Aroma asam cairan pengembang film masih tertinggal di ujung hidung Sita, bercampur dengan bau kopi instan yang sudah mendingin di atas meja belajarnya. Kamar kosnya yang sempit terasa lebih sesak malam ini, dipenuhi oleh lembaran-lembaran foto yang digantung dengan penjepit kayu pada seutas tali rami yang melintang di sudut ruangan. Cahaya lampu meja yang kekuningan memantul pada permukaan kertas *glossy* yang masih sedikit lembap.
Sita menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak tadi sore. Di layar ponsel yang tergeletak di samping laptop, grup WhatsApp mereka masih riuh. Arya terus mengirimkan tangkapan layar foto digital hasil jepretan kamera ponsel miliknya yang menunjukkan sosok samar itu. "Histeria massa," gumam Sita pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar parau di kesunyian kamar.
Sebagai orang yang paling fanatik dengan fotografi analog di kelompok KKN mereka, Sita menolak percaya pada hantu digital. Baginya, sensor kamera ponsel pintar sering kali melakukan kesalahan algoritma saat memproses cahaya di tempat minim cahaya seperti Desa Sukma. *Noise*, *flare*, atau sekadar kegagalan perangkat lunak dalam membedakan bayangan pohon dan siluet manusia adalah penjelasan yang jauh lebih ma**k akal daripada kehadiran anggota ketujuh yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan.
"Ayo, Sita. Logika. Gunakan logikamu," bisiknya lagi, jemarinya yang ramping meraih sebuah lup kecil.
Dia mulai memeriksa satu per satu hasil cetakan dari rol film terakhir yang dia gunakan di hari perpisahan mereka di Desa Sukma. Kamera Nikon tuanya tidak memiliki sensor digital. Tidak ada algoritma yang bisa mengarang objek. Cahaya ma**k melalui lensa, membakar emulsi perak halida di atas pita seluloid, dan menciptakan jejak fisik dari realitas. Jika sosok itu benar-benar ada di sana, maka itu bukan kesalahan teknis. Itu artinya...
Sita menggelengkan kepala cepat, membuang pikiran itu jauh-jauh.
Dia mengambil satu foto yang paling krusial: foto kelompok di depan Gapura Desa Sukma saat fajar terakhir mereka di sana. Di foto digital Arya, sosok itu berdiri di antara Sita dan Bimo, tampak seperti noda abu-abu yang tidak fokus.
Sita mendekatkan lup ke permukaan foto fisiknya. Jantungnya mulai berdentum lebih kencang, memukul-mukul rongga dadanya hingga terasa linu.
"Tidak mungkin," desisnya.
Di bawah pembesaran lensa lup, sosok itu bukan lagi sekadar noda kabur. Di atas kertas analog yang jujur ini, sosok itu tertangkap dengan kejernihan yang menyakitkan. Dia adalah seorang pemuda, tingginya hampir menyamai Arya. Dia mengenakan jaket almamater yang sama persis dengan yang mereka pakaiβwarna biru dongker dengan logo universitas yang terlihat jelas di bagian dada kiri.
Sita merasakan tangannya mulai gemetar. Dia mengalihkan fokus lup ke bagian wajah.
Wajah itu tidak rata, seolah-olah kulitnya ditarik terlalu kencang atau tertutup oleh selapis kabut tipis, namun matanya... mata itu ada di sana. Dua titik gelap yang dalam, menatap lurus ke arah lensa kamera Sita. Pemuda itu tidak berdiri di belakang mereka; dia berdiri di barisan yang sama, bahunya bersentuhan dengan bahu Sita.
Sita melepaskan lupnya hingga berdenting jatuh ke atas meja. Dia menarik tangannya kembali seolah-olah foto itu baru saja membakar ujung jarinya. Napasnya memburu. Dia teringat saat foto itu diambil menggunakan *self-timer*. Dia ingat betul dia yang mengatur posisi tripod. Dia ingat Arya berdiri di tengah, Bimo di kanan, dan dia sendiri di kiri. Dia ingat merasakan dinginnya angin pagi di pundak kirinya yang terbuka.
Atau benarkah begitu?
Sita memejamkan mata, mencoba memanggil kembali ingatan fajar itu. Dia melihat bayangan dirinya berlari menuju barisan setelah menekan tombol *shutter*. Dia melihat teman-temannya tertawa. Namun, ada satu ruang kosong di ingatannyaβsebuah celah hitam yang aneh. Seharusnya dia merasa ada seseorang di sampingnya. Seharusnya dia merasa bersinggungan dengan lengan jaket orang lain.
Dia membuka mata dan kembali menatap foto itu dengan penuh kengerian. Di foto analog itu, bayangan pemuda tersebut jatuh sempurna ke tanah, searah dengan bayangan Sita dan teman-temannya yang lain. Sinar matahari pagi yang pucat memberikan dimensi yang nyata pada tubuhnya. Ini bukan *photobomb* oleh penduduk desa yang iseng. Ini bukan gangguan teknis.
Sita meraih ponselnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Dia membuka galeri, mencari foto-foto lain dari hari-hari sebelumnya. Di sebuah foto saat mereka makan malam di balai desa, sosok itu duduk di ujung meja, memegang gelas plastik. Di foto lain saat mereka mendaki bukit, sosok itu berdiri di belakang rombongan, menatap pemandangan.
"Siapa kamu?" bisik Sita, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dia kemudian menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Dia mengambil foto grup di depan gapura itu lagi, membawanya lebih dekat ke lampu meja hingga matanya perih. Dia memperhatikan det**l kecil pada leher pemuda itu. Ada sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk kameraβsebuah replika miniatur kamera tua yang sangat spesifik.
Sita tersedak udaranya sendiri. Dia meraba lehernya sendiri. Kosong.
Dia segera membongkar tas kecil yang selalu dia bawa saat KKN, mengaduk-aduk isinya dengan kalap hingga lipstik, dompet, dan kunci-kunci berhamburan. Di dasar tas, di dalam sebuah saku kecil yang tersembunyi, dia menemukan sebuah kotak kecil beludru. Dia membukanya.
Di dalamnya, terdapat liontin kamera yang sama persis dengan yang dipakai pemuda di foto itu. Namun, liontin itu patah menjadi dua bagian, seolah-olah dipaksa lepas dari rant**nya dengan kasar.
Tiba-tiba, ponsel di meja bergetar hebat. Sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Sita ragu sejenak sebelum menggeser tombol hijau dengan ujung jari yang dingin.
"Halo?" suara Sita nyaris tidak keluar.
Hening sejenak di ujung telepon, hanya suara desis angin yang aneh, seolah-olah penelepon berada di tempat yang sangat terbuka dan sunyi.
"Sita..." Suara itu berat, serak, dan terdengar seolah-olah datang dari tempat yang sangat jauh. "Kamu menjanjikan satu bingkai lagi untukku sebelum kita pulang. Kenapa kamu meninggalkanku di sini?"
Ponsel itu terlepas dari genggaman Sita, jatuh ke lant** kayu dengan bunyi debum yang keras, bersamaan dengan lampu kamarnya yang tiba-tiba berkedip dan padam total. Di tengah kegelapan, dalam sisa pendar cahaya bulan yang menembus jendela, Sita bersumpah dia melihat bayangan seseorang berdiri tepat di samping gantungan foto-fotonyaβseorang pemuda dengan jaket almamater biru dongker yang kini perlahan menoleh ke arahnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!