Presentasi kelompok kami hampir gagal tiga menit sebelum dimulai.
Laptop Bagas mendadak tidak membaca proyektor. File cadangan di flash drive rusak. Dosen sudah ma**k, kelompok lain menunggu, dan Bagas terus menekan tombol yang sama seolah kepanikan bisa memperbaiki perangkat.
“Ada file final di laptop Keira,” kata Hana.
Semua kepala menoleh kepadaku.
Laptopku berada di tas. Bersama file final, tiga puluh tujuh foto Elang, tiga catatan, dan satu pengakuan yang belum selesai.
“Aku bisa kirim lewat ponsel,” kataku terlalu cepat.
“Jaringan kelas jelek,” jawab Bagas. “Pakai laptopmu saja.”
Tanganku dingin ketika membuka perangkat. Aku menutup semua jendela, memeriksa desktop, lalu menyerahkannya kepada Elang karena ia yang paling paham pengaturan proyektor.
“Boleh?” tanyanya, tangannya menunggu di udara sampai aku mengangguk.
Ia tidak langsung mengambil. Pertanyaan kecil itu seharusnya menenangkanku. Justru membuat rasa malu semakin tajam karena ia memperlakukan batas dengan baik sementara aku menyimpan puluhan fotonya.
Elang duduk di depan meja operator. Aku berdiri di sampingnya, berusaha terlihat normal ketika jari-jarinya bergerak di touchpad.
“File final di mana?”
“Folder Presentasi.”
Ia membuka File Explorer.
Daftar Recent Files muncul.
Aku melihatnya lebih dulu: TUGAS_KULIAH_SEM2. Di samping nama folder terdapat thumbnail foto Elang berkemeja biru.
Napas tertahan di tenggorokanku.
Kursor bergerak mendekat.
“Elang,” panggilku.
Ia berhenti.
Bukan hanya kursor yang berhenti. Seluruh wajahnya seperti menahan pertanyaan. Matanya berpindah dari layar kepadaku, lalu kembali ke thumbnail yang menampilkan dirinya sendiri.
“Yang ini?” tanyanya pelan.
“Bukan.” Suaraku pecah. “Bukan folder itu.”
Kepanikan membuatku ingin merebut laptop, tetapi tubuhku kaku. Di belakang kami, Bagas menyuruh cepat. Proyektor masih menampilkan layar biru, jadi hanya aku dan Elang yang melihat daftar itu dengan jelas.
Elang tidak mengklik. Ia menggeser kursor ke folder Presentasi, membuka file yang benar, lalu menyambungkan proyektor.
Presentasi dimulai. Aku berdiri di depan kelas dan membaca kalimat pembuka yang sudah kuhafal, tetapi pikiranku tertinggal pada tangan Elang di touchpad.
Setelah kelas selesai, anggota kelompok keluar satu per satu. Aku mengemas kabel dengan gerakan tergesa. Elang menutup laptop dan menyerahkannya kepadaku.
“Aku tidak membuka folder itu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu tidak terlihat seperti tahu.”
Aku memeluk laptop ke dada. “Namanya memang tugas kuliah.”
Elang menatapku beberapa detik. Ia tidak tersenyum, tidak mengejek, dan tidak mendesak. Itu lebih buruk karena tatapannya terasa terlalu tenang.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau suatu hari kamu ingin menjelaskan, aku akan mendengar. Kalau tidak, itu juga hakmu.”
Aku mengangguk tanpa berani menatapnya.
Saat berjalan keluar ruangan, notifikasi dari Elang ma**k.
Elang: File presentasinya sudah aman.
Lalu satu pesan lagi.
Elang: Rahasiamu juga.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!