Layar laptop di hadapanku berpendar terang, kontras dengan kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu meja temaram. Mataku perih, namun jemariku terus menari di atas *keyboard*. Sudah tiga jam aku terjebak dalam pusaran pencarian nama "Raka" di berbagai platform media sosial. Masalah utamanya adalah aku tidak tahu nama belakangnya. Raka hanyalah sebuah nama yang terlontar dari bibir Pak Danu, potongan teka-teki yang seharusnya tidak ada di sana.
Aku menyugar rambut dengan frustrasi. Di samping laptop, cetakan foto itu masih tergeletak. Wajah pemuda itu tetap samar, seolah-olah lensa kamera menolak untuk menangkap esensinya secara utuh. Namun, posisinya di tengah-tengah kami—di antara aku dan Bimo—terasa begitu alami, seakan dia memang bagian dari jiwa kelompok KKN kami.
"Ayo, pasti ada sesuatu," gumamku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau di kesunyian malam.
Aku mencoba metode lain. Aku mencari unggahan lama dengan *tag* lokasi Desa Sukma dari rentang waktu kami di sana. Hasilnya nihil, sampai aku memutuskan untuk mencari di arsip grup angkatan kampus. Aku mengetik kata kunci "Raka" dan memfilter tahun ma**k kami.
Layar berkedip, menampilkan satu profil yang sudah tidak aktif selama dua tahun. Namanya Raka Aditya. Foto profilnya kosong, hanya siluet abu-abu standar. Namun, ada satu hal yang membuat jantungku berdegup kencang: di kolom komentar sebuah kiriman lama, seseorang menandai akun itu dan menyebutnya sebagai "calon peserta KKN Desa Sukma".
Aku mengeklik profil itu dengan tangan gemetar. Kosong. Hampir tidak ada aktivitas. Namun, di bagian informasi umum, ada sebuah tautan ke akun Facebook lama yang sudah berdebu. Di sana, aku menemukan apa yang kucari. Sebuah foto keluarga yang diunggah lima tahun lalu. Di pojok kiri, seorang remaja laki-laki tersenyum kaku ke arah kamera. Meski lebih muda, struktur rahang dan sorot matanya identik dengan sosok yang menghantui foto-foto KKN kami.
Di bawah foto itu, ada komentar dari seorang wanita bernama Lastri Wijaya: *"Anak lanangku sing ganteng sendiri."*
Aku menelan ludah. Lastri Wijaya. Nama itu membawa petunjuk baru. Aku mencari nomor telepon yang mungkin terhubung dengan nama itu di basis data alumni atau direktori publik yang bisa kuakses dengan sedikit trik pencarian. Setelah lima belas menit yang menegangkan, aku mendapatkan sebuah nomor ponsel.
Ponsel di genggamanku terasa dingin. Aku melirik jam dinding—hampir pukul sepuluh malam. Tidak sopan, tapi aku tidak bisa menunggu sampai pagi. Rasa cemas ini seperti asam yang mengikis dinding lambungku.
Aku menekan tombol panggil.
*Tuuuut... Tuuuut...*
Setiap nada sambung terasa seperti dentum lonceng kematian. Aku mengatur napas, mencoba menyusun kalimat yang tidak akan membuatku terdengar seperti orang g***.
"Halo?" Suara seorang wanita paruh baya terdengar di ujung sana. Suaranya lembut, namun terdengar lelah.
"Halo, selamat malam. Benar ini dengan Ibu Lastri?" tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku tetap stabil.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?"
"Nama saya Arya, Bu. Saya mahasiswa dari universitas yang... yang sedang melakukan pendataan ulang untuk program KKN. Saya minta maaf mengganggu malam-malam, tapi saya ingin menanyakan perihal Raka. Raka Aditya."
Hening.
Kesunyian di seberang sana berlangsung begitu lama hingga aku sempat mengira sambungan teleponnya terputus. Aku menjauhkan ponsel dari telinga untuk memeriksa layar, tapi durasi pangg***n masih berjalan.
