Aroma uap jahe dan serai biasanya menjadi pelipur lara yang paling ampuh bagi Rahma. Namun pagi ini, wangi herbal yang memenuhi kamar kosnya justru terasa seperti ejekan. Setiap kali ia menghirup udara, ingatannya terseret kembali pada malam-malam penuh kabut yang ia habiskan bersama Leo—malam-malam di mana logika mahasiswi berprestasi itu luluh lantak oleh ramuan jamu buatannya sendiri dan sentuhan tangan pria itu.
Rahma menarik napas panjang, mencoba menenangkan denyut jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia berniat merapikan tumpukan buku referensi di sudut meja belajarnya yang berantakan, sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi seorang perfeksionis seperti dirinya. Saat ia mengangkat sebuah ensiklopedia botani yang tebal, ujung jarinya menyentuh sesuatu yang keras, dingin, dan asing.
Sebuah benda berwarna hitam dop terselip di antara tumpukan buku dan dinding. Rahma menariknya keluar. Itu adalah kamera DSLR milik Leo. Beratnya terasa nyata di telapak tangannya, sebuah mesin presisi yang selama ini menjadi senjata Leo untuk menjerat dunia ke dalam bingkai fotonya.
Jantung Rahma berdegup kencang. Ia tahu seharusnya ia segera mengembalikan benda itu. Ia tahu privasi adalah batas suci yang selalu ia agungkan. Namun, kilasan cahaya lampu kilat dari malam sebelumnya menghantui benaknya. Ucapan Leo tentang "portofolio dewasa" dan "seni" berdengung seperti lebah yang marah di telinganya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rahma menekan tombol daya. Layar LCD kecil di bagian belakang kamera menyala, memecah kesuraman kamarnya dengan cahaya biru pucat. Jempolnya ragu-ragu di atas tombol *playback*, sebelum akhirnya keberanian yang dipicu oleh rasa curiga memenangkan pergulatan batinnya.
Satu klik.
Foto pertama muncul. Itu adalah potret dirinya yang sedang bersandar di ambang pintu, wajahnya memerah, rambutnya sedikit berantakan. Matanya terlihat sayu, menunjukkan kerentanan yang tidak pernah ia izinkan dilihat oleh siapa pun. Di foto itu, ia tidak terlihat seperti Rahma yang disiplin dan kaku; ia terlihat seperti wanita yang sedang memohon sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.
Klik.
Foto berikutnya membuat napas Rahma tertahan di tenggorokan. Leo telah mengambil gambar secara *close-up*. Fokusnya ada pada lehernya yang berkeringat, di mana urat nadi terlihat menonjol, merekam betapa keras jantungnya berpacu di bawah pengaruh ramuan si**** itu. Pencahayaannya dramatis, menonjolkan setiap lekuk dan tekstur kulitnya dengan cara yang terasa sangat... intim. Terlalu intim.
Rahma terus menekan tombol itu, semakin cepat, seiring dengan rasa mual yang mulai naik ke pangkal kerongkongannya. Ada foto-foto di mana ia sedang memejamkan mata dengan bibir sedikit terbuka, foto di mana jemari Leo terlihat sedang menyentuh dagunya—sebuah kontras antara kulitnya yang pucat dan tangan Leo yang kasar.
Lalu, ia sampai pada serangkaian foto yang membuatnya merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah disedot keluar.
Di sana, dalam bingkai digital itu, ia melihat dirinya sendiri dalam keadaan yang paling memalukan. Leo tidak hanya memotret "seni". Ia memotret sebuah penaklukan. Di beberapa foto, sudut pengambilan gambarnya menunjukkan betapa tidak berdayanya Rahma, sementara bayangan Leo jatuh menimpanya seolah-olah pria itu adalah predator yang sedang mendokumentasikan hasil buruannya.
Rahma melihat tatapan matanya sendiri di dalam foto itu—tatapan yang kehilangan arah, kosong dari kecerdasan yang biasanya ia banggakan, digantikan oleh gairah primitif yang dipicu oleh bahan kimia. Ia merasa seperti spesimen di bawah mikroskop, sebuah objek yang dite*******i bukan hanya pakaiannya, tapi juga martabatnya.
"Ba******," bisik Rahma, suaranya parau dan bergetar.
Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini, ia mengira Leo—meskipun seorang *playboy*—memiliki sedikit rasa hormat terhadap kesepakatan mereka. Ia pikir pria itu membantunya karena sebuah ketertarikan yang setidaknya memiliki sisa-sisa kemanusiaan. Namun melihat foto-foto ini, menyadari betapa Leo dengan sengaja mengeksploitasi setiap detik kelemahannya untuk kepentingan estetikanya sendiri, membuat Rahma merasa kotor.
Ia bukan subjek seni. Ia adalah piala.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang familiar terdengar dari koridor luar. Langkah yang sant**, penuh percaya diri, dan sedikit menyeret. Langkah kaki Leo.
Rahma membeku. Tangannya masih mencengkeram kamera itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di dadanya kini berubah menjadi api yang dingin. Ia merasa dikhianati secara mendalam, bukan hanya oleh Leo, tapi juga oleh tubuhnya sendiri yang telah mengizinkan pria ini mengambil begitu banyak darinya.
Pintu kamar kosnya yang tidak terkunci berderit terbuka. Leo berdiri di sana, masih dengan kemeja flanel yang tidak dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan kaus hitam di baliknya. Wajahnya yang biasanya dihiasi seringai tipis mendadak berubah datar ketika matanya jatuh pada benda di tangan Rahma.
"Oh," ucap Leo pelan, suaranya tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. "Aku baru saja mau mengetuk untuk menanyakan kameraku."
Rahma berdiri, kakinya terasa lemas namun ia memaksanya untuk tetap tegak. Ia memutar kamera itu ke arah Leo, memperlihatkan layar yang masih menampilkan salah satu foto paling vulgar di sana—saat Rahma mencengkeram bahu Leo dengan ekspresi putus asa.
"Ini yang kamu sebut portofolio, Leo?" suara Rahma bergetar karena emosi yang tertahan. "Kamu mengambil gambar ini saat aku bahkan tidak bisa mengingat namaku sendiri?"
Leo menghela napas, menutup pintu di belakangnya dengan tenang, lalu bersedekap. "Rahma, kita sudah bicara soal ini. Kamu butuh pelepasan, dan aku butuh model. Itu kesepakatannya. Dan lihat dirimu di sana... kamu tidak pernah terlihat lebih hidup daripada saat itu."
Rahma melangkah maju, jarak di antara mereka kini terasa menyesakkan. "Aku bukan barang, Leo! Kamu melihatku menderita, kamu melihatku kehilangan kendali, dan yang kamu pikirkan hanyalah mengatur *shutter speed* dan pencahayaan?"
Leo menatap langsung ke mata Rahma, tatapannya tajam dan tidak tergoyahkan. "Aku melihat keindahan dalam kekacauanmu, Rahma. Sesuatu yang selama ini kamu sembunyikan di balik buku-buku jamu dan sikap kaku itu."
"Keindahan?" Rahma tertawa pahit, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Ini bukan keindahan. Ini eksploitasi."
Ia mengangkat kamera itu tinggi-tinggi, niat untuk membantingnya ke lant** keramik begitu kuat. Namun, Leo bergerak lebih cepat. Dalam satu sentakan, ia menangkap pergelangan tangan Rahma, menghentikan gerakannya di udara. Kehangatan tangan Leo yang mendadak itu mengirimkan sengatan listrik yang menyakitkan ke seluruh tubuh Rahma, mengingatkannya pada pengkhianatan sel-sel tubuhnya sendiri.
"Jangan," desis Leo, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Rahma. "Kamu boleh marah padaku, tapi jangan hancurkan hasil karya terbaikku."
Rahma menatap mata pria di depannya, mencari tanda penyesalan namun hanya menemukan ambisi dan keinginan yang gelap. Di tengah amarahnya, ia menyadari satu hal yang paling menakutkan: meskipun ia membenci apa yang telah Leo lakukan, sebagian kecil dari dirinya—bagian yang masih terinfeksi oleh sisa-sisa ramuan itu—justru merespons kedekatan ini dengan cara yang paling tidak tahu malu.
Cengkeraman Leo di pergelangan tangannya mengencang, bukan untuk menyakiti, tapi untuk mendominasi. Dan Rahma tahu, konflik sesungguhnya baru saja dimulai. Ia memegang bukti pengkhianatan Leo, namun ia juga masih menjadi tawanan dari hasrat yang belum sepenuhnya padam.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!