Aroma kunyit dan asam jawa yang tajam biasanya menjadi satu-satunya hal yang menyambut Rahma setiap pagi di dapur sempitnya. Namun, pagi ini, bau itu bertarung dengan aroma yang jauh lebih asing namun mulai terasa akrab: kopi hitam pekat dan wangi maskulin yang tertinggal di bantal sofa.
Rahma berdiri mematung di ambang pintu dapur, tangannya masih memegang botol kaca berisi ramuan pembersih rahim yang baru saja ia saring. Matanya tertuju pada sosok pria yang tengah berte******* dada di balkon kecilnya, membelakangi sinar matahari pagi yang baru saja merayap naik. Leo tampak sedang sibuk dengan kameranya, membidik burung-burung gereja yang hinggap di jemuran tetangga dengan ketenangan yang tidak pernah Rahma bayangkan sebelumnya.
"Kopi itu nggak baik kalau diminum sebelum perutmu terisi serat, Yo," suara Rahma memecah keheningan, meskipun nadanya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. Tidak ada lagi ketajaman yang biasa ia gunakan sebagai tameng.
Leo menoleh, menyunggingkan senyum miring yang biasanya membuat Rahma ingin melempar kamus medis, tapi kali ini hanya membuat jantungnya berdegup tidak keruan. "Dan jamu 'eksperimental' itu juga nggak baik kalau diminum tanpa pengawasan, kan?"
Rahma merasakan pipinya memanas. Bayangan malam-malam di mana ia kehilangan kendaliβmalam di mana ia memohon pada Leo untuk meredam api dalam darahnyaβberkelebat cepat. Ia berdeham, mencoba mengembalikan martabatnya yang tersisa.
"Itu kesalahan teknis. Aku sudah memperbaiki formulanya," bantah Rahma sambil meletakkan botolnya di meja. "Duduklah. Aku buatkan bubur gandum dengan madu."
Leo menurunkan kameranya, membiarkannya tergantung di leher, lalu melangkah ma**k. Ia tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat, memperpendek jarak hingga Rahma bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria itu. Leo meletakkan satu tangannya di pinggiran meja, mengurung Rahma dalam ruang sempit antara tubuhnya dan rak bumbu.
"Rahma," panggilnya lirih. Tidak ada nada menggoda di sana. Hanya ada kejujuran yang te*******. "Kita sudah melewati fase di mana aku hanya 'fotografer br******' dan kamu 'mahasiswi kaku'. Aku nggak mau kita terus-terusan bersembunyi di balik alasan jamu atau kebutuhan biologis."
Rahma menunduk, jemarinya memainkan ujung celemek. "Aku nggak tahu caranya, Leo. Hidupku selalu punya jadwal. Punya struktur. Jamu ini, kuliahku, masa depanku... semuanya harus terukur. Kamu? Kamu itu variabel yang nggak bisa kuprediksi."
"Kalau begitu, berhenti mencoba memprediksiku," Leo meraih dagu Rahma, memaksanya menatap mata cokelat gelap yang kini tampak begitu teduh. "Mari kita coba sesuatu yang lebih g*** dari ramuanmu itu: sebuah hubungan yang jujur. Tanpa kamera, tanpa jamu perangsang, tanpa sandiwara. Hanya aku yang belajar minum jamu pahitmu, dan kamu yang belajar untuk sesekali bangun siang tanpa rasa bersalah."
Rahma terdiam, menimbang-nimbang. Baginya, menyerahkan kendali adalah ketakutan terbesarnya. Namun, melihat sorot mata Leo, ia sadar bahwa pria ini telah melihat sisi paling rentannya dan tetap memilih untuk tinggal.
"Jujur?" tanya Rahma meyakinkan.
"Sangat jujur sampai mungkin kita akan saling benci lagi karena terlalu banyak tahu," jawab Leo dengan kekehan kecil.
Rahma menarik napas panjang, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di dada bidang Leo. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang stabil, memberikan rasa nyaman yang anehnya lebih menenangkan daripada teh kamomil mana pun. "Baiklah. Kita coba. Tapi jangan harap aku akan mengizinkanmu makan mi instan di depan mataku."
Leo tertawa, suaranya bergetar di dada yang sedang disandari Rahma. Ia mengecup puncak kepala Rahma dengan lembut. "Kesepakatan tercapai, Tuan Putri Herbal."
Beberapa jam berikutnya terasa seperti mimpi yang ganjil bagi Rahma. Ia mencoba mengajarkan Leo cara memarut jahe yang benar tanpa melukai jari, sementara Leo terus-menerus mencoba mencuri ciuman di sela-sela kegiatannya. Ada tawa yang pecah, sesuatu yang jarang terdengar di kamar kos yang biasanya sunyi dan steril itu. Rahma mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, sedikit kekacauan dalam hidupnya bukanlah akhir dari segalanya.
Namun, kedamaian itu terusik ketika ponsel Leo yang tergeletak di meja terus-menerus bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala, c**up besar untuk dibaca oleh Rahma yang sedang menata mangkuk.
*βLeo, foto-foto Rahma yang kemarin sudah siap edit. Klien dari majalah 'Exotic' tanya kapan mereka bisa lihat sampelnya. Ini bakal jadi ledakan besar, Man!β*
Rahma membeku. Tangannya yang memegang sendok kayu gemetar hebat. Ia menatap pesan itu, lalu menatap Leo yang sedang membelakanginya, asyik mencuci gelas. Rasa hangat yang baru saja memenuhi dadanya seketika menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.
Kejujuran yang baru saja mereka janjikan seolah hancur berkeping-keping sebelum sempat tumbuh. Rahma teringat kembali pada motif awal Leo: menjadikannya model koleksi dewasa pribadinya.
"Leo," suara Rahma bergetar, kali ini bukan karena hasrat, melainkan karena rasa dikhianati yang menghujam dalam. "Ada sesuatu yang ingin kamu tunjukkan padaku di kameramu?"
Leo berbalik, menyadari perubahan nada bicara Rahma. Matanya beralih ke ponselnya yang masih menyala di meja, dan dalam sekejap, raut wajahnya berubah pucat. Ia melangkah maju, tangannya terulur seolah ingin menjelaskan, tapi Rahma sudah mundur selangkah, menatapnya dengan pandangan yang penuh luka dan kecurigaan yang kembali membara.
Hubungan jujur yang mereka impikan baru saja menab**k tembok kenyataan yang paling pahit. Dan Rahma tahu, jamu paling pahit sekalipun tidak akan bisa menetralkan rasa sakit ini.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!