Lampu meja di sudut kamar kosku yang sempit seolah mulai kehilangan kekuatannya. Cahaya kekuningan itu berkedip sesekali, memantul di atas permukaan meja kayu yang berantakan dengan tumpukan catatan kuliah dan enam lembar foto hasil cetak yang baru saja kuambil sore tadi. Di dalam setiap bingkai itu, di antara tawa kami berenam, terselip satu sosok yang seharusnya tidak ada di sana.
Aku mengusap wajah dengan kasar, merasakan telapak tanganku yang sedingin es. Pikiranku bekerja seperti mesin tua yang dipaksa berputar melebihi kapasitasnya. Secara analitis, ini tidak mungkin. Kamera itu milikku—sebuah analog lawas yang kupastikan filmnya tidak pernah terpapar cahaya sebelum digunakan. Aku sendiri yang menghitung jumlah kami setiap kali akan berfoto. Enam. Arya, Maya, Bimo, Satria, Dina, dan Tiara. Nama-nama itu terukir jelas dalam daftar absensi resmi kampus yang masih kusimpan di dalam map plastik biru. Hanya ada enam.
Namun, di dalam foto itu, dia berdiri di sana. Seorang pemuda dengan kaos oblong pudar dan wajah yang entah mengapa selalu tampak sedikit buram, seolah lensa kameraku menolak untuk menangkap fokus pada kulitnya. Ia berdiri di belakangku, atau terkadang di samping Satria, dengan tangan yang merangkul bahu salah satu dari kami dengan keakraban yang membuat bulu kudukku meremang.
Siapa kau?
Pertanyaan itu berulang-ulang di kepalaku seperti kaset rusak. Aku meraih lup, mencoba membedah setiap piksel dari cetakan fisik tersebut. Tidak ada jejak *double exposure*. Tidak ada bayangan yang ganjil. Dia benar-benar ada di sana saat itu, tapi ingatanku—ingatan kami semua—telah membuangnya.
Tepat saat aku hendak menyusun foto-foto itu berdasarkan urutan waktu pengambilannya, ponselku yang tergeletak di samping tumpukan buku tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, memecah kesunyian kamar yang hanya diisi oleh deru kipas angin tua.
Sebuah nomor tidak dikenal. Kode areanya berasal dari wilayah pedesaan di pinggiran kabupaten, tempat Desa Sukma berada.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering seperti diisi pasir. Logikaku berbisik bahwa ini mungkin hanya tawaran a**ransi atau salah sambung, tetapi firasatku berkata lain. Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar.
"Halo?" suaraku terdengar parau, bahkan di telingaku sendiri.
"Halo? Mas Arya?"
Suara itu. Berat, serak, dan memiliki aksen lokal yang kental. Aku segera mengenalinya. Itu adalah suara Pak Danu, pemilik rumah yang kami tumpangi selama dua bulan menjalani program KKN di Desa Sukma.
"Iya, Pak Danu. Ini Arya. Ada apa, Pak? Apa ada kabar dari desa?" tanyaku, mencoba menenangkan detak jantungku yang mulai memukul-mukul rongga dada.
"Ah, Mas Arya. Syukurlah tersambung. Saya tadi cari-cari nomornya di buku tamu balai desa," sahut Pak Danu. Terdengar suara kepulan asap di seberang telepon, seolah ia sedang mengisap rokok kreteknya di teras rumah yang gelap. "Maaf mengganggu malam-malam begini, Mas. Tapi ini soal barang-barang yang tertinggal."
Aku mengerutkan kening. Aku adalah orang terakhir yang meninggalkan rumah Pak Danu. Aku sudah memastikan semua ransel, peralatan masak, dan tumpukan laporan kami sudah ma**k ke dalam minibus. "Barang apa ya, Pak? Seingat saya, kami sudah membawa semuanya."
"Bukan punya Mas Arya atau Mbak Maya," Pak Danu menjeda kalimatnya sebentar. Terdengar suara jangkrik yang samar dari ujung telepon, membawa ingatanku kembali pada malam-malam sunyi di Desa Sukma yang terasa menyesakkan. "Ini barangnya si Raka. Tas carrier birunya masih ada di kolong tempat tidur kamar belakang. Sama jaket gunungnya yang warna hitam, itu masih tergantung di balik pintu."
