Aroma getir rimpang kunyit dan pedas hangat jahe merah memenuhi udara di kamar kosku yang sempit namun tertata rapi. Di atas meja kayu kecil yang biasanya penuh dengan buku-buku teks metodologi penelitian, kini berjejer toples kaca berisi bubuk temulawak, kayu manis, hingga beberapa jenis akar kering yang masih asing bagi kebanyakan orang modern. Bagiku, mereka adalah kawan. Mereka adalah kendali.
Aku menekan alu batu ke dalam lumpang, mengulek beberapa iris kencur dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Ini adalah rutinitas suciku setiap Jumat malam. Di saat mahasiswi lain sibuk memoles lipstik untuk pergi ke kelab atau sekadar nongkrong di kafe kekinian, aku lebih memilih untuk memastikan sistem imun dan keseimbangan hormonku tetap terjaga.
Namun, ketenangan itu seketika hancur berkeping-keping.
*DUG! DUG! DUG!*
Dinding triplek yang memisahkan kamarku dengan kamar sebelah bergetar hebat. Dentuman bass musik EDM yang m****akkan telinga mulai merembes ma**k, menginvasi ruang pribadiku. Aku memejamkan mata, meremas alu di tanganku hingga buku-bukuku memutih.
"Lagi-lagi dia," desis kaku dari sela gigiku.
Leo. Si tetangga sebelah yang seolah-olah menganggap rumah kos ini adalah arena *nightclub* pribadi. Fotografer itu—dengan rambut berantakan yang sengaja diatur dan aroma rokok mahal yang selalu mengekor di belakangnya—adalah antitesis dari segala hal yang aku perjuangkan dalam hidup. Dia adalah kekacauan yang berjalan.
Suara tawa melengking seorang wanita menyusul setelah dentuman musik itu mereda sejenak. Aku meletakkan alu dengan bantingan pelan, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu. Aku tidak bisa membiarkan ini. Besok aku harus mempresentasikan draf skripsiku, dan konsentrasiku tidak boleh dirusak oleh egoisme pria itu.
Saat aku membuka pintu kamar, pemandangan di lorong lant** dua itu langsung membuat perutku mulas. Leo sedang bersandar di bingkai pintunya, satu tangannya memegang kaleng bir, sementara tangan lainnya merangkul pinggang seorang wanita bergaun merah ketat yang bahkan sulit disebut sebagai pakaian. Wanita itu tertawa manja, menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Bisa dikecilkan suaranya?" suaraku keluar dengan nada dingin dan tajam, khas seorang asisten laboratorium yang sedang menegur mahasiswa ceroboh.
Leo menoleh. Matanya yang gelap dan tajam menatapku dengan binar geli yang selalu berhasil membuatku merasa terhina. Dia menarik sudut bibirnya, membentuk seringai malas yang memuakkan.
"Oh, lihat ini, Cinderella herbal kita akhirnya keluar dari sarangnya," ejek Leo. Suaranya berat, serak, dan memiliki nada sant** yang membuatku ingin melempar toples kunyit ke wajahnya. "Kenapa, Rahma? Musiknya kurang kencang sampai kamu nggak bisa tidur?"
"Ini jam sepuluh malam, Leo. Beberapa orang punya masa depan yang harus diurus, bukan cuma membuang waktu dengan... ini," aku melirik wanita di sampingnya dengan tatapan merendahkan.
Wanita itu merengut, hendak membalas, tapi Leo mempererat rangkulannya. "Ssst, dia memang begini. Terlalu banyak minum jamu pahit sampai hatinya juga ikut pahit." Leo melangkah satu tapak lebih dekat ke arahku, mengabaikan jarak personal. Bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma alkohol mulai menyerang penciumanku. "Sant** sedikit, Rahma. Hidup itu untuk dinikmati, bukan cuma dihitung kalorinya."
"Kembali ke kamarmu, Leo. Kecilkan musiknya, atau aku akan melaporkanmu ke pemilik kos sekarang juga."
Leo mengangkat bahu dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis. "Oke, oke. Tuan Putri sudah bersabda. Ayo, Tiff, kita ma**k. Sepertinya ada tetangga yang butuh pelampiasan tapi nggak tahu caranya."
Dia mengedipkan sebelah mata ke arahku sebelum membanting pintunya rapat-rapat. Tak lama kemudian, volume musik memang mengecil, tapi digantikan oleh suara-suara lain yang jauh lebih mengganggu: tawa tertahan dan desahan yang jelas-jelas sengaja diperdengarkan untuk memprovokasiku.
