Mataku terasa panas, seolah-olah ada butiran pasir yang diselipkan di balik kelopak mata setiap kali aku berkedip. Jam dinding di atas meja belajar sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan deretan teks mengenai hukum perdata di hadapanku mulai tampak seperti barisan semut yang menari-nari kacau. Ujian akhir semester tinggal dua hari lagi, dan aku tidak boleh membiarkan kantuk ini menang.
Aku bangkit dari kursi kayu yang sudah terasa keras menekan tulang ekor, lalu melangkah menuju pojok kecil di kamarku yang aku sulap menjadi dapur mini. Di sanalah harta karunku beradaβberbagai stoples kaca berisi rimpang kering, serbuk daun, dan bunga-bungaan yang sudah kukeringkan dengan teliti.
"Stamina, Rahma. Kamu butuh dorongan stamina, bukan sekadar kafein," gumamku pelan, mencoba menyemangati diri sendiri.
Tanganku meraih sebuah kantong kain kecil yang terletak di sudut paling gelap rak herbal. Aku baru membelinya minggu lalu dari seorang pedagang tua di pasar tradisional yang mengklaim bahwa ini adalah 'Akar Langit', varietas langka dari keluarga jahe-jahean yang tumbuh di lereng tersembunyi. Si pedagang bilang, akar ini bisa memberikan energi dua kali lipat lebih kuat dari jahe merah biasa untuk mereka yang kelelahan belajar.
Aku mengeluarkan rimpang itu. Bentuknya memang mirip jahe, tapi kulitnya lebih gelap, hampir berwarna ungu kehitaman, dengan tekstur yang sedikit lebih kenyal. Aromanya sangat tajam, ada perpaduan antara wangi tanah yang basah dan sesuatu yang manis, hampir seperti wangi bunga yang hampir busuk.
Tanpa ragu, aku mulai mengiris akar itu tipis-tipis di atas talenan kayu. Bunyi *tuk-tuk-tuk* pisau yang beradu dengan kayu menjadi satu-satunya melodi di kamar kosku yang sunyi. Aku mema**kkan irisan itu ke dalam panci kecil berisi air yang mulai berbuih. Tak lupa, aku menambahkan sedikit kayu manis dan kapulaga untuk menyeimbangkan rasa.
Asap tipis mengepul dari panci, membawa aroma yang tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Bau ini berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang menusuk di hidung, namun secara bersamaan mengundang rasa penasaran yang aneh.
"Aneh, baunya kenapa jadi semanis ini?" Aku mengerutkan kening, mengaduk ramuan itu dengan sendok kayu. Air yang tadinya bening berubah menjadi merah pekat, hampir menyerupai warna anggur tua.
Aku menuangkan cairan panas itu ke dalam cangkir keramik favoritku. Uapnya menyapu wajahku, membuat kulitku terasa sedikit lembap. Aku meniup permukaannya perlahan sebelum menyesapnya.
Rasanya mengejutkan. Awalnya pedas luar biasa, seperti lidahku disengat ribuan jarum kecil, namun detik berikutnya, rasa manis yang kental menyelimuti kerongkonganku. Ada sensasi hangat yang menjalar turun ke perut, seolah-olah aku baru saja menelan sebongkah bara api yang ramah.
"Lumayan," bisikku, kembali ke meja belajar dengan cangkir di tangan.
Sepuluh menit pertama, aku merasa luar biasa. Rasa kantukku hilang seketika. Fokusku kembali tajam, dan aku bisa membaca dua bab sekaligus tanpa perlu mengulang kalimat yang sama. Aku tersenyum puas. Pengetahuan herbalku memang tidak pernah mengecewakan.
Namun, di menit kelima belas, sensasi hangat di perutku mulai berubah.
Kehangatan itu tidak lagi tinggal di perut; ia mulai merambat ke atas, ke dadaku, lalu turun ke arah pinggul. Jantungku mulai berdegup dengan irama yang tidak beraturan, *dug-dug, dug-dug*, seperti ada genderang yang ditabuh kencang di dalam rongga dadaku. Aku melonggarkan kancing teratas kemeja flanel yang kukenakan.
