Hujan di luar jendela kamar kos Sita turun dengan irama yang monoton, menciptakan simfoni rintik yang biasanya menenangkan. Namun malam ini, suara itu justru terdengar seperti bisikan-bisikan yang mencoba menyelinap ma**k melalui celah ventilasi. Sita duduk di tepi tempat tidur, menatap ransel besar berwarna abu-abu yang tergeletak di sudut ruangan. Ransel itu masih menyimpan sisa-sisa tanah merah dari Desa Sukma yang mengering di bagian bawahnya.
Sudah tiga hari sejak mereka kembali, tapi bayangan foto-foto itu—sosok ketujuh dengan wajah yang seolah terhapus oleh kabut—terus menghantui tidurnya. Ia bisa merasakan denyut di pelipisnya setiap kali ia mencoba mengingat-ingat siapa pemuda itu. Kosong. Memorinya seperti sebuah film yang sengaja digunting di bagian-bagian tertentu.
"Ayo, Sita. Cuma bongkar tas. Jangan berlebihan," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar parau di kesunyian kamar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sita menarik ritsleting tasnya. Suara *sreg* yang tajam membelah keheningan. Ia mulai mengeluarkan pakaian kotornya satu per satu—kaus kaki yang lembap, kemeja flanel yang bau asap api unggun, dan celana kargo yang penuh noda lumpur. Bau khas Desa Sukma—campuran antara tanah basah, lumut, dan sesuatu yang manis namun busuk seperti bunga kamboja yang layu—menyeruak keluar dari dalam tas.
Sita mengerutkan kening. Ia merasa sudah mengeluarkan semua pakaiannya ke dalam keranjang cucian. Namun, saat ia merogoh bagian paling dasar ransel, jemarinya menyentuh sesuatu yang tebal dan kasar. Teksturnya berbeda dari bahan pakaian yang ia miliki.
Ia menarik benda itu keluar.
Sebuah jaket almamater universitas berwarna biru tua. Kondisinya lembap, seolah-olah baru saja dipakai menerobos hujan lebat, dan terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya. Sita terpaku. Ia tidak merasa pernah membawa jaket almamater saat berangkat KKN. Cuaca di Desa Sukma sangat panas di siang hari, dan ia lebih suka memakai *hoodie* tipis miliknya jika malam tiba.
"Punya Arya? Atau mungkin Dimas?" Sita berbisik, mencoba mencari penjelasan logis.
Ia membentangkan jaket itu di atas ka**r. Ukurannya jelas bukan ukuran perempuan. Bahunya lebar, potongannya maskulin. Sita membolak-balik jaket itu, mencari petanda pemiliknya. Saat itulah, indra penciumannya menangkap sesuatu yang kuat. Jaket ini tidak berbau detergen seperti miliknya. Jaket ini berbau dupa dan minyak kayu putih yang menyengat, aroma yang identik dengan rumah-rumah penduduk di Desa Sukma.
Jantung Sita mulai berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Ia teringat percakapan di grup WhatsApp mereka tadi sore. Arya menceritakan telepon ganjil dari Pak Danu yang menanyakan tentang seseorang bernama 'Raka' yang tertinggal.
Dengan jari-jari yang mendingin, Sita membalik kerah jaket tersebut. Di sana, pada bagian label merk yang sudah agak menguning, terdapat coretan spidol permanen hitam yang mulai memudar namun masih sangat jelas terbaca:
**RAKA – ANGKATAN 17**
Sita tersentak, menjauhkan tangannya seolah-olah jaket itu baru saja menyengatnya. Ia merangkak mundur hingga punggungnya menab**k dinding dingin. Napasnya memburu.
