Jam dinding di kamar kosku sudah menunjukkan pukul 02.15 pagi, tapi aroma kopi sachet ketujuh masih mengepul kuat di samping tumpukan kertas yang berantakan. Mataku terasa seperti ditaburi segenggam pasir—perih, merah, dan menolak untuk diajak berkompromi. Namun, setiap kali kelopak mataku memberat, bayangan wajah Pak Hendra yang sedingin es muncul di benakku, disusul senyum manis Tasya yang menjadi satu-satunya oase di padang pasir penderitaanku ini.
“Oke, Bar. Fokus. Demi masa depan, demi restu, demi nggak jadi pengangguran abadi,” gumamku pada diri sendiri, mencoba memompa semangat yang sudah kempis sejak revisi ke-10 tadi.
Di layar laptop, kursor berkedip-kedip seolah mengejek kecepatanku mengetik yang mulai melambat. Revisi ke-15 ini bukan sekadar perbaikan typo. Pak Hendra, pria yang kini aku ketahui sebagai calon mertua potensial (sekaligus algojo akademisku), meminta perombakan total pada metodologi penelitianku. Catatan pinggirnya yang ditulis dengan tinta merah menyala tampak seperti jejak darah di medan perang. *“Logika dangkal,” “Referensi prasejarah,” “Apakah Anda sedang menulis novel atau skripsi?”* Begitu bunyi komentar-komentarnya.
Aku menghela napas panjang, lalu jemariku kembali menari di atas keyboard. Aku harus membuktikan pada Pak Hendra bahwa aku bukan sekadar mahasiswa medioker yang hanya numpang lewat di jurusannya. Aku ingin dia melihat bahwa laki-laki yang mendekati putrinya adalah seseorang yang tangguh, gigih, dan tidak akan menyerah meski dihantam badai teori setebal lima ratus halaman.
Setiap kalimat yang kuselesaikan terasa seperti sebuah kemenangan kecil. Aku membayangkan momen besok pagi, saat aku meletakkan naskah bersih tanpa c**** ini di mejanya. Aku akan berdiri tegak, memberikan senyum penuh percaya diri, dan mungkin—hanya mungkin—dia akan memberikan anggukan kecil tanda apresiasi. Atau setidaknya, dia tidak akan melempar drafku ke keranjang sampah di depan mataku.
Pukul 03.30 pagi. Bab empat hampir selesai. Aku merasa seperti pahlawan dalam film aksi yang sedang menjinakkan bom. Sedikit lagi. Tinggal merapikan daftar pustaka dan menyelaraskan format margin yang sering kali menjadi alasan Pak Hendra untuk mengamuk.
“Dikit lagi, Sayang. Ayo, jangan menyerah sekarang,” bisikku pada laptop a**s tua kesayanganku yang suaranya sudah mulai menderu seperti mesin jet tempur. Kipasnya berputar kencang, mengeluarkan hawa panas yang membakar paha karena aku mengerjakannya sambil memangku laptop di atas ka**r.
Tiba-tiba, layar laptopku berkedip. Sekali. Dua kali.
Jantungku berhenti berdetak selama satu milidetik. “Eh, jangan bercanda, ya. Nggak lucu,” kataku, mencoba tertawa kecil meski tenggorokanku kering.
Aku segera meraih *mouse* untuk menekan tombol *save*. Namun, kursor di layar tidak bergerak. Panah putih kecil itu membeku tepat di atas kata ‘Kesimpulan’. Aku menggerakkan *mouse* dengan liar, mengetuk-ngetuk *trackpad*, tapi hasilnya nihil. Seluruh sistem operasi seolah memutuskan untuk melakukan mogok kerja massal di saat yang paling krusial.
Detik berikutnya, layar biru muncul. *Blue Screen of Death*.
“Enggak, enggak, enggak! Plis, jangan sekarang!” teriakku tertahan, tidak ingin membangunkan tetangga kos sebelah yang temperamental.
Aku menekan tombol *power* dengan putus asa, mencoba melakukan *forced restart*. Laptop itu mati. Sunyi. Aku menunggu beberapa detik, lalu menekannya kembali. Lampu indikator menyala sebentar, lalu terdengar bunyi *krek-krek-krek* yang sangat mengerikan dari arah *hard drive*. Bunyi itu seperti suara tulang yang patah, atau mungkin suara masa depanku yang hancur berkeping-keping.
Layarnya tetap hitam. Gelap gulita. Sepekat nasibku saat ini.
“Bangun, dong! Bangun!” Aku mengguncang-guncang laptop itu seolah sedang memberikan CPR pada korban tenggelam. “Tolong, Bar... jangan mati sekarang. File-nya belum aku pindahin ke *flashdisk*!”
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku, jauh lebih dingin daripada kopi yang sudah tidak kusentuh sejak tadi. Aku mencoba mencabut baterai, menunggu, lalu memasangnya kembali. Masih tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bau sangit samar-samar mulai tercium dari lubang udara laptop.
Aku jatuh terduduk di lant**, menatap benda mati di depanku dengan pandangan kosong. Semua kerja keras semalam suntuk, semua argumen brilian yang baru saja kutulis, semua harapan untuk memukau Pak Hendra demi mendapatkan restu untuk mengencani Tasya—semuanya terjebak di dalam sana. Di dalam mesin tua yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya.
Jam menunjukkan pukul 04.15 pagi. Jadwal bimbingan terakhir sebelum penutupan pendaftaran sidang adalah pukul 08.00 pagi ini. Jika aku tidak membawa draf revisi itu, Pak Hendra tidak akan pernah memberiku izin sidang di semester ini. Itu artinya aku akan telat lulus, menjadi beban orang tua lebih lama, dan yang paling mengerikan: aku akan dianggap sebagai pecundang di mata ayah Tasya.
Aku memandang sekeliling kamar yang berantakan, mencari solusi kreatif yang biasa muncul di saat-saat darurat. Mataku tertuju pada ponsel yang tergeletak di bantal. Hanya ada satu orang yang mungkin bisa membantuku dalam situasi g*** ini, meskipun menghubungi beliau di jam segini sama saja dengan menyerahkan leher ke algojo.
Tanganku gemetar saat mencari nama di kontak. Bukan nama Tasya, karena aku tidak ingin dia melihatku sehancur ini. Aku mencari satu nama yang selama ini menjadi mimpi burukku, namun kini menjadi satu-satunya harapanku.
Aku menatap layar ponsel, ragu apakah aku harus menekan tombol panggil atau lebih baik aku menghilang saja dari muka bumi ini. Namun, bayangan Tasya yang kecewa membuat keberanianku muncul dari sudut terdalam.
Baru saja jemariku akan menyentuh layar, sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*“Bara, saya dengar dari Tasya kamu sedang lembur revisi. Pastikan tidak ada alasan teknis yang menghambat kamu pagi ini. Saya tidak suka keterlambatan.”*
Pesan itu datang dari Pak Hendra. Seolah dia memiliki indra keenam yang bisa mencium kegagalanku dari jarak jauh. Napasku tercekat. Aku menatap laptopku yang mati total, lalu menatap pesan singkat yang terasa seperti vonis mati itu.
Pilihan apa yang aku punya? Berbohong dan tamat, atau jujur dan mungkin dikuliti hidup-hidup?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!