Paru-paruku terasa seperti terbakar. Setiap tarikan napas membawa aroma tanah basah dan bau menyengat dari obor-obor minyak tanah yang kian mendekat. Aku bisa mendengar deru napas Arya yang tersengal di sebelahku, langkah kakinya yang berat menghantam dedaunan kering di lant** hutan, menciptakan bunyi *krosak* yang mengkhianati posisi kami.
"Sini! Cepat!" bisikku sambil menarik lengan Siska yang nyaris terjatuh karena tersangkut akar pohon yang mencuat.
Di belakang kami, cahaya kuning kemerahan menari-nari di antara batang pohon jati yang tinggi dan ramping. Suara teriakan warga Desa Sukma tidak lagi terdengar seperti amarah manusia biasa; itu adalah suara kolektif yang dingin, monoton, dan penuh tuntutan. Mereka tidak memanggil nama kami. Mereka memanggil satu nama yang masih terasa asing sekaligus menyakitkan di telingaku.
"Raka... Raka harus diganti..."
Suara itu bergema, memantul di antara kegelapan hutan yang pekat. Aku mengumpat pelan, menyeka keringat yang mengalir ma**k ke mataku. Siapa Raka? Kenapa bayangan pemuda itu terus menghantui setiap jengkal ingatan yang coba kupulihkan? Setiap kali aku mencoba mengingat wajahnya, kepalaku berdenyut seolah-olah ada pisau tumpul yang menghujam saraf-sarafku.
"Bim, mereka menutup jalan ke arah jalan raya," Arya terengah-engah, tubuhnya bersandar pada batang pohon besar saat kami berhenti sejenak untuk mengatur napas. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram cahaya bulan yang menembus kanopi hutan. "Kita harus memutar ke arah jurang."
"G*** kamu, Ya? Jurang itu buntu!" sahut Rio dengan suara bergetar. Tangannya gemetar hebat saat mencoba memegang senter yang cahayanya mulai meredup.
"Lebih baik buntu daripada diseret mereka kembali ke balai desa," balasku tajam. Aku menoleh ke belakang. Cahaya obor itu kini hanya berjarak sekitar lima puluh meter. Aku bisa melihat bayangan hitam manusia-manusia itu bergerak cepat, lincah seperti pemangsa yang sudah hafal setiap sudut wilayah perburuannya.
Kami kembali berlari. Kali ini, aku membiarkan instingku mengambil alih. Semak berduri menggores lenganku, merobek kemeja flanel yang kukenakan, tapi rasa perih itu kalah oleh adrenalin yang memba****i pembuluh darah. Di depanku, Maya terisak pelan tanpa suara, kakinya terus dipaksa melangkah meski aku tahu dia sudah mencapai batas kemampuannya.
"Kenapa mereka melakukan ini?" isak Maya di sela larinya. "Kita cuma mahasiswa KKN, kita nggak salah apa-apa!"
"Karena kita melihatnya, May!" Arya menyahut tanpa menoleh. "Karena kita ingat foto itu! Mereka tidak mau rahasia desa ini keluar!"
Tiba-tiba, sebuah suara siulan melengking membelah kesunyian hutan. Itu bukan siulan burung. Itu kode. Dari arah samping kiri, dua orang warga muncul dari balik kegelapan dengan parang di tangan. Wajah mereka datar, mata mereka kosong, seolah-olah jiwa mereka sudah lama dicabut dari raga.
"Jangan lari, Nak Bima," salah satu dari mereka, Pak Darman yang biasanya ramah saat kami membeli kopi di warungnya, berbicara dengan nada tenang yang mengerikan. "Kalian harus melengkapi apa yang sudah dimulai. Raka menunggu."
"Jangan mendekat!" teriakku, meraih sebuah dahan kayu patah yang c**up besar dari tanah. Aku berdiri di depan teman-temanku, memposisikan diriku sebagai tameng. "Kami tidak tahu siapa Raka! Lepaskan kami!"
Pak Darman hanya memiringkan kepalanya sedikit. "Ingatan adalah beban, Bima. Desa ini membantu kalian melupakan. Tapi kalian malah menjemput kembali beban itu."