*Raka.*
Nama itu bukan sekadar bualan Pak Danu. Nama itu nyata. Jaket itu nyata. Ada di dalam tasnya, terselip di antara barang-barang pribadinya seolah-olah memang seharusnya berada di sana. Tapi bagaimana mungkin? Ia sendiri yang mengepak tasnya sebelum pulang. Ia ingat betul setiap senti ruang di dalam ransel itu, dan tidak ada tempat bagi sebuah jaket almamater tebal milik orang asing.
Tiba-tiba, rasa dingin yang menusuk merayap naik dari ujung kakinya. Sita menatap jaket itu dengan ngeri. Di bawah lampu kamar yang temaram, ia menyadari sesuatu yang sebelumnya terlewatkan. Ada noda gelap di bagian lengan jaket, sesuatu yang tampak seperti percikan lumpur hitam, tapi saat ia memberanikan diri untuk melihat lebih dekat, noda itu berwarna merah kecokelatan yang pekat.
Darah yang sudah mengering.
Sita menyambar ponselnya yang tergeletak di nakas, jarinya dengan panik mencari kontak Arya. Ia ingin berteriak, ingin menanyakan apakah ini semua hanya lelucon g*** yang disiapkan teman-temannya. Namun, tepat sebelum ia menekan tombol panggil, sebuah sensasi aneh menghampirinya.
Ia mencium aroma itu lagi. Aroma dupa.
Bukan berasal dari jaket, melainkan terasa seperti ada seseorang yang baru saja berdiri tepat di belakang bahunya dan mengembuskan napas di dekat telinganya.
Sita mematung. Bulu kuduknya berdiri tegak. Di pantulan layar ponselnya yang hitam, ia melihat bayangan samar di belakangnya. Seorang pemuda berdiri di sudut kamar yang gelap, mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia lihat di foto ketujuh. Wajahnya tetap tidak jelas, seperti fitur wajahnya telah dihapus oleh tangan yang tak terlihat, hanya menyisakan lubang hitam di tempat mata seharusnya berada.
"Sita..."
Sebuah bisikan lirih, nyaris seperti gesekan daun kering, menyebut namanya. Suara itu tidak berasal dari telinganya, melainkan bergema langsung di dalam kepalanya.
Sita ingin menjerit, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Saat ia memberanikan diri menoleh ke belakang dengan gerakan lambat yang menyiksa, sudut kamarnya kosong. Hanya ada bayangan rak buku dan tumpukan kardus. Namun, ketika ia kembali menatap ke arah tempat tidur, jaket itu tidak lagi terbentang rapi.
Jaket almamater itu kini dalam posisi terduduk di atas ka**r, seolah-olah ada tubuh tak kasatmata yang sedang memakainya, dengan bagian lengan yang terangkat perlahan, menunjuk tepat ke arah wajah Sita.
Sita merasakan dunianya berputar. Memorinya yang terfragmentasi tiba-tiba memunculkan satu kilasan singkat: ia berdiri di pinggir hutan Desa Sukma, memegang senter, dan seseorang di sampingnya—seorang pemuda—tersenyum padanya sambil menyerahkan jaket itu karena Sita sedang menggigil.
"Pakai ini, Sit. Kamu bisa balikin nanti kalau kita sudah sampai rumah," suara pemuda itu dalam ingatannya terdengar begitu akrab.
Sita terisak. Air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Siapa kamu?" bisiknya lirih ke arah jaket yang tegak itu.
Ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Sita menatap layar dengan mata membelalak. Di bawah nomor asing itu, muncul sebuah pesan teks otomatis yang biasanya dikirim saat seseorang tidak bisa mengangkat telepon:
*"Aku cuma mau mengambil apa yang tertinggal, Sita. Buka pintunya."*
Tepat saat itu, tiga ketukan pelan terdengar di pintu kamar kosnya. *Tok... tok... tok...*
Bukan ketukan dari ibu kos, bukan pula ketukan Arya. Itu adalah ketukan yang berat, berirama, dan penuh tuntutan. Ketukan dari seseorang yang seharusnya tidak pernah ada, namun kini menagih keberadaannya kembali.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!