Aku memutar-mutar lensa kameraku, namun fokusku sama sekali tidak tertuju pada butiran debu mikroskopis yang coba kubersihkan. Mataku terus melirik ke arah pintu kayu di seberang lorong—pintu kamar nomor 12. Pintu Rahma.
Bayangan semalam masih menari-nari di balik kelopak mataku seperti film dokumenter yang diputar berulang-ulang. Aroma rempah yang tajam beradu dengan wangi keringat manis, suara napasnya yang menderu, dan bagaimana jemarinya yang biasanya kaku itu mencengkeram bahuku seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang mengamuk. Tapi aku tahu, itu bukan Rahma yang asli. Itu adalah Rahma yang sedang "terbakar" oleh ramuannya sendiri.
Dan entah mengapa, pemikiran itu membuat ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatiku. Aku, Leo, yang biasanya hanya peduli pada komposisi cahaya dan lekuk tubuh model, mendapati diriku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar pose erotis di atas ranjang. Aku ingin melihat apakah api yang sama masih ada di sana saat matanya jernih.
*Cklek.*
Pintu itu terbuka. Aku refleks menegakkan punggung, berpura-pura sangat sibuk dengan kain mikrofiber di tanganku.
Rahma muncul dengan penampilan yang sangat kontras dari semalam. Rambut hitamnya yang panjang disanggul sangat rapi, nyaris tanpa ada sehelai pun yang berani keluar jalur. Ia mengenakan kemeja bahan kaku berwarna krem yang dikancingkan hingga ke leher, dan kacamata berbingkai hitamnya bertengger tegak di hidungnya yang mancung. Ia tampak seperti mahasiswi teladan yang siap menaklukkan ujian skripsi, bukan wanita yang semalam memohon sentuhanku.
"Rahma," panggilku, suaraku sengaja kubuat seringan mungkin.
Langkahnya terhenti. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya memiringkan kepala sedikit. Aku bisa melihat rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis tegas yang kaku di wajahnya.
"Aku nggak punya waktu, Leo," ucapnya dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah kami tidak baru saja melewati malam yang paling intens dalam hidup kami.
Aku melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang biasa ia tetapkan. "Hei, sant** sedikit. Aku cuma mau tanya kabar. Kamu kelihatan... baik-baik saja?"
Rahma berbalik perlahan. Matanya yang biasanya tajam kini memancarkan sesuatu yang lebih gelap—kebencian yang diarahkan pada dirinya sendiri. "Kabar? Kamu mau tanya kabar setelah apa yang terjadi? Kamu seharusnya tahu jawabannya."
"Dengar, soal semalam..." aku berusaha mencari kata-kata yang tepat, sesuatu yang jarang kulakukan karena biasanya kata-kataku mengalir semudah rayuan murahan di kelab malam. "Aku tahu itu karena pengaruh ramuanmu. Tapi aku nggak bermaksud memanfaatkanmu hanya untuk—"
"Hanya untuk apa, Leo?" potongnya cepat. Langkahnya maju satu tindak, menusuk dadaku dengan telunjuknya yang gemetar. "Hanya untuk koleksi portofolio pribadimu? Hanya untuk memuaskan rasa penasaranmu melihat si 'Gadis Jamu' yang kaku ini bertekuk lutut?"
"Bukan begitu," sanggahku, mencoba menangkap jemarinya, namun ia menepis tanganku seolah kulitku adalah bara api.
"Jangan sentuh aku!" desisnya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun bukan karena sedih, melainkan kemarahan yang meluap. "Setiap kali aku melihatmu, aku diingatkan betapa menjijikkannya aku semalam. Aku kehilangan kendali, aku kehilangan harga diriku, dan yang paling parah... aku memberikannya pada orang seperti kamu."
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari yang kuduga. "Orang seperti aku?"
"Ya. Fotografer oportunis yang hidupnya nggak punya arah. Yang menganggap wanita cuma objek di balik lensa," Rahma menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang mulai bergetar. "Kejadian semalam itu kesalahan fatal. Sebuah anomali kimia. Dan aku ingin kamu menghapus semuanya. Hapus foto-fotonya, hapus memorinya, dan anggap kita nggak pernah saling kenal lebih dari sekadar tetangga kos."
