Udara Desa Sukma tidak pernah benar-benar hangat, tetapi malam ini, dinginnya terasa merambat ma**k ke balik jaket jinsku, menusuk hingga ke sumsum tulang. Kabut tipis menggantung di permukaan tanah, membuat pepohonan di sisi jalan setapak tampak seperti bayangan raksasa yang siap menerkam. Aku mematikan mesin motor jauh sebelum mencapai gerbang desa, memilih untuk menuntunnya di atas tanah basah agar suaranya tidak memicu kecurigaan.
Setiap langkah yang kuambil terasa seperti pengkhianatan terhadap akal sehatku sendiri. Logikaku berteriak agar aku berputar balik, kembali ke kota, dan membakar semua foto terkutuk itu. Namun, bayangan pemuda berwajah samar di bingkai ketujuh ituβRakaβterus menghantuiku. Siapa dia? Mengapa dia ada di sana, berdiri di antara kami dengan lengan merangkul bahuku, sementara memoriku bersih darinya?
Aku merapat ke dinding-dinding kayu rumah warga yang tertutup rapat. Tidak ada lampu teras yang menyala. Desa ini seolah mati, atau mungkin sedang pura-pura mati. Tujuanku satu: rumah Pak Danu di ujung jalan, dekat perbatasan hutan. Dialah satu-satunya benang merah yang tersisa.
Suara jangkrik mendadak senyap saat aku sampai di pintu belakang rumah Pak Danu. Napas keberanianku terasa pendek. Aku mengetuk pintu kayu yang mulai lapuk itu dengan pelanβtiga ketukan berirama, berharap dia masih terjaga.
Lama tidak ada jawaban. Aku hampir menyerah ketika mendengar bunyi selot pintu digeser dengan sangat hati-hati. Pintu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sempit yang menampakkan sebelah mata Pak Danu yang tampak merah dan letih. Begitu dia menyadari siapa yang berdiri di sana, matanya membelalak bukan karena senang, melainkan karena horor yang murni.
"Arya? Apa yang kamu lakukan di sini?" bisiknya, suaranya parau dan bergetar. Dia menarikku ma**k dengan kasar sebelum aku sempat menjawab, lalu segera mengunci pintu dengan tangan yang gemetar hebat.
Di dalam, ruangan itu hanya diterangi sebatang lilin yang hampir habis. Bau kemenyan tipis bercampur dengan aroma apek kayu tua memenuhi indra penciumanku. Pak Danu berdiri membelakangiku, napasnya memburu.
"Pak, saya datang karena telepon Bapak tempo hari," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang. "Bapak tanya kapan Raka mau ambil barangnya. Siapa Raka, Pak? Di kelompok kami cuma ada enam orang. Tidak ada yang namanya Raka."
Pak Danu berbalik perlahan. Wajahnya yang biasanya ramah saat kami KKN dulu, kini tampak sepuluh tahun lebih tua. Ada kantung mata hitam yang dalam di bawah matanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengusapnya dengan kasar hingga kulitnya memerah.
"Harusnya saya tidak pernah menelponmu," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Saya lupa... saya pikir... Ah, ingatan orang tua memang si****. Harusnya saya biarkan saja barang itu di gudang."
"Tapi Bapak menyebut namanya! Bapak mengenalinya di foto itu!" aku mendesak, selangkah mendekatinya. "Sebutkan satu saja ciri-cirinya, Pak. Kenapa cuma Bapak yang ingat dia? Kenapa kami semua lupa?"
Pak Danu tiba-tiba mencengkeram bahuku. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku meringis. "Pulanglah, Arya. Sekarang juga. Sebelum mereka sadar kamu ada di sini."
"Siapa yang Bapak maksud dengan 'mereka'?" tanyaku menuntut. "Dan barang apa yang tertinggal? Saya ingin melihatnya."
Pak Danu menggeleng cepat, matanya melirik liar ke arah jendela yang tertutup rapat oleh gorden lusuh. Ketakutannya begitu nyata hingga aku bisa merasakannya menular ke kulitku. Dia tampak seperti pria yang sedang menunggu vonis mati.
"Raka itu tidak ada, Nak. Dia hanya... sisa-sisa yang seharusnya sudah menguap," ucapnya dengan suara yang nyaris hilang. "Desa ini punya cara untuk memastikan semuanya tetap seimbang. Kami membayar harga untuk ketenangan kami. Dan kalian... kalian hanyalah tamu yang kebetulan membawa beban yang tidak seharusnya ada."
Dia merogoh saku celana batiknya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain kafan kusam. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkannya padaku. "Ambil ini. Ini milik temanku yang kamu bilang tidak ada itu. Lalu perg***h. Jangan lewat jalan utama. Hutan adalah satu-satunya jalan keluar yang belum mereka jaga."
Aku menerima bungkusan itu. Terasa dingin dan berat. Saat aku baru saja hendak membuka lipatan kainnya, sebuah suara ketukan keras terdengar dari pintu depan.
*Tok! Tok! Tok!*
Bunyi itu tidak seperti ketukan tamu biasa. Itu adalah ketukan yang menuntut, berat, dan berwibawa.
"Danu," sebuah suara berat dari luar memanggil. "Kami tahu ada tamu yang datang tanpa ijin ke rumahmu. Bawa dia keluar, atau kami yang akan menjemputnya ma**k."
Pak Danu memucat seketika, wajahnya kehilangan seluruh warna. Dia menatapku dengan tatapan memohon yang menyayat hati, lalu beralih menatap pintu belakang yang tadi aku lalui. Di luar sana, aku bisa melihat bayangan beberapa orang bergerak melewati celah bawah pintu, mengepung rumah kecil itu.
Logika analitisku lumpuh. Aku menatap bungkusan di tanganku, lalu ke arah Pak Danu yang kini mulai terisak pelan tanpa suara. Sesuatu yang besar dan gelap sedang terjadi di Desa Sukma, dan aku baru saja berjalan ma**k ke dalam jebakan yang telah disiapkan selama berbulan-bulan.
"Lari, Arya," bisik Pak Danu, suaranya pecah. "Lari ke arah sungai, jangan pernah menoleh ke belakang, apa pun yang kamu dengar."
Belum sempat aku bergerak, pintu depan hancur ditendang dari luar. Di ambang pintu yang gelap, berdiri sesosok pria tua dengan jubah hitam, memegang obor yang apinya menari-nari liar, memantulkan bayangan panjang yang tampak mencekik seisi ruangan. Dan di belakangnya, berdiri warga desa lainnya dengan wajah-wajah tanpa ekspresi yang aku kenali sebagai orang-orang yang dulu menjamu kami dengan senyuman hangat.
Kini, senyuman itu telah hilang, digantikan oleh tatapan dingin para penjaga rahasia. Dan di antara kerumunan itu, aku bersumpah melihat seseorang yang sangat familiarβseseorang dengan postur yang sama persis dengan pria di bingkai ketujuh.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!