Udara di pinggiran Hutan Larangan malam ini terasa seolah-olah memiliki berat. Oksigen yang ma**k ke paru-paruku terasa dingin dan tajam, seperti menghirup serpihan es. Di depanku, sebuah lingkaran yang terbuat dari campuran tanah kuburan dan abu jati telah terbentuk. Di tengahnya, sebuah bingkai foto perak diletakkan mendatar—bingkai ketujuh yang selama ini menjadi misteri bagi kami berenam.
Tanganku gemetar saat meletakkan kemeja flanel kusam milik Raka yang ditemukan Pak Danu di atas foto itu. Di sampingku, Dinda dan Bimo berdiri dengan wajah sepucat kapas. Senter yang mereka pegang bergoyang-goyang, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di batang pohon besar yang mengelilingi kami.
"Arya, kau yakin tentang ini?" Suara Dinda nyaris tak terdengar, teredam oleh desis angin malam. "Pak Danu bilang, sekali dimulai, tidak ada jalan kembali."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti disumbat pasir. "Kita yang melupakannya, Din. Kita yang membiarkannya tertinggal di 'sana'. Ini satu-satunya cara untuk menariknya kembali ke realitas kita."
Aku mencoba memanggil kembali sisi logisku, sisi analitis yang biasanya membantuku keluar dari masalah. Namun, malam ini, logika itu terasa lumpuh. Bagaimana mungkin aku bisa menganalisis sesuatu yang melanggar hukum alam? Di dalam foto itu, sosok Raka—yang tadinya samar—kini mulai terlihat lebih jelas di bawah cahaya bulan purnama. Wajahnya yang tenang, berdiri tepat di tengah-tengah kami, seolah-olah dia memang selalu ada di sana.
Aku mulai merapal kalimat yang tertulis di lembaran kusam pemberian Pak Danu. Lidahku terasa kelu mengeja kata-kata dalam bahasa yang sudah punah, sebuah mantra yang lebih terdengar seperti rintihan daripada doa.
*“Sing kalingan, sing kependem, jupuk bali raga sing kacecer...”*
Saat kalimat terakhir keluar dari bibirku, api lilin di sekeliling lingkaran mendadak padam. Bukan ditiup angin, tapi seolah-olah oksigen di sekitar kami tersedot habis oleh sesuatu yang tak terlihat. Keheningan yang m****akkan telinga menyergap. Kemudian, suhu udara merosot drastis. Napasku berubah menjadi uap putih yang tebal.
"Arya... lihat fotonya," bisik Bimo. Suaranya bergetar hebat.
Aku menunduk. Permukaan kaca pada bingkai foto itu tidak lagi memantulkan cahaya bulan. Kaca itu berubah menjadi hitam pekat, cair, dan bergejolak seperti permukaan sumur tua yang dalam. Dari dalam kegelapan itu, sebuah tangan muncul. Kulitnya pucat kebiruan, jemarinya kurus panjang, meraba-raba pinggiran bingkai seolah mencoba mencari pegangan untuk memanjat keluar.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada dengan ritme yang menyakitkan. Inilah saatnya.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema. Suara itu tidak ma**k melalui telingaku, melainkan berdentum langsung di dalam tempurung kepalaku. Dingin, tanpa emosi, dan purba.
*“Keseimbangan harus dijaga. Ruang yang kosong harus diisi. Jika yang hilang ingin kembali, maka yang memanggil harus menyerahkan apa yang mendefinisikan dirinya.”*
Aku tertegun. "Maksudmu... nyawa?" tanyaku dengan suara serak.
*“Bukan nyawa. Identitas. Ingatan tentang siapa dirimu di kepala orang lain. Namamu akan dihapus dari setiap lidah, wajahmu akan pudar dari setiap mata. Kau akan menjadi bayangan, sebagaimana dia sebelumnya.”*
Dunia di sekitarku seolah berputar. Ketakutan terbesarku—kehilangan kendali atas realitas—kini berdiri tepat di hadapanku dalam bentuk pilihan yang mustahil. Jika aku setuju, Raka akan kembali. Dia akan pulang ke keluarganya, dia akan memiliki masa depan. Tapi aku? Aku akan menjadi orang asing bagi orang tuaku, bagi Dinda, bagi Bimo. Aku akan ada, tapi tidak dianggap nyata.
"Arya! Apa yang terjadi? Kenapa kau diam saja?" Dinda menarik lenganku. Matanya penuh ketakutan. Dia tidak mendengar suara itu. Hanya aku.
Aku menatap Dinda. Gadis yang selama ini selalu ada untukku. Jika aku memberikan 'identitasku', dia akan menatapku besok pagi dan bertanya, *“Siapa kau?”* Pikiran itu menghancurkan pertahananku.
