Lant** tiga gedung Rektorat pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Udara dari pendingin ruangan yang berdesis pelan di langit-langit lorong LPPM—Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat—seolah menusuk hingga ke tulang. Arya merapatkan jaket almamaternya, tangannya yang berkeringat dingin disembunyikan di dalam saku.
Di dalam kepalanya, suara Pak Danu masih terngiang, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak. *Kapan Raka akan kembali mengambil barangnya yang tertinggal?*
Siapa Raka? Nama itu tidak ada dalam memori Arya. Tidak ada dalam percakapan grup WhatsApp mereka selama dua bulan di Desa Sukma. Namun, di dalam tasnya, terselip sebuah foto hasil cetakan studio yang ia ambil kemarin sore. Di sana, di antara dirinya dan Rio, berdiri seorang pemuda berwajah buram yang kehadirannya terasa begitu nyata sekaligus mustahil.
"Permisi, Bu Sari?" Arya mengetuk pintu kaca yang terbuka separuh.
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertali menoleh dari balik tumpukan map. Ia tersenyum tipis, jenis senyum formal yang biasa diberikan staf administrasi kepada mahasiswa yang datang menagih nilai atau mengurus perizinan.
"Eh, Arya. Ketua kelompok Desa Sukma, kan? Ada apa lagi? Laporan akhirnya sudah ma**k, lho. Tinggal nunggu jadwal presentasi saja."
Arya memaksakan sebuah senyum, meski otot wajahnya terasa kaku. "Anu, Bu... saya cuma mau memastikan sesuatu untuk lampiran data administratif. Ada sedikit keraguan soal sinkronisasi nama di daftar hadir resmi dengan logbook harian kami."
Bu Sari mengernyit, jemarinya berhenti menari di atas kibor. "Bukannya sudah klop kemarin? Kalian kan berenam. Saya ingat betul karena Desa Sukma itu kuotanya paling sedikit tahun ini."
"Berenam..." Arya mengulang kata itu, lidahnya terasa pahit. "Iya, Bu. Tapi boleh saya lihat arsip aslinya sebentar saja? Hanya untuk memastikan ejaan nama-nama anggota saya sebelum laporannya dijilid permanen."
Bu Sari menghela napas, sedikit berdecak namun tetap beranjak menuju lemari besi di sudut ruangan. "Kalian ini, sudah mahasiswa tingkat akhir masih saja kurang teliti di awal."
Arya hanya terdiam, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokan. Ia memperhatikan Bu Sari menarik sebuah map cokelat besar bertuliskan *KKN Angkatan 42 - Gelombang II*. Wanita itu membawanya ke meja depan dan membukanya dengan gerakan lambat yang menyiksa bagi Arya.
"Nah, ini dia. Desa Sukma," ujar Bu Sari sambil menyodorkan selembar kertas dengan kop resmi universitas.
Arya mencondongkan tubuh. Matanya langsung menyisir daftar tersebut dengan kecepatan analitis yang biasanya ia gunakan untuk membedah data statistik kuliahnya.
1. Arya Wijaya (Ketua)
2. Dimas Setiadi
3. Tiara Anindita
4. Maya Puspita
5. Rio Pratama
6. Eko Prasetyo
Hanya enam. Dunianya seolah miring sesaat. Ia kembali menatap foto di dalam tasnya dalam ingatan—sosok ketujuh itu berdiri di sana, di tengah-tengah mereka. Jika daftar ini benar, maka siapa yang berdiri di sebelah Rio saat itu? Siapa yang ikut makan malam bersama mereka setiap hari? Siapa yang bayangannya tertangkap kamera?
"Sudah benar, kan?" tanya Bu Sari, mulai tidak sabar.
Arya tidak menjawab. Matanya terpaku pada baris di bawah nama Eko Prasetyo. Ada sesuatu yang janggal. Di baris nomor tujuh, kertas itu tidak kosong secara alami. Ada gumpalan tipis berwarna putih yang sedikit menonjol—bekas penggunaan cairan pengoreksi atau *tip-ex*.
Coretan itu dilakukan dengan sangat rapi, tetapi bagi mata Arya yang teliti, bekas itu terlihat seperti luka yang dipaksakan sembuh. Cairan putih itu melapisi sesuatu yang seharusnya ada di sana.
"Bu, ini... kenapa ada bekas *tip-ex* di nomor tujuh?" suara Arya terdengar serak.
Bu Sari mendekatkan wajahnya ke kertas, memicingkan mata di balik lensanya. "Oh, itu? Mungkin salah ketik atau ada mahasiswa yang batal berangkat sebelum pelepasan. Biasa itu, sering terjadi karena masalah administrasi atau kesehatan."
"Tapi boleh saya lihat di bawah cahayanya, Bu?" Tanpa menunggu izin, Arya sedikit menggeser kertas itu ke arah lampu meja yang terang.
Di bawah cahaya lampu neon yang putih tajam, rahasia di balik lapisan putih itu mulai menampakkan bayangannya. Tekstur kertas yang sedikit tertekan menunjukkan bekas ketikan mesin printer. Arya memicingkan mata, mencoba membaca relief huruf yang tertimbun di bawah cairan pengoreksi tersebut.
