Udara di sekitar lembah ini terasa lebih kental, seolah setiap tarikan napas harus melewati saringan debu dan keputusasaan. Langkah kakiku terasa berat, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban yang menekan pundakku sejak kami menginjakkan kaki kembali di perbatasan Desa Sukma. Di depanku, jalan setapak menuju gubuk tua di tengah hutan larangan itu tampak seperti kerongkongan raksasa yang siap menelan siapa saja yang berani ma**k.
"Arya, kau yakin ini tempatnya?" suara Maya gemetar di belakangku. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak teratur, tanda bahwa kecemasan yang sama sedang menggerogotinya.
Aku tidak menoleh. Jika aku melihat ketakutan di wajah teman-temanku, kendali yang susah payah kujaga mungkin akan runtuh. Aku meraba saku jaketku, memastikan cetakan foto itu masih ada di sana. Foto terakhir di mana Raka terlihat paling jelasβberdiri di antara kami dengan senyum tipis yang seolah-olah mengucap selamat tinggal.
"Berdasarkan catatan yang kita temukan di rumah Pak Danu, ini titik nolnya," jawabku berusaha setenang mungkin, meski jantungku berdegup kencang di balik rusuk. "Kontrak itu dibuat di sini. Dan di sini juga kita harus mengakhirinya."
Kami sampai di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon beringin tua dengan akar gantung yang menjunt** seperti jemari pucat. Di tengahnya, sebuah mezbah batu yang sudah berlumut berdiri kaku. Bau kemenyan sisa ritual bertahun-tahun lalu seolah masih tertinggal, merayap ma**k ke indra penciumanku, memicu mual.
Begitu kakiku menginjak lingkaran tanah tak berumput di sekitar mezbah, suhu udara mendadak turun drastis. Kabut tipis mulai naik dari permukaan tanah, membungkus pergelangan kaki kami.
"Sesuatu... ada yang salah," bisik Bima, tangannya gemetar memegang senter yang cahayanya mulai meredup tanpa alasan.
Tiba-tiba, keheningan hutan itu pecah. Bukan oleh suara hewan, melainkan oleh bisikan ribuan suara yang tumpang tindih. Suara itu tidak ma**k melalui telinga, tapi bergema langsung di dalam tengkorakku. Aku memejamkan mata, mencoba fokus pada logikaku, pada langkah-langkah yang sudah kususun di kepala. Namun, saat aku mencoba mengingat urutan ritual pembatalan itu, aku menemukan sebuah lubang.
*Kenapa aku ada di sini?*
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku berkedip, menatap mezbah di depanku. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu dengan foto itu. Tapi... siapa orang di dalam foto ini? Aku menatap wajah pemuda samar itu. Namanya... Ra... Raka? Benarkah namanya Raka?
"Jangan biarkan dia mengambilnya!" teriakku, meski aku tidak tahu kepada siapa aku berteriak. Aku menyadari apa yang sedang terjadi. Penjaga itu sedang bekerja. Dia tidak menyerang fisik kami; dia memakan alasan kami untuk melawan.
Dari balik kegelapan di antara dua pohon beringin, sebuah bayangan muncul. Ia tidak memiliki bentuk yang pastiβhanya gumpalan hitam pekat yang seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Wajahnya adalah kekosongan, sebuah lubang hitam yang membuat kepalaku berdenyut hebat saat menatapnya. Inilah dia, sang penjaga desa. Entitas yang memastikan tak ada seorang pun yang membawa pergi kenangan tentang tumbal yang telah diberikan.
"Arya! Aku lupa... aku lupa kenapa kita harus menyelamatkannya!" Maya menjerit, dia jatuh berlutut, memegangi kepalanya. Matanya kosong, mulai kehilangan binar kesadaran.
Aku menggertakkan gigi hingga rahangku sakit. "Ingat foto itu, Maya! Ingat Raka! Dia teman kita!"
Bayangan itu bergerak mendekat. Setiap langkahnya membuat memoriku tentang masa-masa KKN memudar. Aku lupa tawa kami di posko. Aku lupa bau kopi yang biasa kami seduh tiap malam. Aku bahkan mulai lupa bagaimana rupa ibuku di rumah. Penjaga itu adalah penghapus realitas.
