Gairah di Balik Jamu Rahasia

Bab 5: Bab 5 - Menikmati malamnya sampai Rahma tiba-tiba mengg...

Pengaturan Membaca

Gelas kaca berisi wiski itu berdenting pelan saat aku memutarnya, membuat es batu di dalamnya menari-nari di bawah temaram lampu meja kerjaku. Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit yang berderit, menatap layar monitor besar yang menampilkan hasil pemotretan kemarin. Seorang model katalog pakaian dalam berpose menggoda, tapi mataku terus-menerus kehilangan fokus. Ada sesuatu yang kurang. Terlalu hambar. Terlalu... teratur.

Pikiranku malah melayang pada tetangga sebelah kosanku yang luar biasa menyebalkan itu. Rahma. Si Nona Sempurna yang selalu menatapku seolah-olah aku adalah noda lumpur di atas lant** marmernya yang mengkilap. Bayangkan saja, hanya karena aku pulang larut malam dengan aroma alkohol tipis di jaket, dia sudah memberiku ceramah tentang 'kerusakan moral' dan 'kesehatan hati'. Lucu sekali. Padahal, di balik tatapan judes dan kemeja yang dikancingkan sampai ke leher itu, aku bisa melihat potensi yang luar biasa jika saja dia mau sedikit saja melonggarkan ikat pinggangnya.

"Satu sesi saja dengan kamera gue, Rahma, dan lo bakal tahu betapa cantiknya lo kalau sedang berantakan," gumamku sambil menyesap wiski yang membakar tenggorokan.

Tiba-tiba, sebuah suara menghancurkan keheningan malam yang biasanya hanya diisi oleh dengung AC.

*B**K! B**K! B**K!*

Pintu kamarku digedor dengan kasar. Bukan ketukan sopan, melainkan hantaman panik yang membuat bingkai foto di dekat pintu bergetar. Aku mengernyit. Siapa yang berani mengganggu 'me-time' seorang Leo di jam sebelas malam? Jika itu ibu kos yang menagih uang listrik, dia biasanya mengetuk dengan irama yang lebih berwibawa.

Aku meletakkan gelas dengan kasar di meja, lalu beranjak menuju pintu. "Sabar, Bos! Nggak usah robohin pintu juga!" teriakku sambil memutar kunci.

Begitu pintu terbuka, kata-kata makian yang sudah kusiapkan di ujung lidah mendadak lenyap. Aku terpaku.

Di depanku, berdiri Rahma. Tapi ini bukan Rahma yang aku kenal.

Rambutnya yang biasanya selalu terikat rapi dalam sanggul rendah kini terurai berantakan, sebagian menempel di leher dan dahinya yang berkeringat. Kemeja tidurnya kancingnya meleset satu lubang, memperlihatkan sedikit kulit bahunya yang merona merah seolah baru saja terpanggang matahari. Tapi yang paling membuatku tertegun adalah matanya. Pupilnya melebar, sayu, dan basah, menatapku dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemuan kami—tidak mengandung kebencian.

"Leo..." suaranya serak, nyaris berupa bisikan yang bergetar.

Aku menyandarkan bahu di kusen pintu, mencoba menguasai keterkejutanku dengan seringai tipis andalanku. "Wah, ada apa ini? Si Nona Herbal akhirnya sadar kalau kamarnya terlalu sepi?"

Biasanya, dia akan membalas dengan kata-kata tajam atau setidaknya memutar bola mata. Tapi kali ini, dia justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Aku bisa mencium aroma aneh yang menguar dari tubuhnya. Aroma jamu—kunyit, jahe, dan rempah lainnya—tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang manis, tajam, dan memabukkan yang tidak bisa kujelaskan.

"Tolong... bantu aku," ucapnya lagi, kali ini lebih mendesak. Tangannya yang gemetar terangkat, mencengkeram lengan kemejaku. Telapak tangannya terasa sangat panas, seolah dia sedang menderita demam tinggi.

Aku mengamati wajahnya lebih dekat. Pipinya merona merah padam, napasnya pendek-pendek dan memburu. Dia terlihat seperti orang yang sedang berjuang melawan sesuatu dari dalam dirinya sendiri.

"Lo sakit?" tanyaku, nada bicaraku sedikit melunak meski rasa penasaran mulai menggelegak. "Kalau butuh obat, gue cuma punya aspirin. Atau lo mau gue antar ke klinik?"

