Keira menghindariku selama tiga hari.
Ia datang paling awal ke latihan dan pulang sebelum semua orang selesai. Kalau aku mendekati mejanya, ia langsung membuka percakapan dengan Hana atau memeriksa slide yang sebenarnya sudah benar. Pesan-pesannya berubah formal, diakhiri titik, dan selalu dikirim sebelum pukul sepuluh malam.
Aku membiarkannya memiliki ruang, tetapi bukan berarti aku berhenti memperhatikan.
Pada latihan berikutnya, Bagas menyalahkan Keira karena perubahan desain yang ia sendiri minta sehari sebelumnya. Keira tidak membela diri. Ia hanya membuka riwayat revisi dan menunjuk waktu permintaan Bagas.
“Versi ini dibuat sesuai chat pukul 18.32,” katanya tenang.
Bagas diam.
Aku menahan senyum. Keira mungkin pendiam, tetapi ia tidak lemah.
Setelah latihan, hujan turun deras. Kami menunggu di depan gedung. Keira berdiri beberapa meter dariku sambil memeluk tas. Aku ingin menawarkan payung, tetapi takut dianggap memanfaatkan kecanggungannya.
Rio muncul dan menyikut lenganku. “Kalau kamu terus berpikir selama itu, hujannya keburu berhenti.”
Aku akhirnya mendekati Keira. “Aku punya payung besar. Kamu boleh ikut sampai halte. Boleh juga menolak.”
Ia menatapku, seolah bagian terakhir kalimat itu penting. “Boleh.”
Kami berjalan dengan jarak yang terlalu terukur. Keira menjaga tas di antara kami, sementara aku memiringkan payung agar bahunya tidak terkena air.
“Aku benar-benar tidak melihat isi folder,” kataku.
“Aku percaya.”
“Tapi kamu tetap menghindar.”
Ia menatap jalan basah. “Aku sedang malu pada diriku sendiri.”
Aku ingin bertanya mengapa, tetapi menahan diri. “Malu tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.”
Keira mengembuskan napas pelan. “Kak Elang selalu bicara seperti orang yang sudah menyiapkan tiga versi jawaban.”
“Biasanya lima.”
Ia tertawa kecil. Itu pertama kalinya aku mendengarnya tertawa karena ucapanku.
Di halte, ia memanggil ojek. Sebelum pergi, ia berkata, “Terima kasih sudah tidak membuat kejadian itu lebih buruk.”
“Keira.”
Ia menoleh.
“Aku sudah menyadari tatapanmu sebelum insiden laptop.”
Wajahnya langsung berubah merah.
Aku buru-buru melanjutkan. “Aku tidak pernah menganggapnya izin untuk apa pun. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa folder itu bukan alasan aku mulai memperhatikanmu.”
Motor pesanannya tiba sebelum ia sempat menjawab.
Malam itu, aku mengganti nama kontaknya. Sebelumnya tertulis Keira - Kelompok 4. Aku menghapus keterangan itu, menyisakan namanya saja.
Pukul 00.21, pesan ma**k.
Keira: Sejak kapan Kak Elang sadar?
Aku menatap pertanyaan itu lama sebelum menjawab.
Elang: Sejak kamu berpura-pura memotret poster, padahal kameramu mengarah kepadaku.
Titik tiga muncul hampir satu menit.
Keira: Saya ingin menghilang.
Elang: Jangan. Aku justru senang kamu tetap tinggal.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!