Udara di Desa Sukma seolah menolak ma**k ke dalam paru-paruku. Rasanya berat, lembap, dan berbau tanah basah yang membusuk, meski matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. Aku meremas ujung sweter rajutku yang mulai terasa gatal terkena keringat dingin. Di depanku, punggung Arya tampak tegang, kaku seperti papan kayu yang siap patah kapan saja. Kami berdiri di teras rumah joglo besar yang berfungsi sebagai kantor kepala desa, menunggu seseorang yang memegang kunci dari semua keg***an ini.
Suara langkah kaki yang berat dari dalam rumah membuat jantungku berdegup lebih kencang. Pintu kayu jati yang ukirannya menyerupai sulur-sulur tanaman yang mencekik terbuka perlahan. Pak Harjo, Kepala Desa Sukma, muncul dengan kemeja batik kusam dan sarung yang tersampir di bahu. Matanya kecil, tertanam jauh di dalam kelopak mata yang berkerut, menatap kami seolah kami adalah serangga yang mengganggu waktu istirahatnya.
"Kalian lagi," suaranya parau, dalam, dan tidak ramah. Ia tidak mempersilakan kami duduk. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari ma**k ke dalam ruangan di belakangnya yang tampak gelap gulita.
"Maaf mengganggu waktunya, Pak Harjo," Arya memulai, suaranya berusaha terdengar stabil meski aku bisa melihat tangannya yang gemetar di samping celana jinnya. "Kami hanya ingin menanyakan sesuatu. Tentang... teman kami."
Pak Harjo menyulut sebatang rokok kretek. Asapnya yang beraroma cengkih tajam menusuk hidungku, membuat kepalaku sedikit pening. "Teman yang mana? Bukankah kalian sudah pulang minggu lalu? Enam orang, kan? Begitu yang tertulis di catatan saya."
Aku memberanikan diri melangkah maju, tepat di samping Arya. Aku merogoh saku tas kecilku dan mengeluarkan selembar foto yang sudah mulai melengkung di sudut-sudutnya. Foto itu adalah alasan kami kembali ke tempat terkutuk ini. Foto yang membuktikan bahwa ingatan kami telah dikhianati.
"Raka, Pak," kataku, suaraku sedikit bergetar namun tegas. Aku menyodorkan foto itu ke depan wajahnya. "Pemuda ini. Namanya Raka. Pak Danu menelpon kami, katanya ada barang Raka yang tertinggal. Tapi kenapa... kenapa tidak ada satu pun dari kami yang ingat dia selama perjalanan pulang?"
Pak Harjo tidak segera mengambil foto itu. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asapnya menggantung di antara kami seperti tirai abu-abu. Matanya melirik ke arah foto, lalu kembali ke arahku. Tidak ada keterkejutan di sana. Hanya ada kekosongan yang dingin, jenis kekosongan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Tidak ada nama Raka di desa ini," ucapnya datar. "Pak Danu itu sudah tua, ingatannya sering melantur. Kalian seharusnya tidak mendengarkan orang tua yang sudah pikun."
"Tapi foto ini tidak bohong, Pak!" Arya menimpali, suaranya naik satu oktav. Ia menunjuk ke arah sosok pemuda dengan wajah yang sedikit buram di tengah kelompok kami. "Lihat ini! Dia memakai jaket almamater yang sama dengan kami. Dia berdiri di depan balai desa ini! Bagaimana mungkin Bapak bilang dia tidak ada?"
Tiba-tiba, suasana di sekitar kami berubah. Keheningan desa yang tadinya terasa malas, kini berubah menjadi mengancam. Dari sudut mataku, aku melihat beberapa warga pria mulai bermunculan dari balik pohon-pohon besar dan gang sempit di samping kantor desa. Mereka tidak membawa cangkul atau alat tani. Mereka hanya berdiri di sana, diam, dengan tatapan mata yang sama kosongnya dengan Pak Harjo.
Pak Harjo mematikan rokoknya di tiang kayu teras dengan gerakan perlahan yang disengaja. "Kalian anak-anak kota memang keras kepala," bisiknya, suaranya sekarang terdengar seperti desisan ular. "Sudah diberi kesempatan untuk pergi dengan selamat, malah memilih untuk menggali lubang kubur sendiri."
"Apa maksud Bapak?" tanyaku, kakiku refleks mundur satu langkah.
Pak Harjo maju selangkah, ma**k ke dalam area cahaya matahari. Wajahnya yang tadi gelap kini terlihat jelasβotot rahangnya mengeras dan ada kilat amarah yang tertahan di matanya. "Sukma bukan tempat untuk mencari yang sudah hilang. Apa yang sudah diambil oleh tanah ini, adalah milik tanah ini. Kalian hanya tamu yang tidak tahu diri."
Ia kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat kepada warga yang mulai mengepung kami dalam radius beberapa meter. "Bawa mereka keluar! Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di kantor ini lagi. Jika mereka masih berani bertanya tentang hal-hal yang tidak ada, pastikan mereka benar-benar tidak bisa bertanya lagi selamanya!"
Beberapa pria berbadan tegap maju mendekat. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan bekas luka di pelipisnya, mencengkeram lengan Arya dengan kasar.
"Lepaskan!" teriak Arya, mencoba meronta.
"Keluar!" bentak pria itu, suaranya menggelegar.
Aku merasakan tangan dingin yang kasar menjambret lenganku, memaksaku berbalik. Aku tersandung, hampir jatuh ke atas tanah yang berdebu. Warga desa yang tadinya tampak pasif kini berubah menjadi massa yang intimidatif. Mereka menggiring kami menuju gerbang batas desa dengan cara yang sangat tidak manusiawiβmendorong, menghardik, dan menatap kami dengan kebencian yang murni.
"Pak Harjo! Raka di mana?!" aku berteriak sekuat tenaga, menoleh ke belakang melewati bahu pria yang menyeretku.
Pak Harjo masih berdiri di teras rumah joglo itu, bayangannya memanjang di lant** kayu. Ia tidak bergerak sedikit pun, hanya menatap kami dengan ekspresi yang tak terbaca. Namun, sebelum jarak kami terlalu jauh, aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara.
*Dia sudah menjadi bagian dari kami.*
Aku tersentak. Genggaman pria di lenganku semakin kencang hingga rasanya tulangku akan retak. Saat kami dipaksa melewati batas desa, aku melihat Pak Danu berdiri di kejauhan, di bawah pohon beringin tua. Ia tidak menolong kami. Ia hanya memegang sebuah benda di tangannyaβsebuah kamera analog milik Rakaβdan ia sedang menangis tanpa suara sambil menunjuk ke arah hutan di belakang balai desa.
Tepat saat itu, aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Di antara kerumunan warga yang mengusir kami, aku melihat seseorang yang sangat familiar. Seseorang yang memakai jaket almamater yang sama dengan kami, namun bergerak seirama dengan penduduk desa, menatap kami dengan mata yang sepenuhnya hitam tanpa bagian putih sedikit pun.
Itu Raka. Tapi dia bukan lagi Raka yang kami cari.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!