Aroma kunyit dan temulawak yang biasanya menenangkan kini terasa seperti ejekan yang menyesakkan di dalam kamar kosku yang sempit. Aku menatap lumping porselen di atas meja, tempat aku biasa meracik segala sesuatu dengan presisi milimeter. Selama bertahun-tahun, aku membanggakan diriku sebagai orang yang memegang kendali penuh—atas jadwal kuliahku, atas pola makanku, dan terutama, atas tubuhku. Namun, pagi ini, pantulan wajahku di cermin kecil di sudut ruangan menceritakan kisah yang berbeda.
Bibirku sedikit bengkak, dan ada gurat kemerahan di leher yang mati-matian kusembunyikan di balik kerah kemeja tinggi. Aku menyentuh permukaan kulit itu dengan ujung jari yang gemetar. Dingin. Namun, di baliknya, aku masih bisa merasakan sisa-sisa panas yang membakar semalam.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri untuk kesekian kalinya. *Itu karena ramuannya. Hanya karena dosis pimpinella pruatjan yang terlalu tinggi. Reaksi kimia murni.*
Namun, logikaku yang biasanya tajam mulai tumpul. Sebagai mahasiswi sains, aku tahu persis bagaimana cara kerja alkaloid dalam tubuh. Mereka memiliki durasi. Mereka memiliki waktu paruh. Dan secara teknis, efek jamu eksperimental itu seharusnya sudah luruh bersama keringat dan sisa metabolisme sejak beberapa jam yang lalu. Lantas, mengapa setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakan tekanan tangan Leo di pinggangku? Mengapa aromanya—campuran antara parfum mahal dan bau tembakau tipis—masih terasa begitu nyata di indra penciumanku?
"Bodoh," bisikku pada bayanganku sendiri.
Suara ketukan di pintu mengejutkanku, membuat jantungku melompat ke tenggorokan. Aku tahu itu dia. Tidak ada orang lain yang mengetuk dengan irama sant** namun menuntut seperti itu. Aku menarik napas dalam-dalam, merapikan kemejaku, dan membuka pintu hanya sedikit.
Leo berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan kamera tersampir di lehernya—alat yang dia gunakan untuk melucuti pertahananku, selapis demi selapis. Rambutnya berantakan, gaya khasnya yang seolah baru bangun tidur namun tetap terlihat sangat menyebalkan untuk dipandang.
"Belum siap, Tuan Putri? Aku punya jadwal pemotretan di studio kecilku jam sepuluh," ucapnya dengan seringai tipis yang membuat perutku melilit.
"Aku tidak yakin bisa melanjutkan ini, Leo," kataku, mencoba membuat suaraku tetap datar dan profesional. "Efek jamunya sudah hilang. Aku sudah kembali normal."
Leo menegakkan tubuhnya, melangkah maju hingga aku terpaksa mundur selangkah, membiarkannya ma**k ke dalam ruang pribadiku. Dia menatap tumpukan buku herbalogi di mejaku, lalu beralih menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menembus tengkorak kepalaku.
"Kembali normal?" dia mengulang kalimatku dengan nada skeptis. "Normal yang mana, Rahma? Normal yang kaku, yang selalu bersembunyi di balik buku-buku ini? Atau normal yang semalam memohon padaku untuk tidak berhenti?"
"Jangan lancang!" suaraku meninggi, wajahku memanas karena malu. "Itu kecelakaan. Kamu tahu aku sedang tidak sadar."
Leo tertawa rendah, suara yang biasanya kucap sebagai suara laki-laki yang tidak punya masa depan, tapi sekarang justru terdengar seperti melodi yang berbahaya. Dia berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang provokatif.
"Jamu itu tidak menciptakan hasrat, Rahma. Dia hanya membukakan pintunya," bisiknya tepat di telingaku. "Dia hanya melepaskan apa yang selama ini kamu kunci rapat-rapat karena kamu terlalu takut pada pendapat orang lain."
Aku ingin membantahnya. Aku ingin berteriak bahwa dia salah, bahwa aku adalah wanita yang berprinsip, dan dia hanyalah seorang fotografer tanpa moral yang kebetulan berada di tempat yang salah—atau benar—di waktu yang salah. Namun, kata-kataku tersangkut di kerongkongan. Tanganku, yang seharusnya mendorongnya menjauh, justru mengepal di sisi tubuhku, menahan dorongan impulsif untuk menyentuh lengannya.
Selama ini, aku memandang Leo sebagai antitesis dari segala hal yang kuyakini. Dia adalah kekacauan, sementara aku adalah keteraturan. Dia adalah kebebasan yang liar, sementara aku adalah disiplin yang mengekang. Memulai sesuatu dengannya, meski hanya sebatas hubungan simbiosis mutualisme yang aneh ini, adalah penghianatan terhadap semua nilai yang kutanamkan pada diriku sendiri.
Namun, di balik semua kebencian itu, ada sebuah pengakuan yang mengerikan. Aku merasa lebih 'hidup' dalam beberapa hari terakhir bersamanya daripada yang kurasakan selama empat tahun di universitas.
Leo mengangkat kameranya, membidikku tanpa peringatan. Bunyi klik *shutter* itu menyentakku.
"Hentikan itu," perintahku, meski suaraku tidak memiliki kekuatan.
"Kamu cantik kalau lagi bingung begini," katanya, mengabaikan protesku. Dia menurunkan kameranya dan menatapku dengan intensitas yang berbeda. Tidak ada ejekan kali ini. "Kita bisa berhenti sekarang kalau kamu memang mau. Kamu bisa kembali ke kehidupanmu yang membosankan dan sehat itu, meracik jamu untuk orang lain sementara kamu sendiri mati rasa. Tapi kita berdua tahu, bukan itu yang kamu inginkan."
Aku menatap matanya, mencari celah, mencari alasan untuk mengusirnya pergi. Namun, yang kutemukan hanyalah pantulan diriku yang penuh keraguan. Aku menyadari satu hal yang paling kutakuti: efek jamu itu mungkin memang sudah habis, tapi rasa lapar di dalam diriku baru saja terbangun. Dan yang lebih menakutkan lagi, hanya pria di depanku inilah yang tahu cara memuaskannya.
"Aku punya syarat," kataku akhirnya, suaraku sedikit bergetar.
Leo menaikkan satu alisnya, menunggu.
"Ini hanya soal pekerjaan. Dan soal... riset jamuku. Jangan berpikir ini lebih dari itu."
Leo tersenyum, jenis senyum yang memberitahuku bahwa dia tahu aku sedang berbohong pada diriku sendiri. Dia mengulurkan tangannya, sebuah ajakan yang terasa seperti jerat sekaligus penyelamat.
"Tentu saja, Rahma. Apapun yang membuatmu bisa tidur nyenyak di malam hari."
Saat aku meraih tangannya, sebuah getaran aneh merambat dari telapak tanganku ke seluruh tubuh. Aku tahu aku baru saja membuat kesepakatan dengan i****. Namun, saat kami berjalan menuju pintu, sebuah pesan ma**k di ponselku dari nomor yang tidak kukenal.
Aku membukanya dengan satu tangan, dan seketika langkahku terhenti. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat foto yang terlampir di sana. Itu adalah foto pribadiku dari sesi semalam—yang seharusnya hanya ada di kamera Leo.
"Leo," panggilku dengan suara tercekat. "Ada orang lain yang punya foto-foto ini."
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!