Tanpa peringatan, Pak Darman dan satu warga lainnya merangsek maju.
"LARI!" teriakku sekuat tenaga.
Kami berpencar sesaat, menghindar dari sabetan parang yang membelah udara. Aku merasakan desiran angin tajam di dekat bahuku. Aku mengayunkan kayu di tanganku, menghantam lengan Pak Darman hingga parangnya terlepas. Tidak ada erangan kesakitan dari mulutnya. Dia hanya menatapku, lalu kembali merangkak maju seperti serangga.
Aku memacu kakiku lebih cepat, mengejar Arya dan yang lainnya menuju lereng bukit yang curam. Hutan di bagian ini lebih rapat, dengan pohon-pohon tua yang akarnya melilit seperti ular raksasa. Tanah di bawah kaki kami mulai terasa tidak stabil, licin karena lumut dan embun malam.
"Bim! Di sini!" Arya melambai dari balik sebuah celah di tebing batu.
Kami merosot ma**k ke dalam celah sempit itu, bersembunyi di balik kegelapan yang total. Aku menekan tubuhku ke dinding batu yang dingin, berusaha meredam suara napas yang memburu. Di luar, suara langkah kaki warga terdengar melewati tempat persembunyian kami. Suara gesekan parang pada batu dan pangg***n-pangg***n monoton itu membuat bulu kudukku berdiri.
Beberapa menit berlalu yang terasa seperti selamanya. Keheningan kembali menyelimuti hutan, kecuali suara jangkrik yang terdengar janggal.
"Mereka sudah lewat?" bisik Siska nyaris tidak terdengar.
"Sepertinya begitu," Arya menjawab pelan. Dia menyalakan senter kecilnya, mengarahkannya ke dasar celah batu tempat kami berada.
Cahaya senter itu menyapu lant** tanah yang lembap, lalu berhenti pada sesuatu yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Di sudut celah itu, tergeletak sebuah tas ransel kusam yang sudah ditumbuhi jamur. Tas itu tampak sangat familiar.
Arya mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh kain tas yang mulai lapuk itu. Dia membuka ritsletingnya yang berkarat. Di dalamnya, terdapat sebuah kamera analog tua dan sebuah buku catatan praktikum.
Aku mendekat, membantu Arya membuka halaman pertama buku catatan itu. Di sana, tertulis sebuah nama dengan tulisan tangan yang rapi, namun tinta bagian bawahnya tampak luntur oleh noda merah kecokelatan yang sudah mengeringβdarah.
*Milik: Raka Aditama. Kelompok 7 KKN Desa Sukma.*
Mataku beralih ke kamera analog itu. Aku teringat kamera yang kami pakai untuk foto bersama. Kamera ini identik. Namun, saat Arya menekan tombol *shutter* yang macet, lampu indikator merah menyala lemah, dan sebuah gulungan film tua menyembul keluar dari bagian belakang yang rusak.
"Ini barang-barangnya," bisik Arya, suaranya pecah. "Raka bukan orang asing. Dia... dia seharusnya duduk di sebelahku di bus saat kita pulang."
Tiba-tiba, sebuah tangan pucat muncul dari kegelapan di belakang Arya, mencengkeram bahunya dengan kuat. Kami semua tersentak mundur, namun senter di tangan Arya jatuh ke tanah, cahayanya menyorot ke arah sosok yang baru saja muncul dari kegelapan lebih dalam di dalam gua itu.
Bukan warga desa. Tapi seorang pemuda dengan pakaian KKN yang sama dengan kami, wajahnya hancur di satu sisi, namun mata kirinya menatap kami dengan kesedihan yang tak terhingga.
"Kalian... akhirnya kembali mengambilku?" suara itu bukan berasal dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam kepala kami masing-masing.
Di saat yang sama, dari mulut gua, obor-obor warga kembali terlihat. Kami terjepit di antara kenyataan yang mengerikan dan masa lalu yang menuntut untuk diingat. Dan saat itu aku menyadari, warga desa tidak ingin membunuh kami. Mereka ingin kami menggantikan posisi yang seharusnya tetap kosong di dalam bingkai foto itu.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!