Duniaku seolah berhenti berputar. Nafasku tertahan di kerongkongan.
"Pak..." kataku perlahan, mencoba memproses kata-katanya dengan logika yang tersisa. "Siapa... siapa yang Bapak maksud? Raka?"
Pak Danu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat wajar, seolah dia sedang membicarakan teman lama yang sedikit pelupa. "Lho, Mas Arya ini gimana. Ya Raka. Teman kalian yang pendiam itu. Masak sudah lupa? Dia yang sering bantu saya benerin pompa air di belakang. Kemarin waktu kalian pamitan buru-buru karena busnya datang, dia kayaknya lupa ambil tasnya di kamar."
Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori dahiku. Aku menatap foto di atas meja. Sosok pemuda di dalam bingkai itu. Wajah yang buram. Kehadiran yang tak terjelaskan.
"Pak Danu," suaraku bergetar, "kelompok kami hanya terdiri dari enam orang. Tidak ada yang namanya Raka. Tidak ada mahasiswa bernama Raka yang ikut ke Desa Sukma."
Hening. Sunyi yang tercipta di seberang telepon terasa jauh lebih mengerikan daripada suara jangkrik tadi. Keheningan itu berlangsung selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya Pak Danu berbicara kembali dengan nada yang berubah—lebih serius, hampir seperti sebuah peringatan.
"Mas Arya, jangan bercanda seperti itu. Tidak baik menghilangkan orang dari ingatan. Raka itu ada. Dia duduk di samping Mas Arya waktu acara perpisahan di balai desa. Dia bahkan yang paling banyak membantu warga saat proyek irigasi kemarin."
Aku mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jariku memutih. "Pak, saya ketua kelompoknya! Saya yang memegang daftar namanya! Raka itu tidak ada dalam daftar kampus kami!"
"Tapi dia ada di sini, Mas," suara Pak Danu menurun, menjadi bisikan yang mengirimkan gelombang dingin ke tulang belakangku. "Barang-barangnya ada di sini. Dan dia... dia juga meninggalkan pesan kemarin. Dia bilang, kalau dia tertinggal, Mas Arya pasti akan menjemputnya kembali."
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari dadaku. Aku menatap kembali foto ketujuh yang ada di atas meja. Kali ini, entah karena permainan cahaya atau halusinasiku yang mulai mengg***, wajah buram pemuda di foto itu tampak sedikit lebih jelas. Dia tidak sedang melihat ke arah kamera. Dia sedang melihat ke arahku.
Matanya—meski masih samar—tampak seolah sedang menuntut sesuatu.
"Dia menunggu, Mas Arya," lanjut Pak Danu. "Raka menunggu barangnya diambil. Atau, dia sendiri yang akan menyusul kalian ke kota untuk mengambilnya."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Aku menjauhkan ponsel dari telingaku dengan tangan yang gemetar hebat. Ruangan kosku yang sempit mendadak terasa terlalu luas dan penuh dengan bayang-bayang. Aku menatap tumpukan foto itu sekali lagi, dan mataku terpaku pada foto terakhir—foto kami saat berpamitan di depan rumah Pak Danu.
Di sana, di antara kami berenam yang melambaikan tangan ke arah kamera, sosok pemuda itu berdiri di tengah-tengah. Dan kali ini, aku menyadari sesuatu yang sebelumnya terlewatkan. Dia tidak memakai tas. Tangannya kosong.
Jika apa yang dikatakan Pak Danu benar, bahwa tas carrier birunya tertinggal di bawah tempat tidur... maka Raka pulang bersama kami tanpa membawa apa pun kecuali dirinya sendiri.
Dan dia sekarang ada di suatu tempat di kota ini, di antara kami, menunggu untuk diingat kembali. Atau mungkin, dia sedang berdiri di depan pintu kamarku saat ini.
Aku terpaku, telingaku menangkap suara langkah kaki pelan yang bergema di lorong kos yang seharusnya sudah sepi. Langkah itu berhenti tepat di depan pintuku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!