Uap teh meliuk-liuk dari cangkir porselen di atas meja kayu, menghilang ke udara pagi yang sejuk. Aku menggenggam cangkir itu, merasakan panasnya merambat ke telapak tanganku—sebuah sensasi fisik yang nyata, yang selama berbulan-bulan terasa seperti kemewahan yang mustahil. Aku ada. Denyut nadiku terasa di pergelangan tangan, bayanganku terpantul jelas di permukaan lant** yang dipoles, dan yang paling penting, orang-orang menyebut namaku tanpa mengerutkan kening karena bingung.
Aku menoleh ke arah pria yang duduk di kursi rotan di seberangku. Arya.
Dulu, dia adalah jangkar kami. Dialah yang selalu memegang peta, yang mengatur jadwal keberangkatan, dan yang paling vokal saat kami terjebak dalam kengerian di Desa Sukma. Sekarang, dia hanya duduk diam, matanya terpaku pada butiran debu yang menari di bawah sorot cahaya matahari yang menembus jendela kaca.
"Tehnya keburu dingin, Ya," ucapku pelan.
Arya tidak bergeming. Dia mengenakan sweter abu-abu yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kini menyusut. Wajahnya yang dulu tegas dan penuh perhitungan, kini tampak seperti kanvas kosong. Tidak ada kecemasan berlebih yang biasanya menghiasi keningnya. Tidak ada binar analitis saat dia mencoba memecahkan masalah.
"Maaf," sahutnya setelah jeda yang panjang. Suaranya datar, tanpa warna. "Kau tadi memanggilku apa?"
Dadaku terasa sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas paru-paruku. "Arya. Itu namamu."
Dia memiringkan kepala sedikit, lalu mengangguk sopan, tipe kesopanan yang biasa diberikan kepada orang asing yang baru ditemui di halte bus. "Tentu saja. Arya. Terima kasih sudah mengingatkan... Raka, kan?"
Aku mengangguk getir. Ironis. Selama berbulan-bulan, aku adalah hantu yang berteriak di tengah keramaian, memohon agar diingat. Aku adalah 'anggota ketujuh' yang dihapus dari sejarah, sosok samar dalam foto yang membuat mereka ketakutan. Sekarang, setelah perjanjian gelap di Desa Sukma itu dibongkar—atau lebih tepatnya, dinegosiasikan ulang dengan harga yang mahal—aku kembali ke dunia nyata. Namaku ada di daftar absensi, foto-fotoku tidak lagi kabur, dan orang tuaku memelukku seolah aku hanya pergi liburan singkat.
Namun, harganya adalah ini.
Arya kehilangan segalanya. Bukan nyawanya, tapi seluruh fragmen memori yang membentuk jati dirinya selama tiga tahun terakhir. Baginya, kampus adalah tempat asing. Teman-teman kami—Dina, kawan-kawan yang lain—hanyalah wajah-wajah tanpa nama yang sesekali berkunjung dengan mata sembab. Dan aku? Aku hanyalah seseorang yang menurut ibunya adalah "teman baik" yang membantunya pulih dari 'kecelakaan' yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan secara medis.
"Kau sedang melihat apa?" tanyaku, mencoba memancing percakapan.
Arya menunjuk ke arah tumpukan buku di sudut meja. Di atasnya terletak sebuah kamera DSLR tua, lensa yang dulu sering dia gunakan untuk mengabadikan momen-momen KKN kami. "Benda itu. Ibuku bilang aku sangat menyukainya. Tapi setiap kali aku memegangnya, tanganku gemetar. Seolah-olah benda itu menyimpan sesuatu yang... tajam."
Aku memperhatikan jemari Arya yang kurus. Memang benar, ujung jarinya bergerak-gerak gelisah.
"Mungkin kau hanya butuh waktu untuk membiasakan diri lagi," kataku, meski aku tahu itu bohong. Ingatannya bukan sekadar tertutup debu; ingatannya telah dicabut hingga ke akarnya oleh kekuatan yang kami hadapi di desa itu.
Arya beralih memandangku, tatapannya kosong namun tajam, seolah dia sedang mencoba melihat menembus kulitku. "Raka, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa pun, Ya."
