Elang membawa kopi tanpa gula lagi pada latihan Sabtu.
“Kak Elang tidak perlu terus membelikan,” kataku.
“Aku tidak merasa perlu.” Ia meletakkan gelas di depanku. “Aku ingin.”
Kalimat itu terlalu sederhana untuk membuatku kehilangan fokus, tetapi selama sepuluh menit berikutnya aku salah menempatkan tiga ikon dan menulis judul slide dua kali.
Kelompok kami berlatih di studio komunitas. Elang membimbing Bagas memperbaiki intonasi, sementara aku mengatur visual. Sesekali pandangan kami bertemu. Tidak ada yang istimewa, tetapi tatapan itu bertahan sedikit lebih lama daripada sebelumnya.
Sasa yang datang membawa kabel cadangan memperhatikannya.
“Dia juga suka kamu,” bisiknya ketika Elang keluar menerima telepon.
“Jangan membuat kesimpulan.”
“Aku tidak membuat kesimpulan. Aku melihat data.”
Aku memutar laptop agar Sasa tidak melihat layar. “Kamu terlalu banyak berteman denganku.”
Saat latihan selesai, Elang meminta aku tinggal untuk mengecek warna proyektor. Ruangan kosong setelah Bagas dan Hana pulang. Kami duduk dua kursi terpisah, tetapi keheningan membuat jarak terasa lebih dekat.
“Keira,” katanya, “kalau aku membuatmu tidak nyaman, bilang.”
Aku mengusap tepi gelas kopi. “Kenapa tiba-tiba?”
“Karena sejak insiden laptop, aku tidak tahu apakah kamu menghindar karena malu atau karena takut kepadaku.”
Aku ingin berkata tidak takut. Yang keluar justru, “Kadang saya takut Kak Elang tahu terlalu banyak.”
“Aku hanya tahu yang kamu tunjukkan.”
“Tatapan saya sudah c**up banyak.”
Elang tersenyum tipis. “Tatapan bukan persetujuan. Tapi tatapan bisa menjadi alasan untuk bertanya.”
Aku menelan ludah. “Lalu Kak Elang mau bertanya apa?”
Ia tampak mempertimbangkan jawabannya. “Belum sekarang.”
Kami menguji warna proyektor sampai sore. Ketika aku berdiri untuk menutup tirai, kakiku tersangkut kabel. Elang refleks mengulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh pinggangku.
“Boleh?” tanyanya.
Aku mengangguk. Tangannya hanya menahan siku sampai aku seimbang. Sentuhan itu singkat, hangat, dan sama sekali tidak seperti fantasi yang kubangun dalam folder. Justru karena nyata, ia terasa lebih kuat.
Di kos, aku membuka folder dan menyadari sesuatu yang membuatku gelisah: foto-foto itu tidak lagi c**up. Aku ingin mendengar komentar keringnya, melihat alisnya naik ketika tidak setuju, dan mengetahui mengapa ia selalu menunggu izin.
Sasa duduk di sampingku. “Keira, dia memperhatikan kamu. Pertanyaannya bukan lagi apakah.”
“Lalu apa?”
“Apakah kamu mau terus bersembunyi di balik folder.”
Pukul 00.21, pesan ma**k.
Elang: Kopinya cocok?
Keira: Cocok. Tapi saya tidak pernah memesannya.
Elang: Aku tahu.
Keira: Lalu kenapa dibelikan?
Elang: Karena aku ingin kamu punya satu hal yang tidak perlu kamu minta.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!