Pintu kayu di hadapanku berderit pelan, seolah ikut merasakan ketegangan yang merambat di udara malam ini. Di sana, bersandar pada kusen pintu dengan napas yang memburu, adalah sosok yang biasanya paling menghindariku. Rahma. Si mahasiswi perfeksionis yang selalu menatapku seolah-olah aku adalah kuman yang mengontaminasi udara bersih di kosan ini.
Namun, malam ini, 'Si Ratu Jamu' itu kehilangan mahkotanya.
Aku menyipitkan mata, mengamati setiap jengkal perubahan pada dirinya di bawah temaram lampu lorong. Wajahnya yang biasanya pucat dan kaku kini merona hebat, warna merah jambu yang tidak alami menjalar hingga ke leher dan tulang selangkanya yang menonjol. Keringat tipis membasahi keningnya, membuat beberapa helai rambut menempel di pipi. Matanya—ah, mata itu biasanya menatapku penuh penghakiman—kini tampak berkabut, menyimpan badai keinginan yang liar sekaligus ketakutan yang mendalam.
"Leo..." suaranya serak, nyaris menyerupai bisikan putus asa.
Aku menyilangkan tangan di depan dada, bersandar pada bingkai pintu kamarku sendiri dengan seringai tipis yang sengaja kupasang untuk memprovokasinya. "Tumben sekali. Ada apa, Rahma? Blender jamumu rusak? Atau kau akhirnya sadar kalau hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan minum air rebusan pahit?"
Rahma tidak membalas ejekanku dengan lidah tajamnya seperti biasa. Sebaliknya, dia malah meremas pinggiran kemejanya, buku-buku jarinya memutih. Dia melangkah maju satu tindak, dan aku bisa mencium aroma yang aneh darinya. Bukan wangi parfum bunga yang biasa dipakai mahasiswi lain, melainkan aroma rempah yang tajam—cengkeh, jahe, dan sesuatu yang lebih eksotis, sesuatu yang terasa... panas.
"Tolong aku," rintihnya. Suaranya bergetar, dan dia hampir kehilangan keseimbangan jika aku tidak segera menangkap lengannya.
Kulitnya terasa seperti terbakar. Saat telapak tanganku bersentuhan dengan lengannya, aku merasakan sengatan listrik yang membuat bulu kudukku berdiri. Rahma tidak menarik diri. Justru sebaliknya, dia seolah meleleh ke arahku, mencari kesejukan dari tanganku yang dingin. Dia mendongak, dan untuk pertama kalinya, aku melihat pertahanan mentalnya runtuh total.
"Kau panas sekali, Rahma. Kau sakit?" tanyaku, meski aku mulai menduga apa yang sebenarnya terjadi. Bau ramuan itu, kegelisahan motoriknya, dan gairah yang memancar dari pori-porinya—gadis ini baru saja meminum sesuatu yang salah. Sangat salah.
"Aku... aku salah meracik. Sesuatu di dalam diriku... aku tidak bisa menahannya," dia terengah, jemarinya kini mencengkeram kausku, menarikku lebih dekat seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang mengamuk.
Otakku bekerja cepat. Sebagai seorang fotografer, aku selalu mencari momen-momen mentah, emosi yang tidak terfilter. Dan di depanku sekarang, Rahma adalah mahakarya yang belum terjamah. Keangkuhannya yang biasanya membentengi dirinya telah hancur, menyisakan kerentanan yang sangat provokatif. Selama ini, aku selalu penasaran bagaimana rasanya melihat Rahma kehilangan kendali, dan sekarang, takdir menyerahkannya tepat di depan pintuku.
Aku menariknya ma**k ke dalam kamarku dan menutup pintu dengan tumit kaki. Bunyi 'klik' saat kunci berputar seolah menjadi tanda dimulainya sebuah permainan baru.
"Aku bisa membantumu, Rahma," bisikku di dekat telinganya. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar hebat hanya karena embusan napas pernapasan di kulitnya. "Tapi kau tahu aku bukan orang yang suka melakukan pelayanan sosial tanpa imbalan."
Rahma menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sebagian karena pengaruh ramuan itu, sebagian lagi karena sisa-sisa harga dirinya yang masih mencoba melawan. "Apa... apa maumu?"
Aku membimbingnya menuju kursi kulit besar di sudut ruangan, tempat biasanya aku mendudukkan model-modelku. Di sana, di bawah sorotan lampu studio yang belum sempat kumatikan, dia tampak semakin mempesona dalam kekacauannya. Aku mengambil kamera DSLR-ku yang tergeletak di meja, menimang-nimangnya sejenak.
"Kau tahu aku sedang mengerjakan proyek portofolio dewasa pribadiku, kan? 'The Raw Desire'. Dan jujur saja, tidak ada satu pun model profesional yang bisa memberikan ekspresi seautentik dirimu saat ini," kataku sambil menyesuaikan lensa.
Rahma menggeleng lemah, mencoba bangkit, tapi kakinya tampak seperti jeli. "Tidak... jangan... aku tidak bisa."
Aku mendekat, berdiri tepat di hadapannya sehingga dia terpaksa mendongak. Aku meletakkan jari telunjukku di bawah dagunya, memaksanya menatap langsung ke mataku. "Pilihannya sederhana, Rahma. Kau bisa kembali ke kamarmu dan membiarkan rasa panas itu membakar akal sehatmu sendirian sampai kau g***, atau kau tetap di sini. Aku akan membantumu 'meredakan' gejolak itu, langkah demi langkah."
Aku menjeda kalimatku, membiarkan keheningan itu menekannya. "Syaratnya satu: Kau harus mengikuti setiap arahanku. Tanpa bantahan. Kau adalah subjekku malam ini. Jika aku menyuruhmu berpose, kau berpose. Jika aku menyuruhmu melepas sesuatu, kau melepasnya. Jika aku menyuruhmu menyentuh dirimu sendiri sementara aku mengabadikannya... kau akan melakukannya."
Napas Rahma semakin pendek. Dia tampak sedang berperang dengan jiwanya sendiri. Namun, saat tanganku yang lain perlahan membelai lehernya, turun ke arah tulang selangkanya yang berdenyut kencang, dia mengeluarkan erangan kecil yang terdengar seperti menyerah.
"Leo... tolong... panas sekali..." dia memohon, suaranya pecah.
"Katakan," tuntutku dengan suara rendah dan memerintah. "Katakan kau setuju dengan syaratku."
Rahma memejamkan mata erat-erat, air mata setitik jatuh di pipinya yang panas. "Aku... aku setuju. Lakukan saja... tolong, lakukan apa saja."
Aku tersenyum puas. Ini lebih baik daripada yang kubayangkan. Aku melangkah mundur, mengangkat kamera ke depan mataku, dan melihatnya melalui jendela bidik. Di sana, Rahma tampak seperti mangsa yang tertangkap dalam keindahan yang mematikan.
"Bagus," kataku, jariku sudah berada di tombol rana. "Sekarang, buka dua kancing teratas kemejamu, Rahma. Biarkan aku melihat seberapa besar pengaruh jamumu itu pada kulitmu. Dan jangan alihkan pandanganmu dari lensa. Aku ingin melihat gairah itu di matamu."
Tangannya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya. Aku menahan napas, siap mengabadikan setiap detik kehancuran—atau kebangkitan—sang dewi herbal yang kaku ini. Namun, saat kancing pertama terlepas, aku menyadari bahwa apa yang kuminta mungkin akan membakar diriku sendiri juga. Karena di balik lensa ini, aku bukan hanya melihat seorang model, tapi seorang wanita yang selama ini diam-diam menghantui imajinasiku.
Dan malam ini, dia adalah milikku sepenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!