Cahaya biru dari layar laptop memantul di kacamata Arya, menciptakan bayangan ganda yang menari-nari di dinding kamar kosnya yang sempit. Jarum jam di dinding sudah melewati angka satu dini hari, tapi kantuk seperti hal mewah yang tidak bisa ia beli. Suara detak jam itu terdengar seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti matiβlambat, ritmis, dan menyiksa.
Di atas meja, foto hasil cetakan itu tergeletak. Enam orang mahasiswa tersenyum ke arah kamera dengan latar belakang balai Desa Sukma yang suram. Namun, di antara sela-sela bahu Arya dan Bimo, sesosok pemuda berdiri di sana. Wajahnya tidak pernah benar-benar fokus, seolah-olah lensa kamera menolak untuk menangkap fitur wajahnya secara utuh.
"Raka," bisik Arya. Lidahnya terasa kelu saat mengeja nama itu.
Nama yang disebutkan Pak Danu di telepon tadi sore terus berdengung di telinganya seperti lalat si****. Siapa Raka? Mengapa seorang warga desa asing lebih mengingat nama itu daripada Arya, yang notabene adalah ketua kelompok KKN mereka sendiri?
Tangan Arya yang sedikit gemetar meraih *mouse*. Ia membuka portal akademik universitas, ma**k menggunakan akun mahasiswanya, dan mulai mengetik di kolom pencarian data mahasiswa.
*R-A-K-A.*
Hasilnya muncul dalam hitungan detik. Ada puluhan nama Raka di universitas ini. Raka Pradipta, Raka Pratama, Raka Mahendra. Arya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Ia beralih ke Instagram, berharap algoritma media sosial lebih cerdas daripada database kampus yang kaku.
Ia mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: "KKN Desa Sukma", "Kelompok 12", "Raka".
Hasilnya nihil. Ia mencoba cara lain. Ia membuka daftar pengikut di akun Instagram miliknya sendiri. Jari-jarinya bergerak lincah, menelusuri abjad R. Tidak ada. Ia membuka daftar pengikut Maya, lalu Bimo, lalu tiga anggota lainnya. Tetap tidak ada.
"Mustahil," gumamnya. Napasnya mulai pendek, sebuah gejala awal dari kecemasan yang biasa ia alami. "Kalau dia ada di foto itu, dia pasti bagian dari kita. Dia harusnya ada di grup WhatsApp, di daftar pengeluaran makan, di mana saja!"
Arya membuka galeri ponselnya. Ia mencari foto-foto lama selama masa persiapan KKN, sebulan sebelum mereka berangkat ke Desa Sukma. Ada foto saat mereka rapat di kantin teknik. Arya menghitung kepala dalam foto itu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Hanya enam.
Lalu ia membuka foto saat mereka tiba di perbatasan desa. Di sana, di depan gapura kayu yang sudah lapuk, mereka berfoto bersama. Kali ini, Arya membelalak. Di pojok kiri bawah, ada bayangan seseorang yang terpotong. Hanya sebagian lengannya yang terlihat, mengenakan jaket almamater yang sama dengan mereka.
Hawa dingin mendadak merayap naik dari ujung kakinya. Arya kembali ke mesin pencari, kali ini ia mencari lebih spesifik: "Raka + Teknik Sipil + 2021" (angkatan mereka).
Sebuah profil muncul. Tanpa foto profil. Nama penggunanya hanya *@raka.abdi88*.
Arya mengeklik profil itu dengan jantung yang berdegup kencang. Akun itu dikunci. Namun, yang membuat bulu kuduk Arya meremang bukanlah privasi akun tersebut, melainkan jumlah pengikutnya. Ada lima nama yang ia kenal di daftar pengikut yang sama: Maya, Bimo, Satya, Dina, dan... dirinya sendiri.
"Aku mengikutinya?" Arya terkesiap. Ia menatap layar itu tidak percaya. Tombol biru bertuliskan 'Mengikuti' seolah mengejek kewarasannya. Bagaimana mungkin ia mengikuti seseorang yang namanya bahkan tidak ia ingat?
Ia mencoba melihat unggahan terakhir akun tersebut melalui aplikasi pihak ketiga yang biasa digunakan untuk mengintip profil yang dikunci, tapi gagal. Akhirnya, ia beralih ke Twitterβplatform yang biasanya lebih jujur dalam meninggalkan jejak digital.
Di kolom pencarian Twitter, ia mengetik nama pengguna yang sama. Sebuah cuitan lama muncul dari bulan Juli, tepat tiga hari sebelum keberangkatan mereka ke Desa Sukma.
