Bingkai Ketujuh: Yang Terhapus dari Ingatan

Bab 1: Bab 1 - Kembali ke kota dan merayakan selesainya KKN

Pengaturan Membaca

Deru mesin Isuzu Elf tua itu bergetar hingga ke tulang sumsumku, menciptakan irama monoton yang seolah berusaha meninabubukan kesadaranku. Di luar jendela, pepohonan jati yang menjulang tinggi di sepanjang jalan keluar dari Desa Sukma tampak seperti bayangan hitam yang melambai-lambai, seolah enggan melepaskan kami. Aku menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, merasakan tiap guncangan aspal yang tidak rata menghantam pelipisku.

"Ya, muka lo pucat banget. Mabuk darat?" Suara Bimo memecah lamunanku. Dia duduk di kursi sebelah, sibuk mengunyah keripik singkong dengan suara berisik yang biasanya akan membuatku menegurnya. Tapi kali ini, aku hanya punya energi untuk menggeleng lemah.

"Cuma capek, Bim. Rasanya kayak tenaga gue dikuras habis," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiriβ€”serak dan kering.

Aku melirik ke barisan kursi di belakang. Siska dan Maya sedang tertidur pulas dengan kepala saling bersandar. Rendy asyik dengan *headphone*-nya, sementara Gani menatap kosong ke arah jalanan dari jendela seberang. Enam orang. Aku menghitung mereka di dalam kepala, sebuah kebiasaan otomatis sebagai ketua kelompok. Aku, Bimo, Siska, Maya, Rendy, dan Gani. Benar, kami berenam. Logis. Sesuai dengan surat tugas dari kampus yang terlipat rapi di dalam ranselku.

Namun, ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatiku. Sebuah perasaan ganjil, seolah-olah ada sebuah lubang besar di dalam ingatanku yang berusaha aku tutup-tutupi.

"Eh, kalian ngerasa nggak sih?" Gani tiba-tiba bersuara, membuat Siska terjaga dan mengerjap-ngerjapkan mata. "Mobil ini rasanya... lowong banget?"

Bimo tertawa, butiran keripik jatuh ke bajunya. "Ya iyalah, barang-barang kita kan sudah banyak yang ditinggal buat kenang-kenangan di desa. Lagian kita cuma berenam, Gan. Kursi belakang bahkan kosong satu."

Gani mengernyit, tangannya mengusap tengkuk. "Bukan itu maksud gue. Kayak... biasanya kita harus dempet-dempetan. Sekarang rasanya ada ruang yang harusnya diisi, tapi nggak ada siapa-siapa di sana."

Aku terdiam. Perkataan Gani menghantam tepat di pusat kecemasanku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kabin Elf. Memang benar, ada satu kursi di barisan tengah, tepat di sebelah Rendy, yang kosong melongpong. Secara teknis, kami memang hanya berenam, tapi kenapa hatiku bersikeras bahwa kursi itu tidak seharusnya kosong?

"Mungkin lo cuma kangen suasana desa, Gan," sahut Siska sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Gue malah lega banget bisa pulang. Sumpah, Desa Sukma itu auranya nggak enak banget. Kalian ngerasa nggak, sih, warga di sana kayak selalu ngumpet-ngumpet kalau lihat kita?"

"Terutama Pak Danu," timpal Maya yang kini sudah sepenuhnya sadar. "Dia ramah, tapi matanya itu lho... kayak selalu menghitung kita tiap kali kita lewat depan rumahnya."

Aku mencoba mengabaikan percakapan mereka dan membuka ponselku. Aku mencari folder foto yang kami ambil selama satu bulan di sana. Jariku gemetar saat mengusap layar. Foto-foto kegiatan mengajar di SD, renovasi balai desa, sampai acara perpisahan semalam.

Di setiap foto, aku melihat wajah-wajah kami yang tertawa. Tapi ada yang aneh. Dalam foto grup di depan gapura desa, kami berenam berdiri berjejer, tapi komposisinya terasa miring. Seolah-olah ada ruang kosong di tengah-tengah kami yang membuat foto itu terlihat tidak seimbang secara estetika. Seharusnya ada seseorang di sana. Instingku sebagai orang yang perfeksionis dalam hal det**l berteriak bahwa ada sesuatu yang hilang dari bingkai itu.

"Ya? Arya!"

Aku tersentak. Bimo mengguncang bahuku. "Lo melamun lagi. Kita sudah sampai di rest area. Turun dulu, cuci muka. Lo kelihatan kayak mayat hidup."

Aku menurut. Saat turun dari mobil, hawa dingin kota mulai terasa, menggantikan udara lembap hutan Desa Sukma. Kakiku terasa berat, seakan-akan aku menyeret beban yang tak terlihat. Aku menuju toilet, memba**h wajahku berkali-kali dengan air dingin yang menusuk kulit.

Di depan cermin, aku menatap pantulan diriku sendiri. Lingkaran hitam di bawah mataku sangat jelas. Aku terlihat seperti orang yang tidak tidur selama berminggu-minggu. Aku mencoba mengingat kembali momen-momen penting di desa. Rapat koordinasi, makan malam bersama, hingga pembagian tugas harian. Semuanya ada dalam ingatanku, tapi terasa seperti menonton film yang beberapa adegannya telah dipotong secara kasar.

Aku merogoh saku jaketku dan menemukan sebuah benda kecil yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

Sebuah gantungan kunci kayu berbentuk ukiran burung hantu yang sederhana. Aku tidak ingat pernah membelinya. Aku tidak ingat pernah memilikinya. Tapi di balik gantungan itu, ada goresan nama kecil yang diukir dengan pisau saku: *R*.

Siapa R? Rendy? Tidak, Rendy tidak suka barang-barang seperti ini.

Aku kembali ke mobil dengan perasaan yang semakin kacau. Teman-temanku sudah duduk di posisi masing-masing, siap melanjutkan perjalanan sisa dua jam menuju kampus.

"Semua sudah lengkap?" tanyaku, suaraku bergetar.

"Lengkap, Bos," jawab Bimo mantap. "Siska, Maya, Rendy, Gani, gue, dan lo. Enam orang."

Aku mengangguk, namun mataku terpaku pada tas carrier milik Rendy di kursi belakang. Di samping tas itu, tergeletak sebuah jaket flanel berwarna biru tua yang tampak usang.

"Ren, itu jaket lo?" tanyaku sambil menunjuk benda itu.

Rendy menoleh, lalu mengernyitkan dahi. "Bukan. Gue nggak bawa flanel. Punya lo kali, Ya?"

Aku menggeleng. "Bukan punya gue. Bim? Gan?"

Semua menggeleng. Siska mengambil jaket itu, memeriksanya sebentar, lalu melemparkannya kembali ke kursi kosong itu dengan ekspresi bingung. "Mungkin ketinggalan dari penumpang sebelum kita?"

"Tapi kita sewa Elf ini khusus buat kelompok kita dari berangkat sampai pulang," sanggahku pelan. "Nggak ada orang lain yang ma**k ke sini."

Suasana di dalam mobil mendadak senyap. Rasa lelah yang tadinya hanya terasa seperti pegal biasa, kini berubah menjadi rasa dingin yang merayap di punggungku. Kami semua menatap jaket biru tua itu, yang tergeletak di atas kursi yang kami semua sepakati adalah kursi kosong.

Namun, di dalam kepalaku, sebuah suara sayup-sayup mulai muncul. Sebuah suara yang tertawa, suara yang berdiskusi denganku tentang program kerja, suara yang seharusnya milik seseorang yang mengenakan jaket itu.

Tepat saat itu, ponselku bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal dari daerah Desa Sukma muncul di layar. Aku mengangkatnya dengan ragu.

"Halo?"

"Mas Arya?" Suara berat dan serak itu langsung aku kenali. Pak Danu.

"Iya, Pak Danu. Ada apa? Ada barang kami yang tertinggal?" tanyaku, mencoba menenangkan debaran jantungku.

Hening sejenak di seberang sana. Aku bisa mendengar suara jangkrik yang sahut-menyahut, suara khas malam hari di Desa Sukma yang mencekam.

"Mas Arya sudah sampai mana?" tanya Pak Danu pelan.

"Hampir sampai kota, Pak. Kenapa?"

"Begini, Mas..." Pak Danu berdeham, suaranya terdengar ragu namun mendesak. "Tadi saya mampir ke pondokan kalian untuk bersih-bersih. Saya menemukan tas kecil di pojok kamar belakang. Isinya dompet dan kamera analog."

Aku mengernyit. "Kamera? Kami semua bawa kamera digital dan ponsel, Pak. Kamera siapa?"

"Itu dia masalahnya, Mas," suara Pak Danu merendah, hampir seperti bisikan. "Di dalam dompetnya ada kartu identitas. Saya cuma mau tanya, kapan temannya Mas Arya yang namanya Raka mau kembali ke sini buat ambil barangnya? Kasihan, kalau tidak ada dompet, nanti dia susah di jalan."

Duniaku serasa berputar. Kepalaku berdenyut hebat, seolah-olah ada sebuah dinding beton yang runtuh di dalam ingatanku.

"Raka?" ulangku dengan lidah yang kelu. "Pak... di kelompok kami tidak ada yang namanya Raka."

Di seberang telepon, Pak Danu terdiam c**up lama sebelum menjawab dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.

"Mas Arya jangan bercanda. Dia kan yang selalu duduk di sebelah Mas kalau kita makan malam."

Aku perlahan menoleh ke arah kursi kosong di samping Rendy. Jaket flanel biru itu masih ada di sana. Dan tiba-tiba, aku menyadari sesuatu yang membuatku mual: di daftar absensi yang aku pegang, ada bekas coretan tipis di urutan nomor tujuh, seolah-olah seseorang telah menghapus sebuah nama dengan sangat bersih, hingga aku hampir tidak menyadarinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca