Cengkeramanku pada roda kemudi begitu erat hingga buku-buku jariku memutih. Di sebelahku, Bima terus-menerus mengetukkan jemarinya pada dasbor, menciptakan ritme monoton yang beradu dengan suara deru mesin Toyota Avanza tua ini. Di kursi belakang, Sita hanya terdiam, tatapannya kosong menembus kaca jendela yang mulai berembun. Aroma pengharum mobil jeruk yang sudah apak bercampur dengan sisa bau rokok Bima, menciptakan atmosfer yang menyesakkan paru-paru.
"Kita masih bisa putar balik, Ya," gumam Sita pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin yang menerjang badan mobil. "Aku punya firasat buruk. Foto itu... nama Raka itu... mungkin sebaiknya kita biarkan saja."
Aku melirik spion tengah. Wajah Sita tampak pucat di bawah temaram lampu kabin yang redup. "Kita sudah bicarakan ini, Sit. Pak Danu meneleponku langsung. Dia menyebut nama Raka seolah-olah pria itu adalah bagian dari kita. Kalau kita tidak kembali sekarang, rasa penasaran ini akan membusuk di kepala kita masing-masing."
Bima mendengus, mencoba mencairkan ketegangan meski aku tahu dia sama takutnya. "Logika saja, Ya. Bagaimana mungkin kita berenam bisa melupakan satu orang? Satu orang yang makan bareng kita, tidur di posko yang sama, bahkan ada di setiap foto kenang-kenangan kita? Itu tidak ma**k akal."
"Justru karena tidak ma**k akal itulah kita harus ke sana, Bim," sahutku tegas, meski perutku sendiri terasa melilit karena cemas.
Mobil melaju mema**ki jalur provinsi yang semakin menyempit. Pohon-pohon jati raksasa di kiri dan kanan jalan seolah-olah merunduk, berusaha menggapai atap mobil kami. Cahaya lampu depan hanya mampu menembus kegelapan beberapa meter ke depan. Kegelapan di sini terasa berbeda; ia padat, pekat, dan seolah memiliki massa yang menekan.
Tiba-tiba, mesin mobil batuk. Sekali, dua kali, lalu suaranya berubah menjadi geraman kasar yang tidak wajar.
"Ya? Ada apa?" Bima menegakkan punggungnya.
"Aku tidak tahu, bensin masih setengah," jawabku sambil melirik indikator di panel instrumen. Namun, pemandangan di sana membuat jantungku mencelos. Jarum speedometer bergerak liar, berputar-putar seperti gasing, sementara lampu indikator mesin berkedip-kedip dengan warna merah darah yang mengintimidasi.
Radio mobil yang sedari tadi mati tiba-tiba menyala sendiri. Suara statis yang tajam menusuk telinga memenuhi kabin. *Srek... srek...* Di sela-sela suara bising itu, sebuah suara parau seolah mencoba memanggil, namun kata-katanya terputus-putus.
"Matikan, Ya! Matikan!" teriak Sita sambil menutup telinganya.
Aku menekan tombol *power* berkali-kali, tapi radio itu menolak mati. Suaranya justru semakin keras, berubah menjadi lengkingan tinggi yang membuat kepalaku berdenyut hebat. Dengan sekali sentakan kasar, aku mencabut kabel adaptor yang tersambung ke pemantik api, tapi anehnya, suara itu tetap meraung sebelum akhirnya lenyap secara tiba-tiba, menyisakan kesunyian yang lebih mengerikan.
"Lihat ke depan!" seru Bima.
Aku menginjak rem sekuat tenaga. Mobil berdecit hebat, ban-bannya bergesekan dengan aspal kasar hingga menimbulkan bau karet terbakar. Di depan kami, berdiri sebuah gapura batu lumutan yang sangat kukenal. Pintu ma**k Desa Sukma.
"Lho? Bukannya tadi kita sudah lewat sini sepuluh menit yang lalu?" suara Sita bergetar.
Aku mencoba menenangkan diri. "Mungkin kita salah lihat. Banyak gapura yang mirip di daerah sini."
Aku memutar kemudi, melewati gapura itu dan terus memacu mobil. Namun, setelah lima menit berkendara dengan kecepatan sedang, jantungku serasa berhenti berdetak. Di depan sana, cahaya lampu mobil menyinari objek yang sama: gapura batu lumutan dengan papan kayu yang menggantung miring bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Sukma'.
"Ini tidak mungkin," bisikku. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Pukul 23.15. Aku kembali memacu mobil, kali ini lebih cepat. Aku tidak peduli dengan lubang di jalanan. Aku hanya ingin keluar dari lingkaran ini.
Pepohonan di sisi jalan melesat cepat, tampak seperti bayangan hitam yang menari-nari mengejek kami. Namun, lima menit kemudian, seolah-olah ruang dan waktu telah dilipat, gapura itu kembali muncul di hadapan kami. Lengkap dengan coretan cat semprot merah di pilar kirinya yang baru kusadari sekarang.
"Kita berputar-putar!" Sita mulai terisak. "Ya, tolong, putar balik! Kita pulang saja!"
"Aku sudah mencoba putar balik tadi, Sit!" teriakku frustrasi. "Setiap kali aku mencoba berbalik, jalan ini selalu membawa kita kembali menghadap ke gapura ini!"
Bima meraih ponselnya, wajahnya tampak frustrasi di balik cahaya layar. "Tidak ada sinyal. Si****, benar-benar nol bar!"
Mobil kembali terbatuk, kali ini lebih parah. Asap putih mulai mengepul dari balik kap mesin. Aku tidak punya pilihan selain menepikan kendaraan tepat di bawah bayang-bayang gapura yang tampak seperti rahang raksasa yang siap menelan kami.
Aku turun dari mobil, hawa dingin yang tidak alami langsung menusuk hingga ke tulang. Bima menyusul dengan senter di tangan, cahayanya membelah kegelapan. Saat cahaya senter itu menyapu semak-semak di pinggir jalan, Bima mematung.
"Ya... lihat itu," bisiknya dengan suara tercekat.
Di balik semak, tepat di samping gapura, terdapat sebuah tas keril tua yang tampak usang dan kotor. Aku mendekat dengan kaki gemetar. Ada gantungan kunci kecil berbentuk kamera yang menggantung di ritsletingnyaβgantungan kunci yang sangat kukenal karena aku membelinya sebagai kenang-kenangan untuk seluruh anggota kelompok saat kami pertama kali berangkat KKN.
Dengan tangan gemetar, aku membuka kantong depan tas itu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu identitas mahasiswa yang sudah kusam oleh tanah. Saat aku menyenter kartu itu, napasku tertahan.
Nama yang tertera di sana adalah *Raka Pramudya*. Tapi yang membuat bulu kudukku berdiri bukan sekadar namanya, melainkan foto yang menempel di kartu itu. Wajah di dalam foto itu kosong. Bukan karena luntur atau rusak, tapi seolah-olah fitur wajahnya memang tidak pernah dicetak di sanaβhanya selembar kulit rata tanpa mata, hidung, atau mulut.
Tepat saat itu, mesin mobil kami yang sudah mati tiba-tiba menyala sendiri. Lampu jauhnya menyorot tajam ke arah kami, dan dari dalam kabin yang seharusnya kosong karena Sita juga sudah turun, terdengar suara ketukan pelan dari balik kaca jendela yang gelap. *Tok... tok... tok...*
Bukan Sita yang mengetuk. Sita berdiri di sampingku, wajahnya seputih kapas. Kami bertiga terpaku melihat ke arah kursi pengemudi. Di sana, di balik kaca yang berembun, sebuah siluet samar sedang duduk tenang di belakang kemudi, menatap kami dengan wajah yang tak memiliki bentuk.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!