Hutan di belakang Desa Sukma seolah menelan cahaya matahari dengan rakus, menyisakan keremangan yang menyesakkan paru-paru. Setiap langkah Arya di atas tumpukan daun busuk menghasilkan bunyi gemeresik yang terdengar seperti bisikan-bisikan parau di telinganya. Udara di sini berbeda—dingin, lembap, dan membawa aroma kemenyan yang samar, bercampur dengan bau tanah basah yang membusuk.
Arya berhenti sejenak, menyeka keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya. Dadanya sesak. Di sampingnya, Maya dan Bima tampak waspada, senter mereka membelah kabut tipis yang mulai merayap di antara batang-batang pohon raksasa yang meliuk aneh.
"Lo yakin ini jalannya, Ya?" bisik Bima. Suaranya gemetar, kontras dengan tubuhnya yang kekar.
Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap kompas di tangannya, namun jarumnya berputar liar seolah kehilangan orientasi. Namun, bukan kompas yang menuntunnya sekarang. Ada sesuatu yang lain—sebuah tarikan magnetis di belakang kepalanya yang terasa seperti kait besi yang menariknya ma**k lebih dalam ke jantung hutan.
"Kita sudah dekat," sahut Arya singkat. Suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri—datar dan terlalu tenang.
Tiba-tiba, sebuah denyutan tajam menghantam bagian belakang matanya. Arya tersentak, memegangi kepalanya yang seolah dipukul martil tak kasat mata. Penglihatannya mengabur, berganti dengan kilasan-kilasan gambar yang muncul secepat kilat: kepulan asap hitam, wajah-wajah penduduk desa yang tertunduk, dan suara gema mantra yang merayap di tanah.
"Arya? Lo kenapa?" Maya mendekat, tangannya yang dingin menyentuh lengan Arya.
"Gue... gue nggak apa-apa," dusta Arya. Napasnya memburu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa sakit itu, namun yang ia temukan justru lebih buruk. Sebuah ingatan yang tidak seharusnya ada di sana mulai menyeruak keluar dari kegelapan.
*Sesosok pemuda berdiri di antara mereka. Raka. Ia tertawa sambil memegang kamera, rambutnya yang agak gondrong berkibar tertiup angin gunung. "Jangan lupa cetak yang ini, Ya. Ini foto terbaik kita," kata Raka dalam ingatan itu.*
Arya terhuyung. Rasa sakitnya kini berubah menjadi migrain hebat yang membuat perutnya mual. Itu bukan sekadar bayangan. Itu adalah potongan realitas yang selama ini terkunci rapat di balik dinding beton dalam pikirannya. Dinding itu sekarang mulai retak.
"Arah sana," tunjuk Arya dengan jari gemetar ke arah celah di antara dua pohon beringin yang akarnya saling membelit seperti ular. "Lokasinya ada di balik sana. Tempat... tempat mereka melakukannya."
"Melakukan apa?" tanya Maya dengan suara menciut.
Arya tidak menjawab. Ia melangkah maju, meskipun setiap langkah membuat kepalanya terasa seakan mau pecah. Mereka menembus semak berduri hingga sampai di sebuah lapangan kecil yang tersembunyi. Di tengah lapangan itu, tanahnya gundul—tidak ada rumput yang berani tumbuh di sana. Sebuah lingkaran batu besar tersusun rapi, mengelilingi sebuah tungku batu yang permukaannya sudah menghitam oleh jelaga bertahun-tahun.
Bau itu kembali. Lebih kuat sekarang. Bau hangus yang menusuk.
"Ini tempatnya," bisik Arya. Ia berlutut di pinggir lingkaran batu itu. Rasa sakit di kepalanya mencapai puncaknya. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, beberapa bulan yang lalu, berdiri di tempat yang sama. Tapi ia tidak sendirian. Enam temannya yang lain ada di sana, dan seorang lagi... Raka.
Raka tidak berdiri bersama mereka sebagai peserta ritual. Raka berada di tengah lingkaran.
"Ya Tuhan..." Arya merintih, kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Keringatnya kini bercampur dengan air mata yang menetes tanpa ia sadari.
"Ingatan itu... mereka nggak cuma menghapus Raka dari foto," gumam Arya, suaranya parau karena menahan sakit yang luar biasa. "Mereka memaksa kita melihatnya. Kita semua ada di sini, Maya! Kita semua melihat saat Pak Danu dan sesepuh desa menariknya ke tengah!"
Maya mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Arya, lo ngomong apa? Kita nggak pernah ke sini sebelumnya! Kita cuma KKN biasa!"
"GAK!" teriak Arya, suaranya menggema di keheningan hutan yang mencekam. "Kita bohong pada diri kita sendiri karena kita terlalu takut untuk ingat! Raka bukan hilang, Maya. Raka diberikan!"
Saat kalimat itu keluar dari mulut Arya, sebuah kilatan memori terakhir menghantamnya dengan kekuatan penuh. Ia melihat dirinya sendiri memegang sebuah buku catatan—daftar absensi kelompok. Dalam ingatan itu, Arya melihat tangannya sendiri mencoret nama 'Raka' berkali-kali hingga kertasnya robek, sementara suara Pak Danu berbisik di telinganya: *“Satu nyawa untuk keselamatan semua. Lupakan dia, maka kalian akan selamat.”*
Arya jatuh tersungkur di tanah yang dingin. Kepalanya kini terasa kosong, namun dadanya dipenuhi rasa sesak yang menghancurkan. Di tengah lapangan itu, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari kegelapan di depan mereka.
Bukan dari arah jalan mereka datang, melainkan dari kedalaman hutan yang lebih gelap.
Senter Bima menyorot ke arah suara itu. Cahayanya bergetar hebat. Di sana, di batas cahaya senter, berdirilah seorang pemuda dengan pakaian KKN yang kotor dan compang-camping. Wajahnya samar, tertutup bayangan, namun posturnya sangat mereka kenali.
"Kalian... kembali?" suara itu terdengar seperti gesekan amplas pada kayu, dingin dan tak bernyawa.
Arya mendongak dengan sisa kekuatannya. Jantungnya berhenti berdetak saat melihat apa yang dipegang pemuda itu di tangannya yang pucat—sebuah bingkai foto tua yang kacanya sudah retak seribu.
"Raka?" bisik Arya dengan suara yang nyaris hilang.
Pemuda itu melangkah ma**k ke dalam lingkaran batu, dan saat cahaya senter mengenai wajahnya, Arya berharap dirinya tetap kehilangan ingatan saja. Karena di balik wajah yang mereka lupakan itu, tidak ada lagi kemanusiaan, melainkan lubang hitam yang siap menelan mereka kembali ke dalam perjanjian yang belum selesai.
"Satu orang tertinggal," sosok itu berbisik sambil menatap Arya dengan mata yang sepenuhnya hitam. "Dan dia butuh penggantinya."
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!