Udara di Desa Sukma malam ini terasa seperti lempengan besi dingin yang menekan paru-paruku. Bau tanah basah dan aroma kemenyan yang samar—entah dari mana asalnya—terus menusuk indra penciumanku. Aku merapatkan jaket, namun rasa menggigil ini tidak berasal dari kulit, melainkan merayap dari balik tulang belakang.
Di sampingku, Arya berdiri kaku. Senter di tangannya gemetar, cahayanya melompat-lompat gelisah menyapu barisan pohon jati yang mengepung pelataran rumah tua milik Pak Danu. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan kini tampak pucat pasi di bawah siraman cahaya bulan yang tanggung.
"Arya, kita harus ma**k. Perasaan aku nggak enak," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, tipis dan rapuh.
Arya tidak menjawab. Matanya terpaku pada kegelapan di depan kami, tepat di bawah bayangan pohon beringin besar yang akarnya melilit tanah seperti jemari raksasa. "Hitung lagi, Sita," gumamnya pelan. Suaranya serak.
"Apa?"
"Hitung jumlah kita. Lagi."
Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Aku menoleh ke belakang. Ada Bima yang sedang merokok dengan gerakan gelisah, Dini yang terus menggenggam tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih, dan Leo serta Tio yang berdiri berdekatan seolah saling melindungi.
"Satu, dua, tiga, empat, lima... enam dengan kamu, Arya. Cuma ada enam orang. Seperti seharusnya," jawabku, mencoba menanamkan keyakinan yang sebenarnya aku sendiri tidak miliki.
"Lalu siapa itu?" Arya mengarahkan senternya ke arah kegelapan pekat di bawah beringin.
Awalnya, aku tidak melihat apa-apa. Hanya hitam yang solid. Namun kemudian, kegelapan itu seolah-olah memadat, membentuk siluet yang perlahan memisahkan diri dari bayangan pohon. Jantungku mencelos. Seseorang berjalan keluar dari sana. Langkahnya tidak bersuara di atas dedaunan kering, sebuah anomali yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Sosok itu mengenakan jaket almamater yang sama persis dengan milik kami. Warnanya biru tua, dengan logo kampus yang terlihat jelas saat ia melangkah ma**k ke dalam jangkauan cahaya senter Arya. Itu dia. Pria dari foto itu. Pria yang wajahnya selalu kabur dalam setiap jepretan kamera kami.
Namun sekarang, wajahnya tidak lagi samar.
Dia memiliki rahang yang tegas, rambut sedikit berantakan yang jatuh di dahi, dan sepasang mata yang menatap kami dengan tatapan yang sangat kosong—seolah-olah seluruh jiwanya telah dikuras habis.
"Raka..." Nama itu meluncur begitu saja dari bibirku, seakan ingatanku yang selama ini terkunci paksa tiba-tiba retak dan memuntahkan satu fragmen kebenaran.
Pria itu berhenti sekitar tiga meter di depan kami. Ia tidak tersenyum, tidak juga menunjukkan amarah. Ia hanya berdiri di sana, menjadi bagian dari realitas yang selama ini kami sangkal.
"Kalian kembali," suara Raka terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. Kering dan tak bernada. "Barangku... tertinggal."
Aku merasa lututku lemas. "Kamu... kamu benar-benar ada?"
Bima dan yang lainnya merapat ke arah kami, napas mereka memburu. Ketakutan massal itu menyebar seperti wabah. Namun, di tengah kekacauan emosi ini, ada sesuatu yang lebih mengerikan terjadi tepat di sampingku.
Arya menurunkan senternya. Cahayanya kini hanya menyinari kaki mereka yang penuh lumpur. Ia menoleh ke arahku, tetapi sorot matanya berubah. Ketajaman analitis yang biasanya memancar dari matanya hilang, digantikan oleh kebingungan yang murni dan menakutkan.
"Maaf," kata Arya sambil mengerutkan kening, menatapku seolah aku adalah orang asing yang baru saja menyapanya di tengah jalan. "Kamu... siapa ya?"
