Layar monitor itu berpendar di tengah keremangan studio Leo, memantulkan cahaya biru yang dingin ke wajahku. Napasku tertahan di tenggorokan, seolah-olah udara di ruangan ini mendadak berubah menjadi semen yang mengeras. Di sana, di dalam folder tersembunyi dengan nama yang sangat sederhana namun menghancurkan—"Project R"—puluhan file berukuran besar berjejer rapi.
Aku mengklik salah satunya dengan jari yang gemetar hebat. Dadaku seakan dihantam godam saat melihat potret diriku sendiri. Itu bukan sekadar foto. Itu adalah dokumentasi kehancuranku. Di layar, aku melihat diriku sendiri dengan rambut berantakan, mata yang sayu oleh pengaruh ramuan si**** itu, dan kulit yang memerah karena gairah yang tak tertahankan. Leo menangkap segalanya: setiap jengkal kulit yang terekspos, setiap ekspresi memohon yang memalukan, dan setiap momen di mana aku kehilangan kendali atas harga diriku.
"Rahma? Kamu sedang apa?"
Suara berat itu membuatku tersentak. Aku memutar kursi dengan kasar, hampir menjatuhkan lampu meja di sampingku. Leo berdiri di ambang pintu, membawa dua cup kopi yang masih mengepul. Ekspresi sant**nya luruh seketika saat matanya beralih dari wajahku ke layar monitor yang masih menampilkan foto-foto itu.
"Jadi... ini alasan sebenarnya kamu 'menolongku' malam itu?" Suaraku keluar lebih rendah dari yang kubayangkan, bergetar oleh amarah yang membakar dari ulu hati.
Leo meletakkan kopi itu di atas meja terdekat dengan gerakan kikuk. "Rahma, dengarkan aku dulu. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan."
"Bukan seperti yang kupikirkan?" Aku berdiri, langkahku goyah namun penuh dorongan emosi. Aku menunjuk ke arah layar dengan telunjuk yang masih gemetar. "Kamu memotretku saat aku sedang tidak sadar! Aku datang kepadamu untuk meminta bantuan karena aku merasa sekarat, Leo! Dan kamu... kamu malah menjadikanku objek untuk koleksi pribadimu?"
"Itu seni, Rahma!" Leo mencoba mendekat, tangannya terulur seolah ingin menenangkanku, tapi aku mundur selangkah dengan jijik. "Lihat fotonya. Kamu cantik. Kamu terlihat... hidup. Aku belum pernah melihat ekspresi sealami itu. Aku hanya ingin mengabadikan momen—"
"Momen apa? Momen saat aku dipermalukan oleh tubuhku sendiri?" Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, panas dan perih. "Aku adalah mahasiswi farmasi yang disiplin, Leo. Aku punya reputasi yang kujaga setengah mati. Jika foto-foto ini keluar, jika ada yang melihat bagaimana aku mengemis sentuhanmu karena kesalahan ramuan itu... hidupku berakhir!"
"Aku tidak akan menyebarkannya tanpa izinmu," bantah Leo cepat. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak tegang, ada gurat kecemasan di matanya. "Itu hanya untuk portofolio pribadiku. Aku ingin menunjukkan transisi emosi yang mentah. Aku bersumpah, ini hanya untuk mataku sendiri."
"Pers**** dengan portofoliomu!" teriakku. Suaraku bergema di dinding-dinding studio yang kedap suara, menciptakan ironi yang menyesakkan. "Ini ilegal, Leo. Kamu mengambil foto dewasa tanpa persetujuan subjeknya saat mereka di bawah pengaruh zat tertentu. Itu kriminal!"
Leo terdiam. Rahangnya mengeras. "Aku menjagamu, Rahma. Malam itu, kalau bukan karena aku, kamu mungkin sudah melakukan hal yang lebih g*** di luar sana. Aku memberimu tempat yang aman."
"Aman?" Aku tertawa sumbang, sebuah tawa kering yang terasa menyakitkan di tenggorokan. "Kamu memberiku tempat aman hanya agar kamu bisa duduk di balik lensa dan menonton pertunjukanku? Kamu tidak membantuku karena kasihan atau peduli. Kamu melakukannya karena kamu predator yang melihat kesempatan emas."
Aku merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Rasa benci yang selama ini kupendam terhadap gaya hidupnya yang bebas kini bermutasi menjadi kemarahan yang meluap-luap. Aku merasa dikhianati—bukan hanya olehnya, tapi oleh diriku sendiri yang sempat berpikir bahwa ada sisi manusiawi di balik topeng *playboy*-nya.
"Hapus semuanya," perintahku dengan nada dingin yang mematikan.
Leo menatapku tajam. Ada keraguan di matanya. "Rahma, ini adalah karya terbaik yang pernah kubuat sepanjang karierku sebagai fotografer. Aku bisa menyuntingnya, mengaburkan wajahmu, atau—"
"HAPUS!" Aku menerjang ke arah meja kerja, tanganku meraih tetikus dan mencoba menyeret folder itu ke keranjang sampah, tapi Leo lebih cepat. Dia menangkap pergelangan tanganku, menahannya dengan kekuatan yang tidak menyakitkan tapi c**up kuat untuk membuatku berhenti.
Sentuhannya mengirimkan sengatan yang kukenali—sisa-sisa efek ramuan yang mungkin masih mengalir di darahku, atau mungkin hanya memori otot yang mengkhianatiku. Aku menatap matanya, mencari penyesalan, namun yang kutemukan hanyalah obsesi seorang seniman yang buta akan moral.
"Lepaskan aku," desisiku.
"Aku akan menghapusnya jika itu yang kamu mau," ucap Leo pelan, suaranya kini tepat di dekat telingaku. "Tapi jujurlah padaku, Rahma. Di balik kemarahan ini... bukankah ada bagian dari dirimu yang merasa puas karena akhirnya ada seseorang yang melihat dirimu yang sebenarnya? Sisi dirimu yang tidak kaku, tidak sempurna, dan penuh gairah?"
Aku terpaku. Kata-katanya seperti belati yang menemukan celah di baju zirahku. Aku ingin menamparnya, aku ingin lari sekencang mungkin dari ruangan ini, tapi tubuhku justru membeku di bawah tatapannya.
Tepat saat aku hendak membuka mulut untuk membalas, sebuah notifikasi pesan ma**k berbunyi nyaring dari ponsel Leo yang tergeletak di atas meja. Layarnya menyala, memperlihatkan sebuah nama yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak: *Dosen Pembimbing Skripsi Rahma*.
Mataku beralih dari ponsel ke wajah Leo yang mendadak pucat. Kenapa Leo memiliki kontak dosen pembimbingku? Dan apa maksud pesan singkat yang baru saja muncul itu?
*"Bagaimana perkembangannya, Leo? Apakah mahasiswi saya sudah memberikan 'inspirasi' yang kita bicarakan?"*
Duniaku serasa runtuh. Ini bukan sekadar tentang foto. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap daripada yang kubayangkan. Siapa sebenarnya Leo, dan apa hubungannya dengan kegagalanku dalam meracik jamu itu?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!