Percakapan kami mulai selalu berubah pada pukul 00.21.
Sebelum jam itu, pesan Elang berisi revisi slide, ukuran font, atau jadwal latihan. Setelahnya, kalimat-kalimatnya menjadi lebih pelan, seolah tidak lagi ditulis oleh senior yang berdiri di depan kelas.
Malam pertama setelah hujan, kami membicarakan alasan aku memilih Ilmu Komunikasi. Aku mengaku sebenarnya takut berbicara di depan banyak orang. Elang menjawab bahwa keberanian bukan tidak takut, melainkan tetap menyelesaikan kalimat meski suara gemetar.
Malam kedua, ia bertanya mengapa aku selalu memakai warna biru tua untuk slide.
Keira: Karena aman.
Elang: Kamu terlalu sering memilih aman.
Keira: Kak Elang juga.
Lama sekali tidak ada balasan.
Elang: Benar.
Aku membaca satu kata itu berulang kali.
Kami tidak pernah membicarakan folder secara langsung. Namun keberadaannya seperti benda di tengah meja yang sama-sama kami lihat tanpa disentuh. Aku semakin yakin Elang tahu lebih banyak daripada yang ia katakan, tetapi ia tidak pernah memakai pengetahuan itu untuk menggodaku.
Pada latihan berikutnya, ia duduk di kursi sebelahku. Jarak kami wajar. Tetap saja, setiap kali tangannya bergerak menuju touchpad, tubuhku menegang.
Elang berhenti. “Boleh aku geser bagian ini?”
Aku mengangguk.
Ia menunggu sampai aku memindahkan tangan sebelum menyentuh laptop. Gerakannya sederhana, tetapi perhatian pada izin membuat dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya memalukan.
“Bagian pembuka sudah lebih kuat,” katanya.
“Karena revisi Kak Elang.”
“Karena kamu berhenti menghapus kalimat terbaikmu.”
Aku menoleh. “Maksudnya?”
“Kamu sering menulis sesuatu, lalu mengganti dengan versi yang lebih aman.”
Aku tidak tahu apakah ia sedang membicarakan slide atau pesan tengah malam.
Sasa menungguku di kos dengan ekspresi ingin tahu. “Kalian chat sampai jam berapa tadi malam?”
“Kamu mengintip?”
“Layar ponselmu terang seperti lampu mercusuar.”
Aku berbaring dan membuka laptop. Folder TUGAS_KULIAH_SEM2 masih ada. Aku menambah satu catatan baru: Ia selalu bertanya sebelum menyentuh barangku. Itu seharusnya biasa, tetapi rasanya tidak biasa karena aku terbiasa merasa harus menjaga semuanya sendiri.
Aku hampir membuka draf pengakuan, tetapi notifikasi muncul.
Elang: Sudah sampai kos?
Keira: Sudah.
Elang: Bagus.
Keira: Kak Elang belum tidur?
Elang: Sedang menunggu satu jawaban.
Keira: Jawaban apa?
Elang: Apakah kamu selalu menghapus pesan karena takut salah, atau karena takut aku membaca yang sebenarnya?
Aku menatap layar sampai cahaya laptop meredup.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menghapus jawaban.
Keira: Keduanya.
Balasan Elang datang cepat.
Elang: Aku tidak akan memaksa. Tapi suatu hari, aku ingin membaca versi yang tidak kamu sembunyikan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!