Bunyi goresan pena merah di atas kertas HVS 80 gram itu terdengar seperti suara gergaji mesin yang sedang memutilasi masa depanku. *Srat! Srat! Sret!* Setiap coretan panjang dan meliuk itu seolah menyayat langsung ke ulu hatiku. Aku menahan napas, mencoba tidak berkedip, sementara keringat dingin mulai merembes dari pelipis, mengalir melewati pelipis, dan berhenti tepat di bingkai kacamata yang sudah melorot.
Di depanku, sebuah papan nama meja berbahan kuningan meng***p bertuliskan: **Dr. Hendra Sudirja, M.Si.** Sosok di baliknya tidak menoleh sedikit pun. Ia mengenakan kacamata baca yang bertengger di ujung hidung bangirnya, memberikan kesan predator yang sedang meneliti mangsa c****.
"Bara," suaranya rendah, berat, dan memiliki getaran yang sanggup membuat nyali mahasiswa tingkat paling berani sekalipun ciut seketika.
"I-iya, Pak?" jawabku, berusaha keras agar suaraku tidak terdengar seperti cicitan tikus terjepit pintu.
Pak Hendra meletakkan pena merahnya dengan bunyi *klak* yang final. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang berderit, lalu menatapku lewat celah di atas kacamatanya. Matanya tajam, sedingin es kutub, dan entah kenapa, aku merasa dia bisa melihat daftar dosa-dosaku sejak zaman TK hanya dengan sekali tatap.
"Kamu sudah revisi berapa kali?"
Aku menelan ludah. Jakunku naik turun dengan susah payah. "Ini... yang kelima belas, Pak."
"Lima belas," ia mengulanginya dengan nada datar, seolah angka itu adalah jumlah lalat yang baru saja ia tepuk mati. Ia membolak-balik tumpukan kertas setebal bantal sofa di depannya. "Lima belas kali revisi, dan kamu masih menyodorkan sampah ini ke meja saya?"
Jantungku rasanya baru saja merosot ke lambung. "Maaf, Pak. Tapi bagian mana yang harus saya perbaiki lagi? Saya sudah mengikuti semua saran Bapak di pertemuan minggu lalu. Teori pendukung sudah saya pertajam, metodologinya juga sudah saya ganti ke kuantitatif sesuai arahan Bapak..."
Pak Hendra mendengus. Sebuah suara yang lebih menyeramkan daripada raungan singa. Ia memutar kertas-kertas itu sehingga menghadap ke arahku. Hampir seluruh halaman di Bab 3 dan 4 tertutup tinta merah. Ada lingkaran besar, tanda silang raksasa, dan coretan zig-zag yang membuat hasil kerja keras begadangku selama dua minggu terlihat seperti buku mewarnai anak PAUD yang sedang tantrum.
"Masalahnya bukan di teori, Bara," ucapnya sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas kertas. "Masalahnya adalah... ini hambar. Tidak ada jiwanya. Skripsi itu ibarat sebuah masakan. Dan skripsi kamu ini seperti nasi putih yang direbus terlalu lama. Lembek, tidak berasa, dan bikin mual."
Aku mengerutkan kening, mencoba mencerna metafora kuliner yang tidak ma**k akal ini. "Maksud Bapak, datanya kurang valid?"
"Bukan."
"Analisisnya kurang mendalam?"
"Bukan."
"Lalu apa, Pak?" tanyaku, nyaris putus asa.
Pak Hendra menatapku lurus-lurus. "Kurang greget."
Aku terdiam. Otakku mendadak *hang*. Seandainya kepalaku adalah komputer, mungkin saat ini sudah muncul layar biru *Blue Screen of Death*. "Kurang... greget, Pak?"
"Iya. Kamu mahasiswa komunikasi, tapi tulisan kamu tidak berkomunikasi. Kamu bicara soal fenomena sosial, tapi di sini,"βia menepuk tumpukan skripsikuβ"semuanya terasa robotik. Saya tidak merasakan urgensinya. Saya tidak merasa ingin tahu apa hasilnya. Intinya, tulisan ini tidak punya daya pikat. Revisi total. Ganti sudut pandang atau cari fenomena lain yang lebih menantang. Jangan bawa yang seperti ini lagi ke ruangan saya kalau kamu masih sayang dengan biaya semesteranmu."
Ia kemudian meraih sebuah berkas lain, menandakan bahwa audiensiku telah berakhir tanpa ampun.
Aku memunguti lembaran-lembaran skripsiku dengan tangan gemetar. Kertas-kertas itu terasa lebih berat sekarang, seberat beban ekspektasi orang tuaku di kampung yang sudah menyiapkan syukuran kelulusan bulan depan. Saat aku berbalik menuju pintu, suara Pak Hendra kembali menghentikanku.
"Satu lagi, Bara."
Aku menoleh pelan, berharap ada secuil keajaiban. "Ya, Pak?"
"Rapikan kemejamu. Kamu terlihat seperti orang yang baru saja kalah judi di pasar malam. Bagaimana mau meyakinkan penguji kalau meyakinkan diri sendiri untuk rapi saja kamu tidak mampu?"
Aku hanya bisa mengangguk kaku, lalu keluar dari ruangan ber-AC dingin itu dengan perasaan seperti baru saja keluar dari ruang interogasi polisi. Begitu pintu tertutup, aku bersandar di tembok koridor yang sepi, menghirup napas panjang-panjang. Oksigen rasanya menjadi barang mewah sekarang.
"Kurang greget," gumamku sambil menatap coretan merah yang membentuk pola abstrak di halaman depan. "Dia pikir ini audisi bakat di televisi atau apa?"
Ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp ma**k dari Dion, sahabatku sekaligus satu-satunya orang yang tahu betapa hancurnya hidupku di bawah telapak kaki Pak Hendra.
*βGimana? ACC atau OTW (Ogah Terus Wisuda)? Inget, malem ini janji kencan buta lo! Jangan dibatalin lagi. Ceweknya cakep, Bar. Mahasiswi sastra katanya. Soft, manis, tipe-tipe idaman lo banget lah. Jam 7 di kafe biasa. No telat!β*
Aku menatap layar ponsel, lalu kembali menatap tumpukan kertas "sampah" di tanganku. Bayangan menjadi pengangguran abadi mulai menari-nari di depan mata. Jika aku gagal lulus semester ini, tamat sudah riwayatku. Tapi di sisi lain, kepalaku rasanya mau meledak. Aku butuh pengalihan. Aku butuh sesuatu yang manis untuk menetralisir rasa pahit dari tinta merah Pak Hendra.
Mungkin Dion benar. Mungkin aku butuh bertemu orang baru agar otakku kembali segar. Siapa tahu, gadis ini bisa memberiku inspirasi tentang apa itu "greget" yang diinginkan si Dosen Killer itu.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu merapikan kemeja kusutku sesuai "saran" terakhir Pak Hendra. Aku tidak tahu bahwa keputusan untuk mengiyakan kencan buta malam ini akan menjadi awal dari bencana yang jauh lebih besar daripada sekadar revisi skripsi.
Aku berjalan menuju parkiran dengan sisa-sisa tenaga, tanpa menyadari bahwa takdir sedang tertawa kecil di pojok koridor, bersiap menjegal langkahku dengan kejutan yang paling tidak ma**k akal dalam sejarah hidupku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!