Aku membutuhkan foto profil baru untuk poster komunitas, tetapi sebenarnya aku bisa meminta siapa saja.
Aku meminta Keira karena ingin memberinya satu kesempatan memotretku dengan sadar, bukan dari kejauhan. Jika folder itu memang berisi fotoku, aku ingin ada setidaknya satu gambar yang dibuat dengan izin dan percakapan.
“Kamu bersedia?” tanyaku di studio.
Keira memegang kamera dengan kedua tangan. “Untuk poster?”
“Untuk poster. File resminya ma**k ke grup. Tidak ada kewajiban menyimpan pribadi.”
Ia memahami maksud yang tidak kuucapkan. Wajahnya memerah, tetapi ia mengangguk.
Sesi dimulai canggung. Keira memberi arahan terlalu formal: dagu sedikit ke kanan, bahu diturunkan, pandangan ke kamera. Aku mengikuti semuanya.
“Jangan terlalu tegang,” katanya.
“Aku sedang berusaha tidak membuat fotografer gugup.”
“Saya tidak gugup.”
Kamera di tangannya hampir turun. Aku menahan senyum.
Setelah beberapa pengambilan, Keira mulai lupa merasa malu. Ia bergerak mencari cahaya, meminta aku berdiri dekat jendela, lalu mengubah sudut kursi. Di balik kamera, ia lebih berani. Tatapannya tidak lagi lari ketika bertemu denganku melalui lensa.
“Coba jangan melihat kamera,” katanya.
“Lihat ke mana?”
“Ke saya.”
Aku melakukannya.
Jari Keira berhenti sepersekian detik sebelum menekan tombol. Suara rana terdengar dalam ruangan yang sepi.
Kami meninjau hasil bersama. Ada satu foto ketika aku tidak tersenyum, tetapi wajahku terlihat lebih lunak karena sedang memandang Keira. Aku menunjuknya.
“Yang ini.”
“Untuk poster terlalu personal,” katanya pelan.
“Kenapa?”
“Seperti…” Ia berhenti.
“Seperti cara kamu melihatku?”
Keira menatapku cepat. Aku mungkin seharusnya tidak mengatakan itu, tetapi aku tidak ingin terus berpura-pura tidak menyadari.
“Aku tidak akan meminta penjelasan,” lanjutku. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak keberatan dilihat seperti itu.”
Ia menarik napas. “Kak Elang membuat semua hal terdengar tenang.”
“Tidak semua hal di kepalaku tenang.”
Aku memilih foto lain untuk poster, yang lebih formal. Foto personal itu tetap berada di kamera Keira. Sebelum pergi, aku bertanya, “Boleh aku minta salinannya?”
“Yang mana?”
“Yang tadi.”
Keira ragu, lalu mengangguk. “Boleh.”
Ia mengirim melalui kanal kerja. Aku menyimpannya di folder portofolio, bukan folder tersembunyi. Namun malam itu, aku membukanya lagi.
Rio yang duduk di sebelahku melirik. “Kamu kelihatan berbeda di foto itu.”
“Berbeda bagaimana?”
“Seperti orang yang akhirnya berhenti menjaga jarak.”
Aku mematikan layar, tetapi kalimatnya tertinggal.
Pukul 00.21 aku mengirim pesan kepada Keira.
Elang: Terima kasih sudah memotretku seperti manusia, bukan senior.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Keira: Saya sedang belajar melihat Kak Elang sebagai keduanya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!