"Bu? Ibu masih di sana?"
"Maaf, Mas Arya," suara Ibu Lastri kembali terdengar, namun nadanya berubah. Ada getaran aneh di sana—campuran antara kebingungan dan ketidaksukaan yang halus. "Mas ini salah sambung atau bagaimana? Raka siapa?"
Aku mengerutkan kening. "Raka Aditya, Bu. Putra Ibu. Saya menemukan kontak Ibu melalui... melalui data keluarga Raka di kampus."
Terdengar suara tawa kecil yang kering dari ujung telepon. Tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun, melainkan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Mas, jangan bercanda. Saya ini hanya punya dua anak perempuan. Keduanya sudah menikah dan tinggal di luar kota. Saya tidak pernah punya anak laki-laki, apalagi yang namanya Raka."
Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat. "Tapi, Bu... saya melihat foto di Facebook Ibu. Foto keluarga lima tahun lalu. Ada seorang anak laki-laki di sana. Raka."
"Mas Arya," suara Ibu Lastri kini menjadi tajam dan dingin. "Saya tidak tahu apa yang Mas bicarakan atau foto mana yang Mas manipulasi. Saya dan suami saya tidak pernah dikaruniai anak laki-laki. Kami sudah tinggal di rumah ini selama tiga puluh tahun, dan semua tetangga tahu itu. Tolong jangan hubungi saya lagi dengan cerita aneh seperti ini."
"Tunggu, Bu! Pak Danu di Desa Sukma bilang—"
*Klik.*
Sambungan diputus sepihak. Aku terpaku, menatap layar ponsel yang perlahan meredup. Kamar kosku mendadak terasa jauh lebih dingin. Aku segera membuka kembali laptopku, berniat mengambil tangkapan layar foto keluarga di Facebook Ibu Lastri sebagai bukti.
Aku menekan tombol *refresh* pada peramban.
Halaman itu memuat ulang, namun sebuah kotak dialog muncul di tengah layar: *Konten ini tidak lagi tersedia.*
Aku mencoba mencari kembali akun Lastri Wijaya. Hilang. Aku mencari akun Raka Aditya yang tadi kutemukan. Lenyap. Seolah-olah dalam hitungan detik setelah pangg***n telepon itu, jejak digital mereka disapu bersih oleh tangan yang tak terlihat.
Aku bersandar di kursi, napas ditarik pendek-pendek. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Ini tidak ma**k akal. Logikaku berteriak bahwa ini adalah bentuk *gaslighting* kolektif yang sangat rapi, tapi kenyataannya jauh lebih mengerikan.
Aku meraih foto cetakan itu lagi, menatap sosok ketujuh di sana. Kini, saat aku memperhatikannya lebih dekat, aku menyadari sesuatu yang sebelumnya terlewatkan. Sosok Raka di foto itu tidak lagi samar karena masalah pencahayaan atau fokus kamera.
Wajahnya tampak perlahan-lahan memudar, seolah-olah kertas foto itu sendiri sedang berusaha menelan keberadaannya. Dan yang membuatku hampir menjatuhkan foto itu adalah posisi tangan Raka. Di foto tersebut, dia tidak lagi berdiri diam. Jari-jarinya tampak menunjuk ke arah tas ransel milikku yang tergeletak di sudut foto—tas yang sama yang saat ini berada di atas tempat tidurku.
Dengan tangan gemetar, aku mendekati tas ransel itu. Aku merogoh saku paling depan yang jarang kugunakan. Jemariku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah dompet kulit cokelat yang tampak usang.
Aku menariknya keluar. Jantungku berpacu g***-g***an saat aku membukanya. Di dalam slot kartu transparan, terdapat sebuah Kartu Tanda Mahasiswa yang sudah retak.
Nama yang tertera di sana adalah Raka Aditya. Namun, pada bagian pas foto, bukan lagi wajah pemuda itu yang kulihat. Wajah di kartu itu telah berubah menjadi wajahku sendiri, dengan latar belakang merah yang seolah-olah mulai mencair seperti darah.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!