Cahaya biru dari layar monitor 27 inci itu adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar apartemenku yang remang. Di depanku, wajah Rahma terpampang jelas dalam resolusi 4K. Bukan Rahma yang galak dan kaku saat di kampus, melainkan Rahma yang sedang terperangkap dalam jeratan hasrat akibat ramuan jamu si**** itu—bibirnya yang sedikit terbuka, pipinya yang merona panas, dan sorot matanya yang kehilangan arah namun penuh damba.
Setiap piksel dalam foto itu adalah mahakarya. Aku tahu itu. Selama bertahun-tahun menjadi fotografer, aku belum pernah menangkap emosi semurni dan seintens ini. Foto-foto ini bukan sekadar portofolio; ini adalah tiket emas menuju pameran "The Raw Human" di Singapura yang sudah lama kuimpikan. Sebuah kontrak bernilai ratusan juta sudah menunggu di kotak ma**k emailku, hanya butuh satu klik untuk mengirimkan file mentahnya.
Namun, perutku mual setiap kali melihat folder bertajuk *‘The Secret Herbalist’* itu.
Pintu kamarku yang tidak terkunci terbuka perlahan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma rempah kunyit dan asam yang tipis—ciri khasnya—merayap ma**k, memicu detak jantungku untuk berpacu lebih liar dari biasanya.
"Leo," suaranya parau, nyaris berbisik. "Aku tidak bisa tidur kalau tahu benda itu masih ada padamu."
Aku memutar kursi kerjaku. Rahma berdiri di ambang pintu, memeluk tubuhnya sendiri. Ia mengenakan kardigan longgar yang seolah berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa beberapa malam lalu, kulitnya pernah bersentuhan dengan kulitku dalam intensitas yang menghanguskan. Matanya yang sembap menatap monitor, lalu beralih padaku dengan pandangan yang penuh luka dan ketidakpercayaan.
"Duduklah, Rah," kataku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—berat dan penuh beban.
Ia menggeleng, tetap terpaku di tempatnya. "Hancurkan saja, Leo. Tolong. Kamu bilang kamu peduli, tapi selama foto-foto itu ada, aku merasa seperti tawananmu. Aku merasa... kotor."
Kata 'kotor' itu menghujam jantungku lebih dalam dari kritik pedas mana pun yang pernah kuterima dari kurator seni. Aku berdiri, mendekatinya hingga aku bisa melihat getaran halus di jemarinya. "Kamu tidak kotor, Rahma. Kamu indah. Tapi aku sadar, keindahan itu seharusnya hanya milikmu. Bukan untuk konsumsi publik, bukan untuk ambisiku."
Aku meraih ponselku yang tergeletak di meja. Sebuah pesan ma**k dari Dion, agenku, berkedip di layar: *'Leo, kirim file-nya sekarang! Pihak Singapura sudah menanyakan. Jangan bodoh, ini kesempatan sekali seumur hidup!'*
Aku mematikan layar ponsel itu tanpa membalasnya. Aku kembali menghadap monitor dan menarik napas panjang, seolah sedang menghirup keberanian terakhir yang kupunya. Dengan gerakan yang sengaja kubuat lambat agar dia bisa menyaksikannya, aku membuka folder utama. Ada tiga ratus dua puluh empat file foto dan dua belas klip video di sana.
"Lihat ini," kataku.
Aku menekan tombol *Ctrl+A*, menyoroti seluruh isi folder. Kemudian, jariku melayang di atas tombol *Delete*.
"Leo, tunggu," Rahma melangkah maju, matanya membelalak tak percaya. "Bukannya itu... bukannya itu kontrak besar yang kamu ceritakan? Karirmu bisa hancur kalau kamu tidak mengirimnya."
Aku menatapnya lekat-lekat. "Karir bisa dibangun lagi, Rahma. Tapi kepercayaanmu? Kalau aku kehilangan itu, aku tidak punya apa-apa lagi yang berharga."
Tanpa ragu lagi, aku menekan tombol *Shift + Delete*. Kotak dialog muncul di layar: *'Are you sure you want to permanently delete these items?'*
Kursor tetikusku bergerak mantap ke tombol 'Yes'. *Klik.*
Bar progres muncul sekilas sebelum folder itu menjadi kosong melompong. Aku tidak berhenti di situ. Aku membuka *external hard drive* cadanganku, melakukan hal yang sama. Aku menghancurkan setiap salinan digital yang kupunya, setiap jejak malam itu yang tersimpan dalam bit dan byte.
Hening yang menyakitkan menyergap ruangan itu. Aku baru saja membuang peluang yang mungkin tidak akan datang dua kali. Aku baru saja menghancurkan impian profesional yang kubangun bertahun-tahun demi seorang gadis yang beberapa minggu lalu masih sangat kubenci karena sifat kakunya.
Rahma menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa kamu melakukannya?"
"Karena aku lebih memilih melihat senyum tulusmu daripada melihat fotomu di dinding galeri manapun di dunia ini," jawabku jujur, rasa sesak di dadaku sedikit berkurang meski aku tahu besok aku harus menghadapi amukan Dion.
Aku melangkah mendekat, memberanikan diri menyentuh bahunya. Ia tidak menghindar. Justru, ia menyandarkan kepalanya di dadaku, terisak pelan. Aku memeluknya, merasakan kelegaan yang aneh bercampur dengan rasa takut akan masa depanku yang kini gelap tanpa kontrak itu.
Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar hebat. Bukan pesan, tapi pangg***n telepon. Nama 'Dion' berkedip dengan agresif. Aku tahu ini adalah badai yang harus kuhadapi. Namun, saat aku hendak meraih ponsel itu, sebuah ketukan keras dan tidak sabar terdengar dari pintu depan apartemenku.
"Leo! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" Suara Dion berteriak dari luar, terdengar panik dan marah. "Pihak sponsor datang ke kantor, mereka ingin melihat file-nya langsung sekarang!"
Wajah Rahma memucat. Ia menatapku dengan ketakutan yang kembali membuncah. Aku tahu, menghapus file itu barulah permulaan. Konsekuensi nyata dari keputusanku baru saja mengetuk pintu, dan aku tidak tahu apakah aku c**up kuat untuk melindungi Rahma dari amukan industri yang baru saja kukhianti.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!