"Apa kita pernah pergi ke suatu tempat yang sangat gelap?" Suaranya merendah, nyaris berbisik. "Tadi malam aku bermimpi. Ada suara lonceng, bau tanah basah yang menyengat, dan seseorang yang terus-menerus meminta maaf padaku. Wajahnya tidak kelihatan, tapi dia memegang tanganku dengan sangat erat. Sampai sakit."
Aku menelan ludah. Rasa pahit menjalar di pangkal lidahku. Orang yang meminta maaf itu adalah aku. Saat ritual penukaran itu terjadi di altar bawah tanah Desa Sukma, aku memegang tangannya, membiarkan kegelapan yang menyelimutiku berpindah perlahan ke dalam dirinya. Itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa kembali. Pak Danu sudah memperingatkan: *Keseimbangan harus dijaga. Jika yang hilang ingin ditemukan, maka yang menemukan harus bersedia tersesat.*
"Itu hanya mimpi buruk, Arya. Efek samping dari pemulihanmu," dustaku lagi. Kali ini, suaraku sedikit bergetar.
Arya tidak membantah. Dia kembali menatap ke luar jendela. Keheningan di antara kami terasa begitu berat, lebih menakutkan daripada teriakan mana pun yang pernah kudengar. Aku menyadari bahwa meski aku sudah 'kembali', aku tetap sendirian. Aku memiliki ingatan kami berdua, sementara dia memikul kekosongan yang tidak bisa kujelaskan.
Aku merogoh saku jaketku, menyentuh selembar foto lama yang kusimpan. Foto kami berenam—tambah aku di tengah-tengahnya. Sekarang foto itu sudah sempurna. Tidak ada wajah yang samar. Tidak ada bayangan aneh. Kami bertujuh berdiri dengan latar belakang gapura Desa Sukma, tersenyum lebar ke arah kamera.
Aku hendak menunjukkan foto itu kepada Arya, berharap ada sisa-sisa koneksi yang bisa memicu saraf ingatannya. Namun, saat tanganku baru saja mengeluarkan ujung kertas foto itu, Arya tiba-tiba berdiri.
Gerakannya begitu mendadak hingga kursi rotannya berderit keras di lant**. Wajahnya yang tadi kosong kini menegang. Matanya tidak lagi menatap butiran debu, melainkan tertuju pada sudut ruangan yang gelap, di balik lemari buku.
"Ada yang kurang, Raka," bisiknya tiba-tiba. Suaranya bukan lagi suara Arya yang tenang, melainkan penuh dengan ketakutan yang murni.
"Apanya yang kurang?" tanyaku, ikut berdiri dengan jantung berdebar kencang.
Arya menunjuk ke arah bayangannya sendiri di lant**. Di bawah sinar matahari yang cerah, bayangan Arya tampak memanjang. Namun, ada yang salah. Bayangan itu tidak mengikuti bentuk tubuhnya yang sedang berdiri tegak. Bayangan itu tampak sedang berjongkok, dengan kepala yang mendongak ke arah kami, dan tangan bayangan itu... perlahan-lahan mulai merayap menjauh dari kaki Arya, seolah-olah memiliki kehendaknya sendiri.
"Kenapa bayanganku tidak mau diam?" tanya Arya dengan suara gemetar, air mata mulai menggenang di matanya yang bingung.
Aku terpaku. Dingin yang familiar mulai merayap di tengkukku. Ternyata, Desa Sukma tidak benar-benar melepaskan kami begitu saja. Perjanjian itu belum selesai. Aku telah kembali ke dalam bingkai, tapi ada sesuatu yang lain yang ikut keluar bersamaku—atau mungkin, sesuatu yang tertinggal di dalam diri Arya dan kini menuntut ruang untuk keluar.
Pintu depan rumah tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras, padahal tidak ada angin. Dari arah ruang tamu, terdengar suara langkah kaki yang berat dan basah, seolah-olah seseorang baru saja keluar dari rawa.
"Raka..." Arya mencengkeram lenganku, kuku-kukunya menusuk kulit. "Siapa yang datang? Ibuku belum pulang, kan?"
Aku tidak bisa menjawab. Bau tanah basah dan bunga kamboja yang busuk tiba-tiba memenuhi ruangan, mencekik indra penciumanku. Aku tahu bau ini. Bau yang menandakan bahwa 'anggota kedelapan' baru saja tiba untuk menagih sisa hutang yang belum terbayar.
Lanjutkan Membaca Bab 23 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!