Aku terdiam sejenak, memandangi wajahnya yang memerah. Ada ego yang terluka di dalam diriku, tapi ada juga rasa penasaran yang semakin meruncing. Rahma sedang berusaha keras membangun kembali bentengnya yang runtuh, dan ia melakukannya dengan cara mengubur hidup-hidup apa yang kami rasakan.
"Aku nggak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, Rah," kataku dengan nada lebih rendah, melangkah satu langkah lagi hingga aku bisa mencium aroma sabun antiseptik yang ia gunakan—seolah ia mencoba menyabuni habis sisa-sisa diriku dari kulitnya. "Dan jujur, aku nggak mau menghapusnya. Bukan karena foto-foto itu, tapi karena untuk pertama kalinya, aku melihat kamu yang tanpa topeng."
Rahma tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar menyakitkan di telingaku. "Tanpa topeng? Itu bukan aku. Itu adalah kegagalan eksperimen. Kamu menyukai kegagalan itu karena itu menguntungkanmu."
Ia berbalik, hendak pergi, namun aku menceletuk, "Lalu bagaimana kalau aku mengajakmu makan malam? Tanpa kamera, tanpa jamu, tanpa kontrak model. Cuma kita."
Langkah Rahma terhenti tepat di depan tangga. Ia berbalik, menatapku dengan tatapan paling dingin yang pernah kuterima seumur hidupku.
"Makan malam?" ulangnya. "Setelah kamu melihatku dalam kondisi serendah itu, kamu pikir aku akan sudi duduk satu meja denganmu? Kamu benar-benar nggak punya rasa malu, ya?"
"Rahma, aku serius—"
"Simpan saja keseriusanmu untuk model-modelmu yang lain, Leo. Bagiku, kamu tetaplah pengingat akan titik terendah dalam hidupku. Dan aku nggak akan pernah membiarkan diriku jatuh ke lubang yang sama dua kali."
Ia berbalik dan menuruni tangga dengan langkah cepat, meninggalkan bunyi sepatu pantofelnya yang beradu dengan lant** semen, bergema di lorong yang sepi itu. Aku berdiri terpaku, merasakan penolakan itu meresap ke dalam pori-pori kulitku. Biasanya, penolakan adalah tantangan bagiku, sebuah permainan yang menyenangkan untuk dimenangkan. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Ada rasa pahit yang tertinggal, lebih pahit dari jamu mana pun yang pernah ia racik.
Aku kembali ke kamarku, membanting pintu, dan melemparkan tubuhku ke kursi kerja. Mataku tertuju pada kamera yang tergeletak di meja. Jariku bergerak secara otomatis, menyalakan layar pratinjau. Gambar pertama yang muncul adalah wajah Rahma yang sedang mendongak, matanya sayu dengan pupil melebar, bibirnya sedikit terbuka... sebuah potret kerentanan yang murni.
Aku tahu dia membenciku. Aku tahu dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Tapi saat aku melihat kilatan di matanya dalam foto itu, aku tahu satu hal yang Rahma sendiri belum sadari atau mungkin terlalu takut untuk akui.
Ramuan itu mungkin sudah hilang dari sistem tubuhnya, tapi percikan yang tersulut di antara kami semalam... itu tidak akan padam hanya dengan kata-kata dingin dan kemeja yang dikancingkan rapat.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari pemilik studio tempatku biasa menyewa peralatan, menanyakan progres proyek "Rahasia" yang pernah kuceritakan. Aku menatap layar itu lama, lalu beralih kembali ke foto Rahma.
Dia pikir dia sudah menutup pintu itu rapat-rapat. Dia pikir dia bisa kembali ke hidupnya yang sempurna dan membosankan. Tapi dia lupa satu hal: aku adalah seorang fotografer. Aku tahu cara menemukan celah cahaya di tempat yang paling gelap sekalipun. Dan aku belum selesai dengan Rahma. Tidak sampai aku mendapatkan lebih dari sekadar bayangannya di atas sensor digital.
Namun, lamunanku terbuyar saat mendengar suara keributan dari arah bawah. Suara teriakan ibu kos dan bunyi benda pecah. Aku bergegas menuju balkon lorong dan melongok ke bawah. Di sana, di halaman depan, aku melihat Rahma sedang dihadang oleh dua orang pria berjaket kulit yang tampak tidak asing. Salah satunya memegang sebuah botol kecil yang sangat kukenali—botol jamu eksperimen Rahma.
Sesuatu telah bocor keluar, dan itu bukan hanya soal perasaanku. Rahma sedang dalam masalah besar.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!