Bingkai Ketujuh: Yang Terhapus dari Ingatan

Bab 2: Bab 2 - Melihat foto-foto dokumentasi yang baru dikirim...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar ponsel adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar kosku yang remang. Jarum jam di dinding baru saja melewati angka sebelas malam, tetapi kantuk seolah enggan singgah. Suara kipas angin yang berderit pelan menemani kesunyian, menciptakan ritme yang justru membuat pikiranku melayang kembali ke Desa Sukma. Sudah tiga hari sejak kami meninggalkan desa terpencil itu, namun aroma tanah basah dan kabut tipisnya seolah masih menempel di jaket yang tergantung di balik pintu.

Ponselku bergetar pendek. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di bagian atas layar.

**Mega Dokumentasi:** *Guys, akhirnya kelar juga nih milih foto-fotonya! Maaf ya lama, memorinya sempat agak error tadi. Cek ya! [File Link]*

Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa lelah yang menggelayut di bahu. Sebagai ketua kelompok KKN, aku merasa punya kewajiban moral untuk memastikan semua dokumentasi tersusun rapi sebelum laporan akhir diserahkan ke kampus. Dengan ujung telunjuk yang sedikit gemetar karena kedinginan, aku mengetuk tautan tersebut.

Satu per satu foto mulai terunduh. Deretan gambar beresolusi tinggi itu menampilkan wajah-wajah kami yang kusam namun penuh tawa. Ada foto saat kami sedang mengecat pagar balai desa, foto saat Bima terpeleset ke selokan, hingga foto formal kami bersama kepala desa. Kenangan itu mengalir hangat, sedikit meredakan ketegangan yang entah mengapa selalu kurasakan sejak pulang dari Sukma.

Aku memperbesar sebuah foto yang diambil di hari terakhir. Kami berpose di depan gerbang kayu desa yang bertuliskan "Selamat Jalan". Di sana ada aku yang berdiri di paling pinggir dengan kacamata yang sedikit melorot. Di sebelahku ada Bima yang merangkul bahu Edo, lalu Mega yang memegang kamera dengan bantuan *timer*, serta Citra dan Dinda yang tersenyum lebar sambil memegang plakat kenang-kenangan.

Mataku menyipit. Ada sesuatu yang janggal.

Aku menghitung dalam hati. *Satu, dua, tiga, empat, lima, enam... tujuh?*

Jantungku berdegup satu detak lebih cepat. Aku mengusap layar ponsel, mengira itu hanya noda debu atau pantulan cahaya. Namun, sosok itu tetap di sana. Di tengah-tengah kelompok kami, berdiri seorang pemuda mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru tua yang warnanya hampir memudar. Ia tidak merangkul siapa pun, tangannya terjatuh kaku di samping tubuh, dan wajahnya... wajahnya seolah terdistorsi oleh bayangan pohon, membuatnya tampak samar meski pencahayaan saat itu sangat terang.

"Siapa ini?" bisikku lirih pada kesunyian kamar.

Aku menggeser ke foto berikutnya. Foto saat kami makan malam bersama di rumah pondokan. Di sudut meja kayu yang panjang, di antara Edo dan Dinda, pemuda flanel biru itu duduk dengan tenang. Ia menatap ke arah kamera, namun lagi-lagi, fitur wajahnya sulit dikenali, seolah lensa kamera gagal fokus tepat di area wajahnya.

Rasa dingin yang bukan berasal dari kipas angin mulai merambat naik dari tulang ekor ke tengkukku. Aku segera membuka grup WhatsApp kelompok. Ternyata, aku bukan satu-satunya yang menyadari hal ini.

**Bima:** *Meg, lo ngedit foto kita ya? Kok ada orang lain sih di foto depan gerbang?*

**Dinda:** *Gue baru mau nanya! Di foto pas kita makan juga ada. Itu siapa? Anak warga desa yang numpang ikut foto?*

**Mega Dokumentasi:** *Sumpah, gue nggak ngedit apa-apa. Gue juga bingung pas lagi mindahin file tadi. Gue kira itu sepupu salah satu dari kalian yang mungkin datang nyusul?*

**Edo:** *Nggak mungkin. Kita cuma berenam dari awal sampai akhir. Gue ingat jelas pas kita naik elf berangkat, cuma ada enam kursi yang terisi.*

Aku menelan ludah yang terasa kering di kerongkongan. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas logistik dan absensi, aku hafal mati setiap detil perjalanan kami. Aku meraih tas ranselku yang masih tergeletak di sudut kamar, merogoh bagian dalamnya hingga menemukan map plastik berisi dokumen administratif KKN.

Dengan tangan sedikit gemetar, aku membuka daftar hadir resmi yang ditandatangani oleh Dosen Pembimbing Lapangan.

1. Arya Satya (Ketua)

2. Bima Dirgantara

3. Mega Utami

4. Edo Pratama

5. Citra Kirana

6. Dinda Amalia

Hanya enam nama. Tidak ada nama ketujuh. Tidak ada Raka, atau siapapun yang asing.

Aku kembali menatap layar ponsel, memperbesar foto di depan gerbang desa tadi. Aku memperhatikan det**l kecil di sekitar pemuda itu. Ia berdiri begitu rapat di antara Bima dan Edo, seolah mereka sudah sangat akrab. Bahkan, lengan kemeja flanelnya bersentuhan dengan lengan jaket Bima.

"Bim," ketikku di grup, "lo ngerasa nggak pas foto itu ada orang di sebelah lo?"

Butuh waktu beberapa menit sampai Bima membalas.

**Bima:** *Nggak ada, Ya. Gue ingat jelas, sebelah gue itu ruang kosong. Makanya gue ngerangkul angin pas itu karena gue pikir Edo bakal ma**k ke frame di sebelah gue, tapi Edo ternyata malah mepet ke Mega.*

Aku menatap foto itu lagi. Jika Bima merasa merangkul angin, mengapa di foto ini lengan Bima tampak seolah terangkat karena bersandar pada bahu pemuda misterius itu?

Logikaku mulai berontak. Sebagai mahasiswa teknik yang terbiasa dengan hitungan pasti, aku mencoba mencari penjelasan rasional. Mungkin ini *double exposure*? Tapi ini kamera digital, bukan film lama. Mungkin Mega mengerjai kami? Tidak, suara Mega di pesan suara yang baru saja ia kirim terdengar gemetar dan hampir menangis.

Aku memutuskan untuk memeriksa satu foto terakhir yang diambil Mega secara *candid* saat kami sedang berkemas di dalam pondokan. Foto itu menangkap suasana kacau kamar laki-laki dengan tas-tas yang terbuka. Di pantulan cermin lemari tua yang ada di sudut ruangan, sosok itu muncul lagi.

Ia tidak menatap kamera. Ia menatapku.

Dalam pantulan cermin itu, pemuda dengan kemeja flanel biru itu berdiri tepat di belakangku yang saat itu sedang membungkuk menutup ritsleting tas. Ekspresinya datar, namun ada kesedihan yang mendalam di matanya yang sayu. Dan di saku kemejanya, terselip sebuah pulpen perak dengan ukiran inisial yang sangat kukenal.

Itu pulpenku. Pulpen yang hilang di hari ketiga kami berada di Desa Sukma.

Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat. Bukan notifikasi WhatsApp, melainkan sebuah pangg***n telepon dari nomor yang tidak dikenal. Kode areanya menunjukkan wilayah yang dekat dengan Desa Sukma.

Tanganku mendingin saat menggeser tombol hijau.

"Halo?" suaraku nyaris tak terdengar.

"Halo, Mas Arya?" Suara berat dan serak di seberang sana langsung membuat bulu kudukku berdiri. Aku mengenali suara itu. Pak Danu, pemilik pondokan tempat kami menginap.

"I-iya, Pak Danu. Ada apa ya, Pak?"

"Begini, Mas," Pak Danu berdehem, suaranya terdengar ragu namun mendesak. "Saya baru saja membersihkan kamar belakang yang kalian pakai. Ini ada tas kecil dan buku catatan yang tertinggal. Punyanya Mas Raka. Dia belum pulang sama kalian, ya? Kapan Mas Raka mau ambil barangnya ke sini? Atau perlu saya paketkan?"

Duniaku seolah berhenti berputar. Nafasku tertahan di dada. Aku melirik kembali ke daftar absensi di depanku. Enam nama. Hanya enam.

"Pak..." suaraku tercekat, "siapa yang Bapak maksud? Di kelompok kami... tidak ada yang namanya Raka."

Hening di seberang sana. Keheningan yang begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang mengg***.

"Lho," suara Pak Danu berubah rendah, hampir seperti bisikan yang penuh kengerian. "Mas Arya ini bicara apa? Mas Raka kan yang setiap hari bantu saya nimba air. Teman kalian yang pendiam itu. Kalian datang berenam, tapi kalian pulang bertujuh, kan?"

Ponsel itu hampir terlepas dari genggamanku. Di layar, foto di cermin tadi masih terpampang jelas. Kini aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Di foto itu, bayangan pemuda tersebut memiliki kaki, tetapi ia tidak memiliki bayangan di lant** kayu pondokan.

Dan entah bagaimana, di dalam ingatanku, sebuah pintu yang selama ini terkunci rapat mulai berderit terbuka, menampilkan potongan-potongan memori tentang suara tawa asing yang seharusnya aku kenal, namun entah mengapa, telah terhapus sempurna.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca