Hujan di luar kosanku turun seolah-olah langit sedang menumpahkan kemarahannya. Suara rintik yang menghantam atap seng terdengar seperti ribuan jemari yang mengetuk gelisah, persis seperti irama jantungku saat ini. Aku menatap layar ponsel yang menyala di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Di sana, di grup WhatsApp kami, pesan singkat yang kukirimkan setengah jam lalu masih menyisakan tanda centang biru yang membisu.
Aku melirik Arya yang duduk di sudut tempat tidurku. Wajahnya pucat pasi, lebih mirip mayat daripada seorang mahasiswa tingkat akhir. Matanya kosong, menatap lurus ke arah selembar foto hasil cetakan yang tergeletak di antara kami. Di dalam foto itu, kami berenam berdiri di depan gerbang Desa Sukma. Namun, di antara aku dan Arya, ada sesosok pemuda yang berdiri tegap dengan kemeja flanel biruβwajahnya seolah terhapus oleh kabut tipis, namun keberadaannya sangat nyata.
"Mereka akan datang, Ya. Tenanglah," ucapku, meski suaraku sendiri terdengar payah di telingaku.
Arya tidak menjawab. Jemarinya terus memilin pinggiran seprai, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat logikanya mulai berbenturan dengan kenyataan yang tidak ma**k akal.
Ketukan keras di pintu membuat kami berdua tersentak. Aku segera berdiri dan membukanya. Sita, Laras, Dimas, dan Gani ma**k dengan pakaian yang setengah basah. Bau tanah dan air hujan menyeruak ma**k, memecah aroma kopi instan yang sudah dingin di ruangan ini.
"Bim, ini g***. Kamu tahu jam berapa sekarang? Kenapa kita harus kumpul mendadak seperti ini?" Dimas langsung menyalak. Ia mengibaskan jaketnya, mengirimkan butiran air ke lant**. "Dan kenapa muka Arya seperti baru saja melihat hantu?"
"Duduklah dulu, Dim," kataku tegas. Aku mengunci pintu kamarβsesuatu yang biasanya tidak pernah kulakukan.
Sita, yang biasanya paling tenang, melipat tangan di dada. Matanya yang tajam menatap foto di atas meja. "Arya bilang Pak Danu menelpon. Tentang... Raka?"
Nama itu. Begitu Sita mengucapkannya, suhu di dalam kamar seolah turun beberapa derajat. Raka. Nama yang terasa asing, namun entah bagaimana, memicu rasa ngilu di bagian belakang kepalaku.
"Pak Danu bertanya kapan Raka akan mengambil barangnya yang tertinggal," Arya akhirnya bersuara. Suaranya serak, nyaris berbisik. "Dia bilang Raka adalah anggota kelompok kita. Dia bilang kita pulang bertujuh."
"Itu mustahil!" Gani memotong dengan tawa hambar yang dipaksakan. "Kita cuma berenam dari awal pendaftaran KKN. Aku yang mengurus berkasnya ke fakultas. Tidak ada nama Raka. Tidak ada mahasiswa bernama Raka di angkatan kita yang ikut ke Desa Sukma!"
"Lalu ini siapa, Gan?" Aku menyodorkan foto itu ke tengah meja.
Mereka semua terdiam. Laras menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. Dimas merebut foto itu, membawanya tepat ke bawah lampu pijar yang tergantung di tengah ruangan. Ia memicingkan mata, mencoba mencari celah atau bukti bahwa itu hanyalah efek cahaya atau kesalahan cetak.
"Ini cuma gangguan optik. Atau mungkin ada penduduk desa yang ikut berfoto dan kita lupa," gerutu Dimas, namun tangannya sedikit gemetar. "Kalian tahu sendiri kan, di Desa Sukma itu pencahayaannya buruk. Kamera analog Arya mungkin rusak."
"Di setiap foto, Dim?" Arya berdiri, suaranya naik satu oktaf. "Di tujuh rol film yang berbeda? Orang yang sama, di posisi yang berbeda, selalu berdiri di tengah-tengah kita? Dan Pak Danu... dia menyebut namanya dengan sangat jelas. Raka. Dia bahkan tahu Raka meninggalkan tas ransel hitam di balai desa!"
"C**up, Ya! Kamu cuma stres!" bentak Dimas. "Mungkin kamu terlalu banyak minum kopi atau kurang tidur selama di sana. Pak Danu itu sudah tua, mungkin dia pikun atau salah orang. Jangan bawa-bawa hal mistis ke sini hanya karena kamu merasa bersalah meninggalkan sesuatu di desa itu."
"Aku tidak bicara soal mistis, Dim! Aku bicara soal ingatan!" Arya maju selangkah, menantang Dimas. "Tidakkah kalian merasa ada yang aneh? Coba ingat baik-baik hari ketiga kita di sana. Siapa yang memasak makan malam saat Laras sakit? Aku ingat ada yang membantu, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dalam ingatanku. Rasanya seperti ada bagian yang sengaja dihapus dengan tip-ex dari otakku!"
Sita menggelengkan kepala, wajahnya menunjukkan skeptisisme yang keras. "Arya, secara psikologis, memori manusia itu tidak sempurna. Kita bisa mengalami *false memory* karena kelelahan atau tekanan kelompok. Kamu mulai paranoid, dan sekarang kamu berusaha menyeret kami ma**k ke dalam delusimu."
"Delusi?" Aku menyela, merasa tidak terima. "Aku juga merasakannya, Sit. Tadi malam, aku bermimpi. Ada seseorang yang tertawa di sebelahku saat kita mendaki bukit di belakang desa. Suaranya akrab, tapi begitu aku bangun, aku tidak bisa mengingat siapa dia."
"Kalian berdua sudah g***," Dimas mendengus kasar, ia berbalik menuju pintu. "Aku tidak punya waktu untuk drama ini. Besok aku ada bimbingan skripsi. Kalau kalian mau kembali ke desa itu hanya karena telpon dari orang tua yang mungkin sedang melantur, silakan. Tapi jangan ajak aku."
"Dim, tunggu!" Laras menahan lengan Dimas. Wajahnya yang pucat kini tampak pasi. "Tunggu... lihat ini."
Laras mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia membuka galeri foto, menunjukkan sebuah swafoto yang ia ambil di depan bus saat keberangkatan mereka sebulan yang lalu. Di sana, di pantulan kaca bus yang gelap, terlihat bayangan tujuh orang. Enam orang terlihat jelas, dan satu bayangan lagi berdiri di belakang mereka, memegang sebuah gitar yang terbungkus tas hitam.
"Aku... aku ingat gitar itu," bisik Gani, suaranya mendadak hilang keberaniannya. "Aku ingat ada yang memainkan gitar saat malam perpisahan di api unggun. Tapi... tapi siapa?"
Ketegangan di ruangan itu memuncak hingga terasa menyesakkan. Dimas menatap layar ponsel Laras, lalu menatap foto di meja, dan terakhir menatap kami satu per satu. Kemarahan di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh ketakutan murni yang mencoba ia sembunyikan di balik kerutan dahi.
"Ini lelucon yang buruk," bisik Dimas, namun ia tidak lagi melangkah menuju pintu.
Tiba-tiba, ponsel Arya yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang tidak dikenal, namun kode areanya sangat kami kenali. Itu adalah kode area wilayah Desa Sukma.
Kami semua terpaku, menatap ponsel yang terus berputar di atas kayu meja. Tidak ada yang berani bergerak. Di tengah keheningan yang mencekam itu, hanya suara dering telepon yang m****akkan telinga, seolah-olah desa itu sendiri yang sedang memanggil kami kembali.
"Angkat, Ya," kataku dengan suara yang hampir tidak keluar.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arya mengaktifkan pengeras suara. Bukannya suara Pak Danu yang terdengar, melainkan suara statis yang panjang, diikuti oleh sebuah senandung pelanβsebuah melodi lagu daerah yang sering kami dengar diputar di balai desa.
Lalu, sebuah suara pemuda yang terdengar sangat jauh namun sangat tenang berbisik dari seberang sana.
"Kalian meninggalkan aku... lagi."
Klik. Sambungan terputus.
Lampu di kamar kosku berkedip sekali sebelum akhirnya padam total, meninggalkan kami berenam dalam kegelapan yang pekat, sementara aroma bunga kamboja yang mendadak tajam memenuhi ruangan yang tertutup rapat itu. Di saat itulah aku menyadari, kami bukan hanya lupa. Kami telah melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!