Rahma menggeleng cepat. Kepalanya tertunduk, tapi jemarinya semakin kuat mencengkeram lenganku, kuku-kukunya hampir menembus kain kemeja. "Bukan... bukan itu. Panas, Leo. Di dalam sini... rasanya terbakar."

Dia mendongak, dan untuk sekejap, aku merasa seperti sedang menatap mangsa yang sekaligus menjadi pemburu. Ada gairah yang mentah dan tak terkendali di balik matanya yang berkabut. Dia menjilat bibirnya yang kering dengan gerakan perlahan yang membuat jakunku naik turun.

"Leo, tolong..." Rahma merapat, tubuhnya kini hampir bersentuhan dengan dadaku. Panas yang memancar dari kulitnya mulai merambat ke tubuhku. "Aku nggak tahu apa yang salah... aku minum ramuan itu... dan sekarang..."

Aku mulai mengerti. Mataku menyipit, menatapnya dengan sudut pandang seorang fotografer yang melihat sebuah mahakarya yang tak terduga. Si disiplin ini baru saja melakukan kesalahan fatal dengan ramuan herbalnya. Dan kesalahan itu mengubahnya menjadi sosok yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku.

"Ramuan, ya?" bisikku, kini sengaja merendahkan suaraku tepat di dekat telinganya. Aku bisa merasakan tubuhnya berjingkat kecil, napasnya tertahan. "Jadi ini rahasia di balik jamu-jamu lo itu? Membuat lo jadi segini... haus?"

Rahma tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru mengerang pelan, sebuah suara yang sangat rendah dan penuh duka sekaligus keinginan, sambil menyandarkan dahinya di dadaku. Tanganku secara otomatis bergerak, hampir menyentuh pinggangnya, tapi aku menahannya. Aku ingin melihat sejauh mana dia akan menyerah.

"Lo tahu kan siapa yang lo datangi sekarang, Rahma?" godaku, tanganku kini perlahan merayap naik ke tengkuknya, memainkan helai rambutnya yang basah. "Gue si fotografer 'liar' yang selalu lo benci. Lo yakin mau minta tolong sama gue?"

Rahma mendongak lagi. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Aroma rempah dan gairah itu semakin kuat, memenuhi indra penciumanku hingga kepalaku terasa sedikit pening. Dia menatap bibirku dengan lapar, sebuah ekspresi yang sangat kontras dengan harga dirinya yang setinggi langit itu.

"Apa pun..." bisiknya putus asa. "Lakukan apa pun... tolong, padamkan apinya."

Seringai di wajahku melebar. Ini lebih dari sekadar keberuntungan. Ini adalah kesempatan yang sudah lama aku tunggu—untuk menghancurkan benteng es yang dibangunnya dan melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di baliknya.

Aku meraih pinggangnya, menariknya ma**k ke dalam kamarku yang remang-remang, lalu menendang pintu hingga tertutup rapat dengan bunyi *klik* yang menentukan.

"Oke, Rahma. Tapi lo harus tahu satu hal," bisikku sambil menekannya ke dinding di balik pintu. "Gue nggak memberikan bantuan secara gratis."

Rahma tidak peduli. Dia justru merobek satu kancing kemejaku hingga terlepas, tangannya yang panas langsung bersentuhan dengan kulit dadaku. Aku tersentak, sensasi panas itu seperti sengatan listrik. Mataku beralih ke kamera yang tergeletak di atas meja. Sebuah ide liar melintas di benakku. Jika dia menginginkan 'bantuan' dariku, maka dia harus menjadi mahakaryaku malam ini.

Namun, saat aku hendak menciumnya, Rahma justru menarik kerah bajuku dengan kasar dan membisikkan sesuatu yang membuat darahku berdesir hebat.

"Jangan banyak bicara, Leo. Cepat... atau aku akan g***."

Aku tertegun sejenak. Rahma benar-benar kehilangan kendali. Dan aku? Aku baru saja akan memulai permainan yang paling berbahaya dalam hidupku. Tapi, apakah aku benar-benar sanggup menangani apa yang akan keluar dari dalam dirinya setelah ini? Karena saat ini, dialah yang tampak siap menelanku hidup-hidup.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca