Aroma kayu cendana yang tipis mengambang di udara kamar yang remang. Aku sengaja mematikan lampu utama, hanya menyisakan pendar redup dari lampu tidur di sudut meja. Di hadapanku, sebuah foto hasil cetak yang baru saja kami ambil dari studio tergeletak. Foto itu menampakkan kami berenam—tunggu, tidak—tujuh orang di depan balai desa Sukma. Sosok itu ada di sana lagi, berdiri di samping Arya dengan bahu yang bersentuhan, namun wajahnya seolah terhapus oleh kabut tipis yang tak ma**k akal.
"Tarik napas, Dina. Fokus," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau di telingaku sendiri.
Aku menyilangkan kaki di atas karpet, mengatur posisi duduk senyaman mungkin. Sejak pulang dari Desa Sukma, ada sesuatu yang terasa mengganjal di tengkukku, seperti sepotong duri ikan yang tersangkut di tenggorokan—tidak terlihat, tapi menyakitkan setiap kali aku mencoba menelan kenyataan. Arya bilang kita harus ingat. Pak Danu bilang Raka tertinggal. Tapi siapa Raka? Mengapa memori tentangnya seperti dihapus dengan penghapus kasar yang menyisakan luka di otakku?
Aku memejamkan mata.
Awalnya hanya kegelapan yang tenang. Aku mengikuti irama napas, membiarkan detak jantungku melambat. Aku mencoba memvisualisasikan kembali hari-hari kami di desa itu. Bau tanah basah setelah hujan, suara jangkrik yang m****akkan telinga di malam hari, dan rasa kopi pahit buatan warga desa. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong ingatanku, membuka pintu demi pintu kejadian selama sebulan penuh KKN.
*Pintu pertama: Kedatangan kami.* Kami turun dari minibus. Aku ingat menghirup udara pegunungan yang segar. Ada Arya, Gani, Maya, Rio, dan Citra. Kami tertawa... tapi ada jeda dalam tawa itu. Ada ruang kosong di antara aku dan Maya saat kami berjalan menuju posko. Seharusnya ada seseorang di sana.
Aku memaksakan diri ma**k lebih dalam. Kepalaku mulai berdenyut ringan. "Raka..." gumamku dalam hati. "Tunjukkan dirimu."
Tiba-tiba, suhu di kamarku seolah merosot tajam. Bulu kudukku berdiri tegak. Dalam pandangan batinku, pemandangan Desa Sukma berubah menjadi abu-abu, seperti film tua yang rusak. Aku melihat kami sedang berkumpul di sekitar api unggun pada malam terakhir. Suara tawa terdengar jauh dan terdistorsi, seperti kaset yang melambat.
Di sana, di seberang api yang berkobar, aku melihatnya.
Sesosok pemuda mengenakan jaket almamater yang sama dengan kami. Dia tidak lagi kabur. Rambutnya agak berantakan terkena angin malam. Dia sedang tertawa, menoleh ke arahku, dan memberikan potongan ubi bakar. Tangannya gemetar. Tunggu, kenapa dia gemetar?
Aku mencoba memfokuskan pandangan pada wajahnya. Fitur wajahnya mulai terbentuk—alis yang tebal, tahi lalat kecil di bawah mata kiri, dan senyum yang... penuh ketakutan.
*Dina, tolong...*
Suara itu bukan berasal dari telingaku. Suara itu bergema langsung di dalam tempurung kepalaku, dingin dan basah.
Tiba-tiba, pemandangan api unggun itu tersentak hebat. Sosok pemuda itu—Raka—tertarik ke belakang oleh sesuatu yang gelap di kegelapan hutan di belakang balai desa. Wajahnya yang tadinya tersenyum kini berubah menjadi topeng horor yang murni. Matanya membelalak lebar hingga bagian putihnya terlihat mendominasi, urat-urat di lehernya menonjol seolah dia sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan tarikan yang tak terlihat.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Bukan tawa yang keluar, melainkan teriakan tanpa suara yang menggetarkan seluruh jiwaku.
"RAKA!" teriakku dalam meditasiku, tapi aku tidak bisa bergerak. Aku terkunci dalam penglihatan itu.
Raka menjulurkan tangannya ke arahku. Jari-jarinya mencakar udara, mencoba menggapai apa saja. Aku melihat bibirnya bergerak dengan cepat, mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali di tengah jeritannya yang kini mulai terdengar seperti lengkingan logam yang bergesekan.
*JANGAN TINGGALKAN AKU! DINA, ARYA, TOLONG! MEREKA MEMBAWAKU!*
Lalu, bayangan hitam di belakangnya berubah menjadi tangan-tangan keriput yang tak terhitung jumlahnya. Tangan-tangan itu muncul dari balik pepohonan, dari bawah tanah, merayap naik ke tubuh Raka, membungkam mulutnya, dan menyeretnya ma**k ke dalam kegelapan yang pekat. Hal terakhir yang kulihat adalah sorot matanya yang penuh pengkhianatan—seolah-olah kami semua sengaja membiarkannya dibawa.
"TIDAK! JANGAN!"
Aku tersentak bangun. Mataku terbuka lebar, tapi yang kulihat bukan lagi kamarku yang tenang. Di sudut ruangan, di balik bayangan lampu tidur, aku melihat sosok itu. Raka berdiri di sana, basah kuyup oleh lumpur hitam, tubuhnya meliuk aneh seolah tulang-tulangnya telah dipatahkan. Wajahnya yang samar di foto kini terlihat jelas dalam kegelapan, hancur oleh tangisan.
Dia membuka mulutnya, dan kali ini suaranya pecah menjadi teriakan histeris yang nyata, m****akkan telinga, memenuhi setiap sudut kamar.
"KENAPA KALIAN LUPA?!"
"AAAAGGGHHH! PERGI! PERGI!" aku berteriak histeris, menyapu semua barang di atas mejaku hingga berjatuhan. Aku meringkuk di pojok tempat tidur, menutup telingaku rapat-rapat, namun suara teriakan itu tidak mau hilang. Rasanya seolah otakku sedang dicakar dari dalam.
Pintu kamarku terbanting terbuka. Cahaya dari lorong rumah kos merangsek ma**k.
"Dina! Dina, ada apa?!" Suara Arya terdengar panik. Dia berlari mendekat, mencoba memegang bahuku, tapi aku meronta.
"Dia di sana! Raka di sana!" teriakku sambil menunjuk ke sudut ruangan yang kini kosong. Napasmu memburu, paru-paruku terasa mengecil. "Dia berteriak, Arya! Dia minta tolong! Kita meninggalkannya... kita benar-benar meninggalkannya di sana!"
Arya memegang kedua pipiku, memaksaku menatap matanya yang juga menyiratkan ketakutan luar biasa. "Dina, tenang! Tidak ada siapa-siapa di sini."
Aku menggeleng kuat-kuat, air mata mengalir deras membasahi wajahku. Tubuhku menggigil hebat. "Dia bukan sekadar foto, Arya. Dia teman kita. Aku ingat sekarang... dia yang membawakan tas kerjaku saat kita mendaki ke air terjun. Dia yang selalu menjaga api unggun tetap menyala. Kenapa kita bisa lupa? Kenapa kita setega itu?!"
Suaraku hilang menjadi isak tangis yang menyesakkan. Arya terdiam, tangannya yang memegang bahuku perlahan ikut gemetar. Di ambang pintu, teman-teman yang lain—Maya, Gani, Rio, dan Citra—berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Aku juga mulai melihatnya, Din," bisik Maya dengan suara bergetar. Dia memegang ponselnya, memperlihatkan sebuah pesan singkat yang baru saja ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
Aku mendongak, berusaha mengatur napas yang tersengal. Arya mengambil ponsel itu dan membacanya keras-keras dengan suara yang nyaris hilang.
*"Satu orang untuk keselamatan desa. Satu janji untuk melupakan. Tapi utang nyawa tidak pernah punya tanggal kedaluwarsa."*
Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto. Bukan foto kami berenam atau bertujuh, melainkan foto sebuah lubang galian di tengah hutan Desa Sukma, dan di dalamnya, terdapat jaket almamater milik Raka yang berlumuran darah.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu. Kami tidak lagi hanya dihantui oleh ingatan yang hilang, tapi oleh kenyataan bahwa kami adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih jahat daripada sekadar lupa. Kami baru saja menyadari bahwa kami tidak pulang berenam karena keberuntungan, melainkan karena sebuah transaksi yang tidak pernah kami setujui.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!