Perpustakaan lant** empat hampir kosong ketika kami menyelesaikan revisi terakhir. Hanya suara pendingin udara dan hujan di kaca.
Elang duduk di kursi sebelahku, bukan di seberang seperti biasanya. Jaraknya c**up sopan, tetapi lengan kami beberapa kali hampir bersentuhan ketika membuka catatan yang sama.
Aku lebih mudah bernapas ketika melihat layar daripada wajahnya.
“Bagian ini terlalu padat,” katanya.
“Aku bisa potong.”
Ia menoleh. “Kamu baru memanggil dirimu aku.”
Aku membeku. Selama ini aku memakai saya ketika berbicara dengannya.
“Tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa.” Suaranya menjadi lebih lembut. “Aku justru senang.”
Kami melanjutkan revisi, tetapi kesadaran tentang satu kata itu membuat keheningan berubah. Elang sesekali mengusap tepi laptop, kebiasaan yang kini kukenal sebagai tanda cemas.
“Kenapa Kak Elang gugup?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.
Ia tampak terkejut. “Aku terlihat gugup?”
“Sedikit.”
“Karena aku tidak ingin salah mendekat.”
Jantungku berdebar. “Mendekat dalam arti apa?”
Elang tidak langsung menjawab. Ia menutup dokumen, memberi layar hitam di antara kami.
“Keira, apa kamu takut kepadaku?”
Pertanyaan itu sama seperti yang ia kirim lewat pesan, tetapi langsung terdengar lebih berat.
“Tidak.”
“Takut aku tahu tentang folder?”
Aku menatap tanganku. “Ya.”
“Aku tidak tahu isinya.”
“Tapi Kak Elang tahu itu tentang Kak Elang.”
“Kemungkinan besar.”
Rasa malu naik ke wajahku. “Kedengarannya buruk.”
“Belum tentu.”
“Bagaimana kalau isinya membuat Kak Elang berpikir saya aneh?”
“Aku tidak berhak meminta isi ruang privatmu agar bisa menilai kamu.”
Kalimat itu membuatku menatapnya. Tidak ada rasa ingin mengejek di wajahnya. Hanya kehati-hatian yang hampir menyakitkan.
“Aku ingin mengenalmu,” lanjutnya. “Tapi hanya kalau kamu juga mau.”
Aku tidak sanggup menjawab dengan kalimat panjang. Jadi aku menggeser kursiku beberapa sentimeter lebih dekat.
Elang melihat gerakan itu, lalu tersenyum kecil tanpa menyentuhku.
Kami menyelesaikan revisi hingga perpustakaan mengumumkan waktu tutup. Di tangga, hujan belum reda. Elang membukakan payung dan kembali bertanya apakah aku bersedia berjalan bersamanya.
Di bawah payung, jarak bahu kami lebih dekat daripada di perpustakaan. Tidak ada sentuhan, tetapi aku bisa mendengar napasnya.
Sebelum berpisah, ia berkata, “Aku belum akan bertanya soal folder malam ini.”
“Lalu kapan?”
“Ketika kamu terlihat siap menjawab atau menolak.”
Pukul 00.21, aku membuka draf pengakuan. Untuk pertama kalinya, aku menambahkan satu kalimat tanpa menghapusnya.
Aku tidak lagi hanya ingin melihatnya. Aku ingin ia melihatku juga.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!