Huruf pertama adalah 'R'.
Dadanya bergemuruh. Ia terus memfokuskan pandangannya. 'A'... 'K'... 'A'.
R-A-K-A.
Nama itu ada di sana. Pernah ada di sana. Nama itu bukan sekadar igauan Pak Danu atau penampakan di sebuah foto. Raka adalah bagian dari kelompok mereka. Seseorang telah sengaja menghapusnya dari daftar resmi setelah daftar itu dicetak.
"Bu, siapa nama yang dihapus ini?" tuntut Arya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.
Bu Sari menarik kembali kertas itu, tampak tersinggung dengan kelakuan Arya. "Lho, ya mana saya tahu. Kalau sudah dihapus begini berarti memang dianggap tidak ada. Sistem kami hanya mencatat enam orang yang berangkat dan enam orang yang pulang. Tidak ada nama ketujuh di database digital kami."
"Tapi ini jelas-jelas nama seseorang, Bu! Lihat, ada bekasnya!" Arya menunjuk dengan jari yang sedikit gemetar.
"Mas Arya," suara Bu Sari mendingin, "Tugas saya adalah memastikan administrasi selesai. Dan menurut data yang sah, anggota kalian hanya enam. Tidak ada Raka, tidak ada siapa pun lagi. Mungkin Anda terlalu lelah setelah dari desa itu. Banyak mahasiswa yang pulang dari sana memang jadi agak... aneh."
Arya terpaku. *Aneh?* "Apa maksud Ibu dengan 'banyak mahasiswa'?"
Bu Sari seolah sadar ia telah bicara terlalu banyak. Ia segera menutup map cokelat itu dengan suara *plak* yang keras, memutus akses Arya terhadap bukti fisik tersebut.
"Sudah, kembalilah ke teman-temanmu. Urus saja laporan yang ada. Jangan mencari-cari masalah yang tidak perlu. Desa Sukma itu tempat yang tenang kalau kita tidak mengusiknya."
Arya berdiri kaku saat Bu Sari mengembalikannya ke lemari besi dan menguncinya. Ia keluar dari ruangan LPPM dengan perasaan seolah oksigen di koridor itu telah habis. Ia berjalan menuju bangku taman di depan gedung, tangannya merogoh tas dan mengeluarkan foto si**** itu.
Ia memperhatikannya sekali lagi. Di bawah sinar matahari pagi, wajah pemuda di foto itu tetap samar, seolah-olah cahaya menolak untuk memantulkan fiturnya dengan jelas. Namun, kini Arya yakin. Raka bukan hantu. Raka adalah rekan mereka. Seseorang yang berbagi tawa dengan mereka, seseorang yang mungkin berbagi beban kerja dengan mereka.
Dan yang paling mengerikan adalah: mereka berenam telah sepakat untuk melupakannya. Bukan karena tidak sengaja, tapi karena sesuatu telah memaksa ingatan mereka terhapus—sama kasarnya dengan cairan putih yang menghapus nama Raka di daftar LPPM.
Ponsel di saku Arya bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Rio di grup WhatsApp mereka.
*Rio: "Guys, kalian ngerasa nggak? Barang-barang di tas gue... ada jaket ekstra. Ukurannya bukan punya gue, dan ada bordiran nama di kerahnya. Tapi gue nggak kenal nama ini."*
Arya mengetik dengan jempol yang gemetar. *Siapa namanya, Yo?*
Detik berikutnya, balasan Rio membuat jantung Arya seolah berhenti berdetak.
*Rio: "Namanya Raka. Dan anehnya, bau jaket ini persis kayak bau kemenyan yang kita cium di balai desa malam terakhir itu."*
Arya menoleh ke arah gedung LPPM yang menjulang di belakangnya. Ia menyadari satu hal; mereka tidak hanya pulang membawa kenangan. Mereka membawa sesuatu yang seharusnya tetap tertinggal, dan Desa Sukma belum benar-benar melepaskan mereka.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. Arya tersentak, hampir menjatuhkan fotonya.
"Serius amat, Ya? Lagi mikirin apa?"
Itu Dimas. Namun, ada yang aneh dengan sorot matanya. Dimas tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya yang tampak kosong dan gelap. Di leher Dimas, Arya melihat bekas kemerahan yang melingkar, seolah-olah seseorang baru saja mencoba mencekiknya dengan seutas tali yang sangat tipis.
"Dim... lehermu kenapa?" bisik Arya horor.
Dimas menyentuh lehernya sendiri, lalu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar asing di telinga Arya. "Oh, ini? Mungkin digigit serangga waktu di desa kemarin. Baru kerasa gatalnya sekarang."
Arya mundur selangkah. Logika analitisnya berteriak. Dimas tidak pernah digigit serangga di leher. Dan yang lebih penting, bayangan Dimas di bawah sinar matahari pagi itu tampak sedikit lebih panjang dari yang seharusnya—seolah ada bayangan lain yang berhimpit di belakangnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!