Gairah di Balik Jamu Rahasia

Bab 4: Bab 4 - Mencari bantuan medis namun sadar ia tidak bisa...

Pengaturan Membaca

Setetes keringat dingin merayap lambat dari pelipisku, melewati rahang yang mengatup rapat, sebelum akhirnya jatuh dan menghilang di balik kerah kaus tipis yang kukenakan. Panas ini tidak ma**k akal. Ini bukan sekadar gerah karena udara Jakarta yang lembap di malam hari. Ini adalah api yang disulut tepat di sumbu sarafku, merambat melalui aliran darah, dan meledak di setiap inci kulit yang tersentuh kain.

Aku mencengkeram pinggiran wastafel di kamar mandi kosanku yang sempit. Napasku memburu, menciptakan uap tipis pada cermin yang buram. Dengan tangan gemetar, aku memba**h wajahku berkali-kali. Air dingin itu seharusnya menenangkan, tetapi justru terasa seperti bensin yang menyiram bara. Setiap tetesan air yang mengalir di leherku memicu sensasi geli yang menyiksa, membuat lututku lemas dan perutku melilit oleh rasa lapar yang asing—rasa lapar yang tidak bisa dipuaskan oleh makanan apa pun.

"Bodoh, Rahma... benar-benar bodoh," bisikku, suaraku parau dan terdengar seperti milik orang asing.

Pikiranku berputar pada botol kaca kecil di atas meja belajarku. Ramuan eksperimental itu. Seharusnya itu adalah formula untuk meningkatkan vitalitas dan konsentrasi bagi penderita anemia. Aku sudah menghitung dosisnya, menimbang setiap akar dan rimpang dengan presisi seorang alkemis. Namun, satu kesalahan kecil—mungkin takaran purwaceng yang terlalu pekat atau interaksi kimiawi dari jahe merah yang melampaui batas—telah mengubah ramuan itu menjadi racun pemantik berahi yang mematikan.

Aku harus ke dokter. Ya, itu satu-satunya jalan keluar yang logis. Aku perlu penetralisir, mungkin suntikan antihistamin atau pembersihan lambung. Aku tidak bisa membiarkan tubuhku dikendalikan oleh insting primitif ini lebih lama lagi.

Dengan gerakan kikuk, aku meraba kantong celana pendekku, mencari ponsel. Layarnya menyala terang, menyakiti mataku yang kini terasa panas. Pukul sebelas malam. Aku mencoba mengetik nomor layanan darurat, tetapi jemariku tidak mau bekerja sama. Mereka terus gemetar, tergelincir di atas permukaan kaca yang licin.

Aku memaksakan diri melangkah menuju pintu. Namun, saat tanganku menyentuh gagang pintu yang dingin, sebuah bayangan di cermin lemari pakaian menghentikanku.

Aku terpaku melihat pantulanku sendiri. Wajahku yang biasanya pucat dan kaku kini merona hebat, seolah-olah seluruh darah di tubuhku berkumpul di bawah permukaan kulit. Mataku sayu, pupilnya melebar hingga menyisakan hanya lingkaran hitam yang dalam dan penuh damba. Rambutku yang selalu terikat rapi sekarang berantakan, beberapa helai menempel di leher yang berkeringat. Aku terlihat... berantakan. Aku terlihat seperti wanita yang sedang kehilangan akal sehat karena gairah.

*Aku tidak bisa keluar seperti ini.*

Logikaku yang tersisa mencoba memberontak. Jika aku melangkah keluar menuju jalan raya, mencari taksi dalam kondisi seperti ini, apa yang akan dipikirkan orang? Bagaimana jika aku bertemu dengan teman kampus atau dosen? Reputasiku sebagai mahasiswi berprestasi yang disiplin dan "dingin" akan hancur dalam semalam. Mereka akan melihatku bukan sebagai pasien yang salah minum obat, melainkan sebagai seorang pecandu atau wanita murahan yang sedang mencari mangsa.

Rasa gengsi yang selama ini menjadi pelindung terkuatku kini berbalik menjadi penjara yang mencekik.

*Deg. Deg. Deg.*

Jantungku berdegup sangat kencang hingga telingaku berdenging. Di tengah kesunyian kamar, aku mendengar suara tawa dari koridor luar. Suara berat, rendah, dan penuh percaya diri yang sangat kukenali.

Leo.

Aku menempelkan telingaku ke pintu, menahan napas. Suara kunci diputar dan langkah kaki yang sant** terdengar berhenti tepat di depan kamar sebelah. Kamar fotografer si**** itu. Bayangan tentang bagaimana cara Leo menatapku selama ini—tatapan lapar yang selalu aku balas dengan cibiran dingin—tiba-tiba melintas di kepalaku. Sialnya, bayangan itu tidak memicu kemarahan seperti biasanya. Malah, perutku bergejolak hebat, dan rasa panas di antara kedua paha menjalar semakin intens.

"Tidak, Rahma. Jangan g***," aku memperingatkan diriku sendiri, kuku-kukuku menancap di telapak tangan untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Namun, kebutuhan biologis ini mulai menumpulkan akal sehatku. Napasku semakin pendek, dan rasa haus yang luar biasa membuat tenggorokanku kering. Aku butuh bantuan. Seseorang harus menghentikan keg***an ini. Aku mencoba merangkak kembali ke tempat tidur, tetapi tubuhku justru membawaku kembali ke arah pintu.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam penyiksaan. Kulitku terasa terlalu ketat untuk tubuhku sendiri. Aku ingin merobek pakaian ini, aku ingin membenamkan diriku ke dalam es, aku ingin... aku ingin disentuh.

Pikiran itu menghantamku seperti godam. Aku, Rahma yang perfeksionis, baru saja menginginkan sentuhan seseorang untuk meredakan gejolak kimiawi ini. Dan satu-satunya manusia yang berada dalam jangkauan terdekatku adalah pria yang paling kubenci di seluruh dunia. Pria yang menganggap tubuh wanita hanyalah objek estetika untuk lensa kameranya.

Tanganku kembali meraih gagang pintu, kali ini lebih mantap. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tetap di sini sendirian, aku takut aku akan melakukan sesuatu yang lebih memalukan pada diriku sendiri. Aku butuh bantuan medis, atau setidaknya seseorang yang bisa membawaku ke sana tanpa banyak tanya. Meskipun orang itu adalah Leo.

Perlahan, aku memutar kunci. Suara *klik* kecil itu terdengar seperti ledakan di telingaku. Aku membuka pintu sedikit, membiarkan udara dingin dari lorong ma**k dan menerpa wajahku yang terbakar.

Di ujung lorong yang temaram, aku melihat cahaya merembes dari bawah pintu kamar Leo. Suara musik *blues* sayup-sayup terdengar, menambah suasana gerah yang sudah memenuhi kepalaku. Aku melangkah keluar, kakiku terasa goyah seolah berjalan di atas awan.

Setiap langkah menuju pintu kamarnya adalah pengkhianatan terhadap harga diriku. Namun, saat rasa panas itu kembali menyerang dengan gelombang yang lebih besar, aku kehilangan daya untuk peduli. Aku berhenti tepat di depan pintunya yang berwarna cokelat tua.

Tanganku terangkat, ragu sejenak di udara. Aku tahu, sekali aku mengetuk pintu ini, tidak ada jalan kembali. Aku akan menyerahkan kerentananku pada pria yang paling berbahaya bagi reputasiku.

*Tok. Tok. Tok.*

Suara ketukanku terdengar lemah, hampir seperti bisikan. Tidak ada jawaban.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku yang sudah di ambang batas. Aku mengetuk lagi, kali ini lebih keras, lebih putus asa.

"Leo..." panggilku, suaraku pecah dan bergetar. "Tolong... buka pintunya."

Keheningan menyelimuti lorong itu selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari dalam. Jantungku serasa ingin melompat keluar dari dada saat gagang pintu di hadapanku mulai bergerak turun.

Pintu itu terbuka, dan sosok tinggi Leo berdiri di sana, hanya mengenakan celana jins pudar tanpa atasan, dengan kamera yang masih tergantung di lehernya. Ia tampak terkejut, namun segera berubah menjadi seringai tipis yang memuakkan saat matanya mulai memindai penampilanku yang berantakan dari atas ke bawah.

"Rahma?" suaranya rendah, penuh selidik. "Ada apa? Tumben sekali kamu mampir malam-malam begini."

Aku ingin bicara, aku ingin menjelaskan tentang jamu itu, tetapi yang keluar dari bibirku hanyalah sebuah rintihan kecil yang memalukan saat mataku terpaku pada otot dadanya yang berkilat terkena cahaya lampu kamar. Aku tahu, aku baru saja berjalan ma**k ke dalam sarang serigala dengan sukarela.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca