Udara di dalam kamar kosku mendadak terasa seperti uap yang terperangkap dalam sauna. Aku melirik kipas angin kecil di sudut ruangan yang berputar maksimal, namun embusan anginnya terasa seperti hembusan napas nagaβkering dan membakar. Aku mencengkeram pinggiran meja belajar, mencoba menstabilkan napas yang mulai pendek-pendek.
"Tiga gram akar pasak bumi, dua iris jahe merah, dan... apa tadi?" suaraku bergetar, nyaris berupa bisikan parau. Aku menatap botol kaca kecil yang kini kosong di atas meja. "Harusnya itu hanya tonik untuk stamina saat begadang mengerjakan skripsi. Bukan ini."
Denyut nadiku berdetak kencang di pergelangan tangan, seirama dengan debaran jantung yang mulai memalu dinding dada. Ini bukan sekadar rasa gerah biasa. Ada gelombang panas yang merambat dari dasar perut, menjalar ke paha, lalu naik ke tengkuk dengan kecepatan yang menakutkan. Kulitku yang biasanya pucat kini berubah menjadi rona merah jambu yang panas saat disentuh.
Aku mencoba berdiri, namun lututku terasa lemas seolah sendi-sendinya telah berubah menjadi cair. Pikiranku yang biasanya teratur dan logis mulai dikaburkan oleh kabut tipis yang menyesakkan. Aku harus mendinginkan suhu tubuh ini. Sekarang.
Dengan langkah sempoyongan, aku menuju kamar mandi kecil di pojok kamar. Aku menyalakan keran wastafel dan memba**h wajahku berkali-kali. Air dingin itu menyentuh kulitku, namun sensasinya hanya bertahan sedetik sebelum panas dari dalam tubuhku menguapkannya kembali. Aku menatap cermin. Mataku terlihat sayu, pupilnya melebar, dan ada kilat yang asing di sanaβkilat lapar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Si****, Rahma. Apa yang kau campurkan ke dalam ramuan itu?" gerutuku, meremas pinggiran wastafel hingga buku-buku jariku memutih.
Rasa gatal yang aneh mulai menjalar di bawah kulitku. Bukan gatal karena alergi, melainkan tuntutan sensorik yang membuat setiap inci pakaian yang kukenakan terasa seperti ampelas kasar. Kaus katun tipis yang kupakai terasa mencekik, memicu gesekan yang mengirimkan sengatan listrik kecil ke pusat sarafku.
Aku butuh lebih dari sekadar ba**han air.
Aku membuka pintu kulkas kecil di bawah meja, tempat aku menyimpan stok bahan-bahan herbal. Aku meraup dua wadah es batu yang baru kubekukan kemarin. Bunyi gemertak es yang beradu dengan lant** keramik kamar mandi terdengar nyaring di telingaku yang kini berdenging. Aku menyumbat lubang pembuangan bak mandi kecilku, lalu menuangkan air hingga penuh dan menumpahkan seluruh bongkahan es ke dalamnya.
Tanpa melepas pakaian, aku langsung menceburkan diri ke dalam air yang nyaris membeku itu.
*Byur!*
Efeknya instan. Aku tersentak, napasku tertahan di tenggorokan saat suhu ekstrem itu menghantam kulitku. Untuk beberapa detik, aku merasa menang. Rasa dingin yang menggigit itu memberikan jeda dari pembakaran internal yang kualami. Aku memejamkan mata, memeluk lutut di dalam bak mandi yang sempit, mencoba memfokuskan pikiran pada rumus-rumus kimia herbal untuk mengalihkan perhatian.
Namun, kemenangan itu hanya sementara.
Di bawah permukaan air yang dipenuhi bongkahan es, tubuhku bereaksi dengan cara yang berlawanan. Bukannya menggigil kedinginan, otot-ototku justru menegang dalam kenikmatan yang ganjil. Air es itu tidak memadamkan api di dalam diriku; ia justru membuat titik-titik sarafku menjadi sepuluh kali lipat lebih sensitif. Setiap kali potongan es menyentuh kulit lenganku atau bergeser di sela-sela kakiku, tubuhku berjingkat kecil, dan sebuah rintihan yang memalukan lolos dari bibirku.
"Tidak, tidak, tidak..." aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir kabut yang semakin tebal di otakku.
Tanganku tanpa sadar bergerak di bawah air, mengusap lenganku sendiri untuk mencari ketenangan, namun sentuhan itu justru terasa seperti bensin yang disiramkan ke api. Napasku semakin tidak beraturan. Air di sekitarku seolah-olah mulai menghangat karena panas tubuhku sendiri.
Ini mustahil. Secara medis, air es seharusnya memicu penyempitan pembuluh darah dan menurunkan suhu inti tubuh. Tapi ramuan si**** itu seolah-olah telah membajak sistem saraf pusatku. Ia mengubah rasa sakit menjadi gairah, dan rasa dingin menjadi provokasi.
Aku keluar dari bak mandi dengan tubuh basah kuyup, gemetar bukan karena kedinginan, melainkan karena energi yang meledak-ledak dan tidak punya jalan keluar. Aku menyambar handuk, namun saat kain kasar itu menyentuh kulitku, aku hampir terjatuh kembali ke lant**. Rasanya terlalu banyak. Terlalu tajam.
Aku merangkak keluar dari kamar mandi, meninggalkan jejak air di lant** kamar. Pikiranku melayang pada botol jamu itu lagi. Pasti ada salah satu rimpang yang mengalami mutasi atau aku salah menghitung rasio konsentrasi alkaloidnya. Tapi di tengah kekacauan intelektual itu, sebuah dorongan primitif mulai mengambil alih.
Aku butuh sesuatu. Seseorang.
Pandanganku terjatuh pada dinding kamar yang berbatasan langsung dengan kamar sebelah. Kamar nomor 10. Kamar milik pria yang selama ini menjadi musuh bebuyutanku dalam hal prinsip hidup. Pria yang aroma parfum maskulinnya seringkali menyusup melalui celah pintu dan membuatku mendengus jijik.
Leo.
Saat itu juga, sayup-sayup aku mendengar suara musik *low-fidelity* dari balik dinding. Aku tahu dia ada di sana. Aku bisa membayangkan dia sedang duduk di depan komputernya, mungkin sedang mengedit foto-foto modelnya yang berpakaian minim, dengan seringai sombong yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Biasanya, memikirkan Leo akan membuatku merasa mual. Namun sekarang, dalam kondisi otak yang terpanggang oleh ramuan erotis ini, bayangan jemari panjang Leo yang lincah memainkan kamera justru memicu kontraksi aneh di perut bawahku.
Aku mencoba berdiri, berpegangan pada lemari pakaian. Aku harus mencari penawar. Mungkin susu murni atau air kelapa hijau. Tapi kakiku justru membawaku ke arah pintu keluar. Tanganku yang gemetar meraih gerendel pintu.
"Jangan, Rahma. Jangan g***," bisikku pada diri sendiri, tapi jari-jariku seolah memiliki kemauan sendiri.
Aku membuka pintu kamar. Udara koridor kosan yang biasanya terasa apak kini terasa seperti oksigen murni yang kubutuhkan. Di ujung koridor yang remang-remang, cahaya lampu dari bawah pintu kamar Leo tampak memanggilku.
Setiap langkah yang kuambil terasa seperti berjalan di atas bara api. Rasa haus yang kurasakan bukan lagi tentang air, melainkan sesuatu yang lebih gelap dan mendesak. Aku berhenti tepat di depan pintu kayu berwarna cokelat gelap itu. Pintu kamar nomor 10.
Aku mengepalkan tangan, ragu sejenak antara mempertahankan sisa-sisa harga diriku atau menyerah pada keg***an yang mulai melahap kesadaranku. Namun, sebuah sentakan panas kembali menyerang tubuhku, membuat penglihatanku memutih sesaat.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu. Sekali. Dua kali. Dan pada ketukan ketiga, pintu itu terbuka, menampilkan sosok Leo yang hanya mengenakan kaos dalam putih dan celana pendek, menatapku dengan alis terangkat dan senyum miring yang mematikan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!