Lampu meja yang temaram membuat bayangan tanganku tampak raksasa di dinding kamar yang sempit. Di hadapanku, sebuah buku catatan bersampul kulit kusam tergeletak seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Sudut-sudutnya sudah mulai mengelupas, dan aroma lembap khas tanah hutan tercium kuat saat aku memberanikan diri menyentuh permukaannya.
Ini milik Raka. Pria yang seharusnya ada di sana, di sampingku dalam setiap foto, namun terhapus bersih dari memoriku seperti noda yang disikat habis.
Tanganku gemetar saat membuka halaman pertama. Tulisan tangannya rapi, sedikit miring ke kanan, mencerminkan kepribadian yang teratur namun terburu-buru. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen tipis mengisi paru-paruku sebelum mulai membaca baris demi baris.
*10 Juli.*
*Hari pertama di Desa Sukma. Arya sangat serius soal jadwal, tipikal dia sekali. Tapi desa ini indah. Udaranya segar, meski Pak Danu terus mengingatkan kami untuk tidak keluar lewat magrib. Mungkin cuma mitos lokal.*
Aku menelan ludah. Aku ingat hari itu. Aku ingat mengumpulkan teman-teman di balai desa, menjelaskan pembagian tugas. Namun, dalam ingatanku, hanya ada Bima, Shinta, Dion, Maya, dan Ratna. Tidak ada Raka. Tapi di sini, namanya tertulis dengan tinta hitam yang nyata.
Halaman-halaman berikutnya berisi catatan harian biasa tentang program kerja kamiβmemperbaiki sanitasi, mengajar anak-anak desa, dan memetakan lahan. Namun, mema**ki minggu kedua, goresan tintanya mulai berubah. Tidak lagi rapi. Ada tekanan yang lebih kuat pada pulpennya, beberapa bagian bahkan nyaris merobek kertas.
*17 Juli.*
*Ada yang aneh. Hari ini saat aku berjalan ke arah sumur tua, Bu Sari mendadak berhenti menyapu. Dia menatapku lama sekali, bukan tatapan ramah seperti biasanya. Dia menjatuhkan sapunya dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti doa... atau permintaan maaf? Saat aku mendekat untuk bertanya, dia lari ma**k ke dalam rumah. Kenapa hanya padaku dia bersikap begitu?*
Aku mengusap tengkukku yang mendadak dingin. Aku mencoba mengingat hari itu. Aku ingat Bu Sari, wanita tua yang selalu memberi kami singkong rebus. Tapi aku tidak ingat dia pernah bersikap aneh. Apakah karena dia hanya melakukannya pada Raka?
Aku membalik halaman lagi.
*20 Juli.*
*Pak Danu memberiku sebutir telur ayam kampung yang dibungkus kain merah pagi ini. Dia bilang ini 'penguat'. Tapi saat aku menerimanya, tangannya gemetar hebat. Matanya merah, seolah dia tidak tidur berhari-hari. Aku melihat teman-teman yang lain, mereka tertawa di meja makan, sibuk membahas rencana proker besok. Mereka tidak melihat Pak Danu. Mereka tidak melihat bagaimana penduduk desa menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja turun dari langit. Atau mungkin... seolah-olah aku adalah hewan kurban yang sedang digemukkan.*
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku dengan ritme yang menyakitkan. Aku adalah ketua kelompok. Bagaimana mungkin aku melewatkan kegelisahan salah satu anggotaku? Analisisku, logika yang selalu kubanggakan, seolah lumpuh total saat itu. Atau lebih buruk lagi, apakah pikiranku memang sengaja dibuat buta?
Aku membaca entri berikutnya dengan napas memburu.
*23 Juli.*
*Mereka mulai menyebutku dengan nama lain. Bukan Raka. Tadi malam, aku terbangun karena mendengar bisikan di bawah jendela kamar. Aku mengintip dari celah kayu. Ada beberapa pria desa berkumpul di sana, membawa obor yang padam. Mereka menyebut ' Sang Penerima'. Mereka bilang waktunya hampir tiba. Arya bangun saat aku menutup jendela, dia hanya bertanya kenapa aku belum tidur, lalu kembali mendengkur. Kenapa dia begitu tenang? Apa dia tidak merasakannya? Suasana desa ini berubah menjadi pekat, Arya. Kenapa kau tidak melihatnya?*
"Aku tidak tahu, Raka..." bisikku lirih pada ruangan yang kosong. Rasa bersalah mulai merayap naik, mencekik kerongkonganku.
Halaman selanjutnya hanya berisi satu paragraf pendek, ditulis dengan tulisan yang sangat berantakan, seolah sang penulis sedang berada dalam puncak ketakutan.
*25 Juli.*
*Hari ini adalah batasnya. Aku mengerti sekarang kenapa mereka memisahkan piringku. Kenapa mereka selalu memberiku air dari kendi yang berbeda. Aku bukan lagi bagian dari kelompok ini di mata mereka. Aku adalah 'hutang' yang harus dibayar. Tadi sore, Pak Danu memegang bahuku, keras sekali sampai memar. Dia berbisik, 'Jangan benci kami, Nak. Desa ini butuh nafas baru.' Aku mencoba bicara pada Shinta, tapi dia hanya menatapku kosong lalu bertanya, 'Kamu siapa?'.*
Tanganku melepaskan buku itu hingga terjatuh ke lant**. Suara gedebuknya terdengar seperti dentum lonceng kematian di telingaku.
Kalimat terakhir itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Shinta lupa padanya bahkan sebelum kami meninggalkan desa? Proses penghapusan ingatan itu tidak terjadi secara instan setelah kami pulang, melainkan terjadi secara perlahan, menggerogoti eksistensi Raka saat dia masih berdiri di depan mata kami.
Aku memungut kembali buku itu dengan tangan yang kaku. Masih ada beberapa halaman terakhir. Aku harus tahu apa yang terjadi di malam terakhir itu. Aku harus tahu bagaimana mereka melakukannya.
Saat aku membuka halaman selanjutnya, aku tidak menemukan tulisan. Di sana, di atas kertas yang mulai menguning, terdapat noda merah kecokelatan yang lebarβdarah yang sudah mengering. Dan di tengah noda itu, ada sebuah kalimat yang ditulis dengan jari, bukan pulpen.
*Arya, jangan kembali ke desa ini. Tapi jika kau membaca ini, artinya mereka sudah membiarkanmu ingat. Dan itu artinya, mereka butuh penggantiku.*
Pintu kamarku tiba-tiba berderit terbuka pelan. Aku tersentak, menoleh ke arah ambang pintu yang gelap. Tidak ada siapa-siapa di sana, namun aroma tanah basah dan wangi dupa yang menyengat mendadak memenuhi ruangan, persis seperti aroma di rumah Pak Danu.
Ponselku yang tergeletak di atas ka**r bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*βBarang Raka sudah kamu temukan, Arya? Sekarang giliranmu yang tertinggal.β*
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!