Aku kembali ke kamarku dengan napas memburu. Dadaku terasa sesak karena amarah yang tertahan. Tanganku gemetar saat aku kembali duduk di depan ramuanku. Pria itu benar-benar racun. Dia menganggap hidup adalah panggung sandiwara di mana dia adalah sutradaranya.
Aku butuh sesuatu yang lebih kuat malam ini. Sesuatu untuk menenangkan sarafku yang tegang karena ulah Leo.
Mataku tertuju pada sebuah botol kecil di sudut meja. Itu adalah ekstrak akar langka yang baru kudapatkan dari pasar tradisional di pelosok desa saat KKN bulan lalu. Penjualnya bilang ini adalah "akar gairah hidup", yang jika diracik dengan takaran tepat bisa memberikan energi luar biasa dan fokus yang tajam. Aku belum pernah mencobanya secara serius, hanya melakukan tes kecil di laboratorium kampus.
"Fokus. Aku butuh fokus," gumamku pada diri sendiri.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena emosi, aku mulai mencampurkan bubuk akar itu ke dalam rebusan jamu eksperimentalku. Biasanya, aku sangat teliti dengan timbangan digital. Namun malam ini, kepalaku berisik oleh bayangan seringai Leo dan suara desahan dari balik dinding itu. Aku menuangkan ekstrak itu lebih banyak dari yang seharusnya. Cairan di dalam panci kecil itu berubah warna dari kuning cerah menjadi jingga pekat yang berkilauan di bawah lampu kamar.
Aroma yang keluar sangat asing—manis, namun ada sentuhan musk yang kuat yang seolah-olah menggelitik bagian belakang tenggorokanku.
Aku menuangkan ramuan panas itu ke dalam gelas keramik, meniupnya sebentar, lalu meminumnya dalam satu tegukan besar. Rasanya sangat kuat, membakar lidahku dengan sensasi panas yang tidak biasa.
Aku menghela napas panjang, menunggu ketenangan itu datang. Aku bersandar di kursi, memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Leo dari benakku. Satu menit berlalu. Dua menit.
Namun, alih-alih merasa tenang, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Panas yang tadinya hanya ada di kerongkongan kini mulai menjalar turun ke dadaku, lalu menetap di perut bagian bawah. Jantungku yang tadinya berdetak karena marah, kini mulai berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat dan liar.
Aku membuka mata. Cahaya lampu di kamarku tiba-tiba terasa terlalu terang, menyilaukan. Udara terasa sangat gerah, seolah-olah kipas angin di sudut ruangan sengaja mematikan dirinya sendiri. Aku menarik napas dalam-dalam, tapi setiap hirupan udara justru membuat kulitku terasa sensitif secara berlebihan terhadap gesekan kain daster katun yang kupakai.
"Kenapa... kenapa gerah sekali?" bisikku. Suaraku terdengar berbeda—lebih berat, lebih dalam.
Aku berdiri, berniat membuka jendela lebih lebar, tapi kakiku terasa lemas. Sensasi aneh merambat di sepanjang tulang belakangku, sebuah getaran yang menuntut sesuatu yang tidak kupahami. Keringat mulai membasahi pelipisku, dan setiap kali kulitku bergesekan dengan kain, ada sengatan listrik yang menjalar ke pusat tubuhku.
Ini bukan ketenangan. Ini sama sekali bukan fokus.
Aku melirik botol kecil di atas meja dengan ngeri. Apa yang sebenarnya aku minum?
Suara dari kamar sebelah kembali terdengar—suara rendah Leo yang sedang menggoda teman wanitanya. Kali ini, suara itu tidak membuatku marah. Suara itu justru membuat bulu kudukku berdiri dan perutku melilit dengan cara yang sangat, sangat salah.
Pikiranku mendadak kacau. Rasa panas itu kini berubah menjadi kobaran api yang tak terkendali di dalam pembuluh darahku. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menghentikan perasaan ini sebelum aku kehilangan akal sehatku sepenuhnya.
Tapi saat aku menatap pintu penghubung ke lorong, hanya ada satu wajah yang terlintas di pikiranku. Wajah pria yang paling aku benci. Dan entah mengapa, saat ini, dialah satu-satunya orang yang kurasa bisa memadamkan api yang mulai membakar harga diriku ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!