*@raka.abdi88: "Persiapan beres. Desa Sukma, here we go! Semoga sebulan ke depan lancar sama tim gokil @aryasatya @mayandira @bimoputra..."*
Arya merasa dunianya miring. Ia melihat namanya ditandai dalam cuitan itu. Ia mengeklik tanggal cuitan tersebut. 12 Juli. Hari keberangkatan.
Lalu, ia memeriksa aktivitas akun itu setelah tanggal tersebut.
Kosong.
Tidak ada cuitan lagi. Tidak ada balasan. Tidak ada *like*. Akun itu berhenti berdenyut tepat di hari mereka menginjakkan kaki di Desa Sukma.
Sambil menahan mual, Arya meraih ponselnya dan menelepon Bimo. Nada sambung berbunyi lama sebelum suara serak khas orang bangun tidur menjawab.
"Halo... Ary? G*** lo, jam berapa ini?"
"Bim, buka Instagram lo. Cari akun @raka.abdi88. Sekarang." Suara Arya terdengar mendesak, hampir seperti perintah.
"Siapa sih? Raka... Raka yang dibilang Pak Danu itu?" Terdengar suara gesekan kain, sepertinya Bimo sedang duduk di tempat tidurnya. "Bentar... aduh, mata gue masih sepet."
Hening beberapa saat. Arya bisa mendengar napas Bimo yang berat melalui telepon.
"Ketemu?" tanya Arya tidak sabar.
"Ketemu," suara Bimo mendadak berubah. Kantuknya hilang seketika, digantikan oleh nada yang dingin dan penuh kebingungan. "Gue... gue *follow* dia, Ry. Tapi gue nggak ingat pernah memencet tombol *follow* buat orang ini. Dan lihat postingan terakhirnya..."
"12 Juli," potong Arya. "Sama seperti akun Instagram-nya. Dia berhenti memposting apa pun tepat saat kita sampai di Sukma."
"Ry, ini nggak lucu. Apa dia... apa dia mahasiswa yang batal ikut?"
"Nggak mungkin, Bim. Pak Danu bilang dia mau ambil barangnya yang tertinggal. Pak Danu ingat dia ada di sana. Dan foto itu... foto yang kita cuci tadi siang... dia ada di sana bersama kita sampai hari terakhir."
Arya kembali menatap layar laptopnya. Ia mencoba menekan tombol "Kirim Pesan" pada profil Raka, sekadar ingin mencoba peruntungan. Namun, saat ia membuka ruang obrolan, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ada riwayat percakapan di sana.
Pesan terakhir dikirim oleh Arya sendiri, tanggal 15 Agustusβhari terakhir mereka di Desa Sukma, tepat sebelum mereka naik ke bus untuk pulang.
Isi pesannya singkat, hanya satu kalimat: *"Jangan khawatir, Rak. Kami semua sudah sepakat. Kamu akan tetap di sini, dan kami akan menjaga rahasianya."*
Arya melepaskan ponselnya hingga terjatuh ke lant** kayu. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak pernah menulis pesan itu. Ia tidak mungkin menulis pesan itu. Tapi di sana, di bawah cahaya biru yang pucat, pesan itu nyata.
Di ujung telepon, suara Bimo terdengar panik memanggil-manggil namanya. "Ry? Arya! Lo masih di sana? Ry, gue baru ingat sesuatu... gue buka galeri gue, dan ada satu video pendek pas kita perpisahan di balai desa. Ry, lo harus lihat ini..."
"Apa, Bim?" suara Arya hampir tidak keluar.
"Di video itu, kita lagi pelukan melingkar... tapi ada satu celah kosong di antara gue dan lo. Kita semua nangis, Ry. Kita semua nangis sambil menghadap ke celah kosong itu, seolah-olah ada orang di sana yang lagi kita ajak bicara. Dan lo... lo di video itu lagi megang jaket almamater yang... yang nggak ada pemiliknya."
Arya menutup matanya rapat-rapat, tapi bayangan pesan di layar laptopnya justru makin jelas. *Kami semua sudah sepakat.*
Apa yang sudah mereka sepakati? Dan mengapa satu-satunya cara untuk menepati kesepakatan itu adalah dengan menghapus eksistensi seorang manusia dari ingatan mereka sendiri?
Tiba-tiba, lampu kamar kos Arya berkedip sekali, lalu padam total. Dalam kegelapan itu, hanya layar laptopnya yang masih menyala, menampilkan profil tanpa wajah milik Raka. Dan untuk sesaat, Arya bersumpah ia melihat bayangan seseorang berdiri tepat di belakang kursinya, terpantul di permukaan layar yang gelap.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!