Tangan dari dalam foto itu kini sudah mencapai pergelangan tangannya. Sosok Raka mulai muncul ke permukaan, wajahnya yang penuh penderitaan menatapku dari balik lapisan cairan hitam itu. Dia seolah berteriak tanpa suara, memohon untuk diselamatkan dari ketiadaan.
*“Pilih, Pemuda,”* bisik entitas itu lagi. *“Waktumu hampir habis. Berikan namamu, atau dia akan selamanya menjadi bagian dari kegelapan ini.”*
Aku melihat ke arah teman-temanku. Mereka bergantung padaku. Sebagai ketua kelompok, akulah yang membawa mereka ke desa ini. Akulah yang seharusnya melindungi mereka. Rasa tanggung jawab yang selama ini menjadi beban di pundakku kini terasa beratnya seperti gunung.
Logikaku berbisik bahwa ini adalah keg***an. Tapi nuraniku meneriakkan nama Raka—sahabat yang kami korbankan tanpa sengaja karena ketidaktahuan kami.
"Aku terima," ucapku tegas, meski suaranya pecah.
"Arya, kau bicara dengan siapa?" Bimo mencoba mendekat, tapi sebuah dinding energi transparan menghempaskannya mundur.
Aku mengabaikan mereka. Aku menempelkan telapak tanganku ke atas permukaan foto yang dingin itu, menyentuh tangan pucat yang keluar dari sana. "Ambil namaku. Ambil keberadaanku. Kembalikan Raka."
Seketika, rasa sakit yang luar biasa menghujam kepalaku. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menarik paksa benang-benang ingatanku. Aku melihat fragmen-fragmen hidupku melintas cepat: ulang tahun ketujuhku, kelulusan SMA, tawa bersama Dinda di kantin kampus—semuanya memudar, menjadi abu-abu, dan terbakar habis.
"Arya!" Dinda menjerit, tapi suaranya mulai terdengar jauh, seolah dia berada di ujung terowongan yang panjang.
Cahaya putih yang menyilaukan meledak dari tengah lingkaran. Aku merasa tubuhku ditarik ke dalam kehampaan yang dingin. Di saat yang sama, aku merasakan sebuah raga yang padat dan hangat menab**kku, keluar dari arah yang berlawanan. Itu Raka. Aku bisa mencium aroma sabun dan keringatnya saat kami bersinggungan di ambang pintu dimensi itu.
Pandanganku mulai mengabur. Hal terakhir yang kulihat adalah sosok Raka yang terkapar di tanah, terengah-engah menghirup udara malam, sementara Dinda dan Bimo berlari mendekatinya dengan tangis bahagia.
Namun, saat Dinda melewati tempatku berdiri, dia tidak menoleh. Dia tidak melihatku. Dia menembus bayanganku seolah-olah aku hanyalah gumpalan kabut yang tidak berarti.
"Raka! Kau kembali! Ya Tuhan, kau kembali!" teriak Dinda sambil memeluk pemuda itu.
Aku mencoba memanggil namanya. "Dinda..."
Tapi tidak ada suara yang keluar. Aku melihat tanganku sendiri, dan perlahan-lahan, jemariku mulai terlihat transparan. Di atas tanah, foto di dalam bingkai itu berubah sekali lagi. Sosok Raka di tengah kelompok kami telah hilang, dan kini, di posisi paling belakang, berdiri seorang pemuda dengan wajah yang perlahan-lahan mengabur.
Itu wajahku.
Ketakutan dingin menjalar di punggungku saat aku menyadari satu hal yang tidak disebutkan oleh entitas itu. Raka memang kembali, tapi dia tidak ingat siapa aku. Dan saat aku menatap teman-temanku untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar menelanku, aku menyadari bahwa bingkai itu tidak pernah hanya membutuhkan tujuh orang. Ia membutuhkan satu orang untuk selalu berada di sana—yang terhapus, agar yang lain bisa diingat.
Dan sekarang, giliran Raka yang menatap ke arah tempatku berdiri dengan dahi berkerut, seolah-olah dia merasakan ada sesuatu yang hilang, namun tak mampu mengingat apa itu.
"Siapa..." bisik Raka sambil menunjuk ke arah kekosongan di depannya. "Tadi ada seseorang di sini, kan?"
Dinda menoleh, menatap tepat ke arah mataku, namun tatapannya kosong. "Tidak ada siapa-siapa, Raka. Hanya kita berlima. Ayo, kita harus segera pergi dari sini."
Duniaku benar-benar gelap saat mereka berbalik dan berjalan pergi, meninggalkanku sendirian dalam keheningan hutan yang mematikan. Namun, di tengah kesunyian itu, aku mendengar langkah kaki lain mendekat. Langkah kaki yang berat dan berirama.
"Selamat datang di sisi yang lain, Arya," suara Pak Danu terdengar dari balik pepohonan, namun nadanya kini jauh lebih dingin dan penuh kemenangan. "Kau pikir kau adalah penyelamat? Kau hanyalah pengganti yang baru."
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!