Cahaya matahari pagi yang menerobos ma**k melalui celah gorden kamarku terasa seperti ribuan jarum yang menusuk tepat ke bola mata. Aku mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi, namun gerakan sekecil itu pun membuat seluruh tubuhku protes. Ada rasa pegal yang asing di pangkal paha dan pinggangku, sebuah sensasi tumpul yang berdenyut seirama dengan detak jantungku yang masih belum stabil.
Aku memaksakan diri untuk duduk, meski kepalaku terasa seberat batu kali. Bau rempah jamu yang tajam masih samar-samar tercium di udara, bercampur dengan aroma maskulin yang bukan milikku. Seketika, potongan-potongan ingatan semalam menghantamku layaknya proyektil yang mematikan.
Napas yang memburu. Kulit yang terbakar hebat. Kamar Leo yang berantakan dengan lampu-lampu studio yang menyilaukan. Dan tangan itu... tangan Leo yang memegang kamera sekaligus menuntun tubuhku ke dalam jurang kenikmatan yang memalukan.
"Oh, Tuhan," bisikku parau. Suaraku terdengar serak, mengingatkanku betapa banyak desahan dan rintihan yang kulepaskan semalam.
Aku meraba leherku, merasakan denyut nadi yang kencang. Bayangan diriku sendiri yang memohon-mohon pada pria yang paling kubenci di kosan ini membuat perutku mual karena rasa malu. Jamu eksperimental itu benar-benar sebuah bencana. Niat hati ingin menciptakan ramuan kebugaran untuk stamina mahasiswi tingkat akhir, aku justru meracik 'racun' yang melucuti seluruh martabat dan akal sehatku.
Dengan tangan gemetar, aku menyingkap selimut. Aku masih mengenakan daster yang sama, tapi berantakan dan kancing atasnya terlepas satu. Aku tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali ke kamarku sendiri. Apakah Leo yang menggendongku? Pikiran itu membuat pipiku terasa panas membara.
Aku melangkah menuju cermin rias yang buram di sudut kamar. Bayangan yang terpantul di sana bukan lagi Rahma si mahasiswi teladan yang disiplin dan kaku. Rambutku kusut masai, bibirku sedikit bengkak, dan ada gurat kemerahan samar di tulang selangka yang dengan jelas menceritakan apa yang terjadi di balik pintu kamar nomor 12 semalam.
"Sadar, Rahma. Itu hanya pengaruh kimiawi. Hanya reaksi biologis," gumamku pada cermin, mencoba meyakinkan diri sendiri. Namun, getaran di ujung jemariku berkata lain. Ada kepuasan yang tidak ingin kuakui, sebuah kelegaan yang mengerikan setelah api dalam tubuhku dipadamkan oleh tangan dingin sang fotografer.
Aku harus keluar. Aku butuh air mineral dingin untuk mendinginkan kepalaku yang mendidih. Aku harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Strateginya sederhana: hindari kontak mata, jangan bicara, dan anggap semalam adalah halusinasi akibat demam.
Setelah mencuci muka berkali-kali dan merapikan pakaianku dengan gerakan mekanis, aku memberanikan diri membuka pintu kamar. Koridor kosan lant** dua masih sepi, hanya terdengar suara sayup-sayup televisi dari kamar ibu kos di lant** bawah. Aku melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lant** kayu yang terkadang berderit.
Namun, keberuntungan memang sedang tidak berpihak padaku hari ini.
Baru saja aku melewati pintu kamar nomor 12, pintu kayu berwarna cokelat tua itu terbuka dengan sentakan pelan. Langkahku terhenti seketika. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan.
Leo berdiri di sana. Rambutnya yang agak panjang terlihat acak-acakkan khas orang baru bangun tidur. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan, memamerkan dada bidang dan bahu yang tegap. Di tangannya, ia memegang sebuah kamera DSLRβbenda yang semalam menjadi saksi bisu kehancuranku.
Kami membeku selama beberapa detik. Atmosfer di koridor yang sempit itu mendadak menjadi sangat tipis, membuatku sulit bernapas.
"Pagi, Rahma," sapa Leo. Suaranya rendah dan serak, membawa kembali getaran aneh yang menjalar di tulang belakangku. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu, menatapku dengan tatapan intens yang seolah bisa menembus pakaianku.
Aku menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer. "Pagi," jawabku singkat, berusaha terdengar sedatar mungkin. Aku tidak berani menatap matanya, jadi aku memilih untuk menatap ujung sandalnya.
"Kau terlihat... jauh lebih tenang pagi ini," ucapnya dengan nada provokatif yang sangat kukenal. "Ramuanmu sudah benar-benar hilang pengaruhnya, atau kau butuh 'dosis' tambahan?"
Darahku mendidih. Aku mendongak, menatapnya dengan tajam meski nyaliku sebenarnya menciut. "Jangan mulai, Leo. Apa yang terjadi semalam itu murni kecelakaan. Aku tidak sadar. Aku tidak dalam kondisi waras."
Leo terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar mengejek sekaligus menggoda. Ia melangkah maju satu tindak, membuatku secara refleks mundur hingga punggungku membentur dinding koridor yang dingin.
"Tidak sadar? Kau sangat sadar saat memintaku untuk tidak berhenti," bisiknya, kini ia berada c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar. Ia mengangkat kameranya, lalu mengetuk layarnya dengan jari telunjuk. "Dan kau harus lihat hasil fotonya. Kau tampak... sangat luar biasa saat kehilangan kendali."
Wajahku terasa seperti disiram bensin dan disulut api. "Hapus semua itu, Leo! Aku serius!" suaraku meninggi, nyaris menjadi pekikan tertahan.
Leo menyeringai, sebuah seringai yang membuatku menyadari bahwa dia memegang kendali penuh atas reputasiku sekarang. Ia tidak tampak merasa bersalah sedikit pun. Sebaliknya, ia terlihat seperti predator yang baru saja memenangkan perburuan.
"Hapus? Sayang sekali, Rahma. Ini karya seni terbaik yang pernah kuambil. Dan kita punya kesepakatan, ingat? Kau butuh bantuanku untuk meredam gejolak jamu itu, dan aku butuh model untuk portofolioku."
"Aku tidak pernah menyetujui kesepakatan apa pun secara resmi!"
"Tubuhmu yang memberikan persetujuan semalam," potongnya cepat. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telingaku hingga napas hangatnya menyentuh kulitku. "Dan jangan lupa, jamu itu masih ada di rak dapurmu. Kau yakin tidak akan melakukan kesalahan yang sama malam ini?"
Aku terdiam, lidahku mendadak kelu. Ancaman terselubung itu membuat bulu kudukku berdiri. Sebelum aku sempat membalas, Leo mundur dan memberikan jalan padaku sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sampai jumpa di sesi berikutnya, Calon Apoteker," ucapnya sambil menutup pintu kamarnya kembali, meninggalkanku yang berdiri gemetar di koridor yang sepi.
Aku meremas pinggiran bajuku. Rasa takut kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah antisipasi yang tidak seharusnya ada. Aku tahu ini baru permulaan, dan Leo tidak akan melepaskanku begitu saja setelah dia melihat sisi diriku yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.
Namun, yang paling menakutkan adalah fakta bahwa di sudut hatiku yang paling dalam, aku merasa tubuhku mulai merindukan panas yang sama seperti semalam. Dan aku tahu, botol jamu di kamarku masih tersisa setengah.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!