Folder Rahasia Bernama Tugas Kuliah

Bab 4: Bab 4: Jangan Klik Folder Itu

Pengaturan Membaca

Aku tahu folder itu berkaitan denganku sejak melihat thumbnail wajahku sendiri.

Tidak ada alasan lain bagi Keira untuk berubah pucat ketika kursor mendekat. Namun mengetahui hal itu tidak memberiku hak untuk membuka apa pun. Laptop itu miliknya. Kepanikan di wajahnya sudah c**up jelas sebagai jawaban atas pertanyaan izin.

Aku mengirim file presentasi dan mengembalikan laptop secepat mungkin. Setelah itu, aku berdiri di belakang kelas sambil memperhatikan Keira berbicara di depan proyektor. Suaranya sempat goyah pada kalimat pertama, lalu stabil ketika ia mulai menjelaskan data.

Orang-orang mengira Keira pendiam karena tidak memiliki banyak hal untuk dikatakan. Menurutku ia hanya tidak suka membuang kata.

Aku sudah menyadari tatapannya sejak orientasi. Setiap kali aku menoleh, ia berpura-pura melihat layar atau mencatat sesuatu. Awalnya kukira ia takut kepadaku. Kemudian aku sadar tatapannya berbeda: penasaran, cepat, lalu buru-buru disembunyikan.

Aku tidak pernah mendekat karena tidak ingin seorang junior merasa tertekan oleh perhatian senior. Pengalaman lama membuatku terlalu berhati-hati. Satu komentar ambigu dariku pernah dipelintir menjadi cerita bahwa aku mempermainkan mahasiswa baru. Sejak itu, menjaga jarak terasa lebih aman.

Namun jarak juga dapat menyakiti.

Setelah presentasi, Keira memeluk laptop seperti seseorang baru saja mencoba mengambil sesuatu dari dadanya. Aku ingin meyakinkannya bahwa tidak ada yang perlu dijelaskan. Kalimatku terdengar formal bahkan di telingaku sendiri.

Dalam perjalanan pulang, Rio menelepon.

“Bagaimana kelompok barumu?”

“Berantakan, tapi bisa diperbaiki.”

“Mahasiswa yang kamu perhatikan itu ada di sana?”

Aku berhenti di tangga gedung. “Aku tidak memperhatikan siapa pun.”

Rio tertawa. “Kamu menyimpan foto seseorang di ponsel, lalu bilang tidak memperhatikan.”

Foto Keira di podium tersimpan dari album resmi orientasi. Ia berdiri dengan kedua tangan mencengkeram mikrofon, tetapi matanya tetap menghadap audiens. Aku menyimpannya karena ada keberanian yang belum ia sadari dalam foto itu.

“Aku tidak menggunakannya untuk mendekat,” kataku.

“Itu bukan jawaban.”

Aku menutup telepon setelah berjanji mengirim revisi desain.

Malamnya aku membuka percakapan dengan Keira. Aku mengetik pertanyaan tentang folder, lalu menghapusnya. Mengetik permintaan maaf, menghapus lagi. Pada akhirnya aku hanya mengirim bahwa file presentasi aman dan rahasianya juga.

Balasan datang lima menit kemudian.

Keira: Terima kasih karena tidak mengklik.

Aku menjawab dengan jujur.

Elang: Kamu tidak perlu berterima kasih untuk batas yang memang seharusnya dihormati.

Titik tiga muncul, hilang, lalu muncul lagi. Tidak ada pesan lanjutan.

Aku memandangi layar sampai gelap. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku juga tahu rasa ingin tahu tidak sama dengan izin.

Namun satu hal menjadi sulit kuabaikan: ketika wajahku muncul di Recent Files miliknya, aku tidak merasa takut.

Aku merasa berharap.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca