Udara di dalam kamar Leo terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen telah habis disedot oleh aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria ituβperpaduan antara wangi kopi pahit, tembakau tipis, dan parfum sitrus yang tajam. Aku menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup rapat, jemariku mencengkeram kain rok yang kukenakan hingga buku-buku jariku memutih. Di depanku, Leo berdiri dengan sant**, menyilangkan tangan di depan dada, menatapku dengan binar kemenangan yang membuatku ingin menampar wajah tampannya itu.
Namun, egoku sedang berperang hebat dengan pusat sarafku.
"Masih mau bertahan, Rahma?" suara Leo terdengar rendah, hampir seperti bisikan yang merambat di permukaan kulitku, memicu gelombang panas yang baru. "Wajahmu merah padam. Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak."
Aku ingin membalasnya dengan kata-kata pedas. Aku ingin menyebutnya pemangsa, oportunis, atau apa pun yang bisa meruntuhkan kepercayaan dirinya. Tapi yang keluar dari tenggorokanku hanyalah sebuah rintihan tertahan. Ramuan si**** itu benar-benar mengkhianatiku. Cairan herbal yang seharusnya berfungsi untuk detoksifikasi itu justru berubah menjadi api cair yang mengalir di nadiku, mengumpulkan seluruh gairah di titik yang paling terlarang.
"Diam kau," desisku, meski suaranya terdengar goyah dan sama sekali tidak mengancam.
Leo melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman drum di telingaku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya bahkan sebelum dia menyentuhku. Dia berhenti tepat di depanku, jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang gelap; seorang wanita yang berantakan, dengan mata sayu dan napas yang memburu.
"Aku bisa membantumu," bisik Leo lagi. Jari telunjuknya terangkat, perlahan menelusuri garis rahangku hingga berhenti di bawah dagu. Sentuhannya dinginβkontras yang menyakitkan dengan kulitku yang membaraβnamun di saat yang sama, sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat lututku lemas.
"Jangan... sentuh aku," kataku, namun tubuhku justru condong ke arahnya, mencari kenyamanan dari hawa dingin yang ia tawarkan. Aku membencinya. Aku membenci betapa dia sangat menikmati saat-saat kehancuranku. Pria ini adalah segala sesuatu yang aku hindari: liar, tidak teratur, dan manipulatif.
"Bibirmu bilang jangan, tapi tubuhmu memohon hal lain," Leo menyeringai, sebuah senyum miring yang biasanya akan membuatku memutar bola mata, tapi sekarang justru membuat perutku mulas oleh hasrat yang tak tertahankan.
Dia menurunkan tangannya ke leherku, ibu jarinya menekan lembut denyut nadiku yang berpacu g***. Kepalaku terkulai ke belakang, membentur pintu, membiarkannya memiliki akses lebih luas. Aku memejamkan mata dengan rapat, mencoba memanggil kembali nalar dan logika yang selalu kupuja. Aku adalah Rahma, mahasiswi berprestasi yang disiplin. Aku bukan wanita yang menyerah pada nafsu di kamar seorang fotografer playboy.
Namun, logika tidak memiliki kekuatan melawan reaksi kimia yang mengamuk di dalam darahku.
"Tolong..." Kata itu meluncur begitu saja dari bibirku sebelum aku sempat menghentikannya. Begitu kata itu keluar, aku merasa harga diriku hancur berkeping-keping di lant** kamar Leo yang kotor.
Leo tertawa kecil, suara yang serak dan dalam. "Tolong apa, Rahma? Katakan dengan jelas."
"Lakukan sesuatu... hilangkan rasa panas ini," rintihku, akhirnya menyerah sepenuhnya. Aku meremas kemeja flanel yang ia kenakan, menariknya mendekat hingga dada kami bersentuhan. Panas bertemu panas. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang juga cepat, membuktikan bahwa dia tidak sedingin yang dia tunjukkan.
Leo tidak membuang waktu lagi. Dia merengkuh pinggangku, menarik tubuhku hingga benar-benar menempel padanya. Tangan satunya ma**k ke sela-sela rambutku, menariknya sedikit agar aku menatapnya. "Ingat ini, Rahma. Kau yang meminta. Dan kau tahu apa harganya."
Aku tidak peduli lagi dengan portofolio, kamera, atau reputasi. Saat ini, hanya ada gesekan kulit, napas yang bersahutan, dan kebutuhan mendesak untuk memadamkan api ini. Saat bibirnya mendarat di leherku, aku merasakan sensasi luar biasa yang membuat seluruh sarafku berteriak lega. Sentuhannya tidak kasar, namun penuh tuntutan yang terarah. Setiap inci kulit yang disentuhnya seolah mendapatkan penawar racun yang sementara.
Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aromanya dalam-dalam, membiarkan diriku tenggelam dalam pusaran nikmat yang memalukan ini. Aku membencinya karena dia tahu persis di mana harus menyentuh. Aku membencinya karena dia membuatku merasa sangat rentan dan sangat hidup di saat yang bersamaan.
Di sela-sela kabut gairah itu, aku menyadari satu hal: aku baru saja ma**k ke dalam kandang singa dengan sukarela. Dan singa ini tidak akan melepaskanku begitu saja setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Leo melepaskan tautan bibirnya dari kulitku sejenak, hanya untuk menatapku dengan tatapan lapar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia kemudian menggendongku, membawaku menuju ranjangnya yang berantakan. Saat tubuhku menyentuh ka**r, aku merasakan dinginnya sprei, namun itu hanya bertahan sesaat sebelum Leo mengurungku di bawah tubuhnya.
"Satu sesi foto dewasa, Rahma," bisiknya di telingaku, suaranya kini terdengar seperti perjanjian dengan i****. "Setelah malam ini, kau akan menjadi milik kameraku seutuhnya. Setuju?"
Aku hanya bisa mengangguk lemah, kehilangan kemampuan bicara saat tangannya mulai merayap naik ke balik bajuku. Aku telah menyerahkan kunci kendali atas diriku sendiri kepadanya, dan jauh di dalam lubuk hatiku, sebuah ketakutan baru muncul: bagaimana jika setelah ramuan ini habis, aku justru tidak ingin dia berhenti?
Saat jemari Leo menyentuh kancing pertama bajuku, bunyi denting notifikasi dari ponselnya di atas nakas memecah kesunyian, diikuti oleh ketukan keras di pintu kamar kosnya yang membuat kami berdua tersentak.
"Leo! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam dengan mahasiswi itu!" sebuah suara wanita yang melengking terdengar dari luar, membuat jantungku seolah merosot ke perut.
Leo membeku, matanya yang tadinya penuh gairah kini berubah menjadi waspada, sementara aku tiba-tiba tersadar akan posisi memalukan yang sedang kujalani. Peluh dingin mulai bercampur dengan panas yang masih tersisa, menciptakan perasaan mual yang mendadak. Siapa wanita itu, dan apa yang akan terjadi jika dia melihatku di sini dalam kondisi seperti ini?
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!