Duniaku serasa jungkir balik. "Arya, ini aku! Sita! Jangan bercanda, ini nggak lucu."
Arya mundur selangkah, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa. Ia beralih menatap Bima dan Dini yang berdiri di belakangku. "Kalian semua... kenapa kalian ada di sini? Di mana teman-temanku? Aku harus mencari kelompokku. Pak Danu bilang kami harus berenam."
"Arya, kami kelompokmu!" teriak Dini, suaranya melengking karena panik.
Arya memegangi kepalanya, meremas rambutnya dengan kasar. "Nggak, nggak mungkin. Wajah kalian... kenapa wajah kalian nggak ada di ingatanku?" Ia menunjuk ke arah Raka yang masih berdiri mematung. "Aku cuma kenal dia. Dia Raka. Dia anggota kelompokku. Tapi kalian... kalian ini siapa?"
Aku merasa sesak napas. Bagaimana mungkin Arya, si otak kelompok, orang yang paling keras kepala mengingat det**l, justru kehilangan kami dari ingatannya? Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang sedang menghapus kami dari benaknya, satu per satu, dan menggantinya dengan sosok yang selama ini terlupakan.
Raka mulai melangkah maju lagi. Kali ini, ia berjalan melewati aku—bahkan bahunya sedikit menyenggolku, terasa dingin seperti es—dan berhenti tepat di depan Arya.
"Mereka bukan siapa-siapa, Arya," ucap Raka tenang, matanya kini tertuju pada Arya dengan intensitas yang mengerikan. "Hanya aku yang bersamamu. Sejak awal, hanya ada kita."
"Arya, jangan dengarkan dia!" aku berteriak sambil mencoba menarik lengan Arya, tetapi dia menepis tanganku dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!" bentak Arya. Matanya yang biasanya hangat kini dipenuhi ketakutan yang dialamatkan padaku. "Siapa kamu? Kenapa kamu mengaku-ngaku mengenalku?"
Raka menoleh sedikit ke arahku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. Di bawah remang cahaya malam, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku. Bayangan Raka di atas tanah... bayangan itu tidak mengikuti gerakan tubuhnya. Bayangan itu tetap diam, memanjang ke arah kami, dan perlahan-lahan mulai merayap naik ke kaki Arya.
"Dia mulai ingat, Sita," bisik Raka, meskipun aku yakin jarak kami terlalu jauh untuknya berbisik secara normal. "Dan saat dia benar-benar ingat siapa aku, dia akan benar-benar lupa siapa kalian."
Arya mulai meracau, menyebutkan nama-nama yang tidak kukenal, sementara matanya terus menatap kosong ke arah kami. Ia seolah-olah sedang melihat tembus melewati tubuh kami, seolah-olah kami perlahan-lahan menjadi transparan di matanya.
Saat itulah aku menyadari kengerian yang sebenarnya. Kami tidak sedang berhadapan dengan hantu yang ingin membalas dendam. Kami sedang berada di tengah-tengah pertukaran.
"Arya, lihat aku!" aku menjerit, mencoba menggapai wajahnya, memaksanya untuk melihat mataku. "Sebut namaku! Tolong, sebut namaku sekali saja!"
Arya menatapku lama. Mulutnya terbuka, hendak mengucapkan sesuatu. Namun, sebelum satu kata pun keluar, cahaya senter di tangannya mati total. Kegelapan menyergap kami dalam sekejap, dan di tengah kegelapan itu, aku mendengar suara langkah kaki yang berat menjauh, diikuti oleh suara Arya yang memanggil satu nama dengan nada lega yang menyayat hati.
"Raka... syukurlah kau di sini. Ayo kita pergi dari orang-orang asing ini."
Dan di kegelapan itu, aku menyadari bahwa aku tidak lagi bisa merasakan keberadaan Arya di sampingku. Hanya ada suara tawa kecil yang dingin milik Raka yang menggema di antara pepohonan.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!