut, tetapi tetap berdiri. Aku tidak lagi merasa malu padanya.
“Elang,” panggilku.
“Ya?”
“Aku siap.”
Ia tidak berpura-pura tidak mengerti. “Boleh aku mencium kamu?”
“Boleh.”
Elang mendekat perlahan, memberi waktu untuk mundur. Aku tetap di tempat. Ciumannya hangat dan singkat, bukan seperti adegan berlebihan yang pernah kubayangkan. Justru karena sederhana, rasanya nyata. Tidak ada rahasia yang harus ditebak, tidak ada layar yang hampir terbuka, dan tidak ada rasa takut bahwa pilihanku diambil orang lain.
Ketika kami menjauh, Elang menyentuhkan dahinya ke dahiku setelah aku mengangguk.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Lebih baik daripada foto.”
“Syukurlah.”
Aku tertawa, lalu mengambil ponsel. Foto kami masih terbuka. Aku menambahkan satu catatan kecil di bawahnya: Diambil dengan persetujuan. Disimpan karena dipilih bersama.
Sebelum menutup laptop malam itu, aku membuka folder KITA sekali lagi. Hanya ada satu foto. Tidak ada catatan rahasia, tidak ada draf pengakuan, dan tidak ada nama file yang membosankan.
Folder lama kuberi nama tugas kuliah agar tidak ada yang curiga.
Folder baru kuberi nama sebenarnya karena untuk pertama kalinya aku tidak sedang bersembunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!