"Kau... tidak punya hak... atas ingatan kami," desisku. Aku melangkah maju, menantang hawa dingin yang menusuk tulang. Logikaku meneriakkan peringatan bahaya, namun rasa tanggung jawabku sebagai ketua kelompokβsebagai orang yang seharusnya melindungi merekaβmengambil alih.
Aku mengeluarkan korek api dan meletakkan foto itu di atas mezbah batu. Jari-jariku mati rasa. Bayangan itu kini berada tepat di depanku. Aku bisa merasakan kekosongan yang ia pancarkan, sebuah kehampaan yang menjanjikan kedamaian jika saja aku menyerah dan membiarkan dia menghapus semuanya. Akan lebih mudah jika aku lupa. Tidak akan ada rasa bersalah. Tidak akan ada duka.
*Tidak.*
"Aku lebih baik mati dengan ingatan yang menyakitkan daripada hidup tenang sebagai cangkang kosong!" teriakku tepat ke arah lubang hitam yang merupakan wajah makhluk itu.
Aku menyalakan pemantik. Apinya kecil dan biru, terlihat rapuh di hadapan kegelapan yang begitu masif. Saat api menyentuh pinggiran foto Raka, makhluk itu mengeluarkan suara lengkingan yang memecah gendang telinga. Udara di sekitar kami meledak dalam tekanan yang luar biasa.
Memoriku yang sempat hilang berputar kembali seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi. Aku melihat Raka ditarik oleh penduduk desa ke ruang bawah tanah. Aku melihat ketakutan di matanya saat dia menyadari kamilah yang akan selamat sebagai imbalan atas nyawanya. Dan aku melihat kami semua berdiri di sana, membeku, sementara ingatan kami mulai dikikis sedikit demi sedikit oleh mantra jahat itu.
Foto itu mulai terbakar, tapi bukannya berubah menjadi abu hitam, asapnya berwarna putih terang, membentuk siluet seorang manusia di atas mezbah.
"Raka?" bisikku.
Namun, bayangan hitam itu tidak tinggal diam. Ia menerjang maju, menembus tubuhku. Rasanya seperti disiram air es yang membekukan darah. Pandanganku menggelap seketika. Aku jatuh tersungkur, merasakan tanah yang lembap di pipiku.
"Arya! Bangun!" suara Bima terdengar sangat jauh.
Aku berusaha membuka mata, namun yang kulihat bukan lagi hutan. Aku melihat sebuah ruang gelap dengan enam kursi yang melingkar. Dan di tengah-tengah kami, ada satu kursi kosong yang terus bergetar.
"Satu lagi," sebuah suara parau berbisik di telingaku, suara yang sangat mirip dengan suara Pak Danu. "Kontrak itu tidak bisa dibatalkan hanya dengan membakar kertas, Arya. Desa ini butuh keseimbangan. Jika satu kembali, satu harus menggantikannya."
Aku mencoba berteriak, tapi lidahku kelu. Di atas mezbah, api yang membakar foto itu tiba-tiba padam sebelum seluruh permukaannya hangus, menyisakan bagian wajah yang kini perlahan-lahan berubah. Wajah samar Raka di dalam foto itu mulai bergeser, fitur-fiturnya menajam, dan aku tersedak saat menyadari siapa yang kini menatap balik dari dalam bingkai kertas yang terbakar separuh itu.
Itu bukan lagi wajah Raka. Itu adalah wajahku sendiri.
Di saat yang sama, aku merasakan tangan-tangan tak terlihat mulai menarik kakiku ke dalam tanah yang kini berubah menjadi lumpur hisap yang dingin. Teman-temanku berdiri di sana, namun mereka tidak lagi menatapku dengan cemas. Mereka menatapku dengan pandangan bingung, seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja mereka temui di tengah hutan.
"Maaf, Mas, Anda siapa?" tanya Bima dengan nada sopan yang mengerikan, sementara tubuhku tenggelam hingga sebatas dada.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!