"Kenapa panas sekali?" Aku mengipasi leherku dengan tangan.
Keringat mulai bermunculan di pelipis. Aku merasa seolah-olah suhu di dalam kamar kosku yang kecil ini melonjak drastis hingga empat puluh derajat Celsius. Aku mencoba fokus kembali pada buku di depanku, tapi huruf-huruf itu sekarang tidak lagi terlihat seperti hukum perdata. Mereka mulai meliuk-liuk, mengingatkanku pada sentuhan kulit.
Pikiranku mulai mengembara ke arah yang tidak ma**k akal. Tanganku yang gemetar tanpa sengaja menyentuh permukaan paha sendiri di balik celana pendek, dan aku tersentak. Sensasi sentuhan itu terasa berkali-kali lipat lebih sensitif dari biasanya. Setiap saraf di tubuhku seolah-olah baru saja terbangun dari tidur panjang dan sekarang menuntut sesuatu yang tidak kupahami.
"Ada yang salah," napasku mulai memburu, pendek-pendek dan berat.
Aku meraih kantong kain bekas akar tadi, mencoba mencari label atau sisa rimpang untuk memastikan apa yang sebenarnya aku konsumsi. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan sisa akar yang belum teriris. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, aku baru menyadari sesuatu yang kulewatkan tadi. Akar ini memiliki serat-serat halus berwarna merah darah di bagian tengahnya, dan ketika kutekan, ia mengeluarkan getah bening yang lengket.
Ini bukan 'Akar Langit' untuk stamina. Ingatanku yang terpendam tentang literatur herbal kuno tiba-tiba muncul seperti tamparan keras. Ini adalah *Akar Candra*, tanaman aphrodisiak langka yang dilarang diperjualbelikan secara bebas karena efeknya yang tidak hanya meningkatkan vitalitas, tapi memicu ledakan libido yang tidak terkendali jika dikonsumsi tanpa penawar.
"Ya Tuhan..." aku merintih.
Rasa panas itu sekarang berpusat di bagian bawah perutku, menciptakan denyutan yang menyiksa sekaligus nikmat yang menakutkan. Aku mencoba berdiri, tapi lututku terasa lemas seperti jeli. Pandanganku mulai kabur oleh kabut gairah yang tidak diundang. Aku merasa sangat haus, tapi bukan haus akan air. Tubuhku terasa kosong, hampa, dan butuh diisi oleh sesuatuβatau seseorang.
Aku merayap menuju pintu, mencoba mencari udara segar di koridor kosan yang sempit. Namun, begitu tanganku menyentuh gagang pintu yang dingin, rasa dingin itu justru memicu gelombang panas yang lebih hebat di sekujur tubuhku. Aku menyandarkan dahi ke pintu kayu yang kasar, terengah-engah, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasanku yang kian terkikis.
Dinding pertahananku runtuh. Harga diriku yang kaku mulai terasa tidak berarti dibandingkan dengan kebutuhan mendesak yang membakar saraf-sarafku. Aku tidak bisa sendirian. Aku butuh bantuan.
Tepat di seberang kamarku, aku mendengar sayup-sayup suara musik *techno* yang rendah dan tawa kecil seorang pria. Kamar nomor 10. Kamar Leo.
Pria yang selalu kupandang sebelah mata. Pria yang gaya hidup bebasnya selalu kubenci. Namun, saat ini, bayangan wajahnya yang arogan dan tangannya yang besar justru menjadi satu-satunya hal yang memenuhi pikiranku. Aku membenci diriku sendiri karena menginginkannya, tapi tubuhku tidak lagi mendengarkan logika.
Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang semakin menipis, aku memutar kunci pintu kamarku, melangkah keluar dengan goyah, dan sebelum aku sempat berpikir dua kali, tanganku sudah mengetuk pintu kamar Leo dengan keras.
*Tok! Tok! Tok!*
"Leo... tolong..." suaraku terdengar asing di telingaku sendiriβserak, penuh damba, dan sangat rapuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!